Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Kalam; Prinsip dan Metodologi Salafiyah (VII)

 1345918858

Salafiyah adalah gerkan pembaharuan yang menginginkan umat islam kembali kepada al quran dan al sunnah serta dalam metodologi untuk memahami keduanya  kembali kepada generasi salam salih. Yang dimaksudkan dengan generasi salaf adalah genersi pada masa nabi, sahabat dan para tabiin.[1]

 

Menurut mereka, bahwa generasi salaf adalahgenerasi percontohan. Mereka msih menggunakan pedoman al quran serta sunnah nabi sebagai petunjuk dalam memahami nas al quran. Para sahabat sama sekali belum terkontaminasi dengan berbagai pikiran asing yang masukdalam wacana pemikiran umat islam.

 

Diantara prinsip dasar salafiyah adalah

  1. bahwa ushuludin dan furu’nya telahd iterangkan oleh rasulullah saws.
  2. bahwa sesungguhnya generasi awal islam merupakan generasi terbaik. Hal ini mereka sandarkan dari firman allah (QS. Al Taubah: 100) serta hadis nabi, “sebaik-baik generasi adalah generasi dimana aku di utus jepada mereka,kemudian generasisetelahnya kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”. Kesimpulan dari hadis di atas adalah bahwa rasulullah merestui generasi pertama dan setersunya sebagaimana yang tercantum dalamhadis.
  3. bahwa sesungguhnya yang terbaik adalah menggunakan argumentasi dan dialog sebagaimana yang digunakan oleh al quran. Mengekspresikan tentang keimana akan lebih baik jika menggunakan ungkapan al quran. Karena ini merupakan sarana yang digunakan oleh para rasul ketika mereka berdialog dengan bangsanya masing-masing.
  4. bahwa sesungguhnya ayat-ayat allah seluruhnya sesuai dengan akal. Maka tidak ada benturan antara akal dengan nakal.

 

Metodologi salafiyah sebagaimana yang diletakkan oleh syaikh islam ibnu taimiyah terdiri dari tiga pemikiran penting

 

Pertama: Mendahulukan naql di atas akal.

 

Menurut mereka, kaidha ini diambil dari tradisi salaf saleh dalam memahami dan menafsiran nash. Mengenai sifay tuhan, mereka tetap mempercayainya namun tanpa menetapkan bentuknya bagaimana. Demikian juga dalam berbagai persoalan kalam lainnya, mereka menjadikan salaf saleh sebagai teladan dalam berfikirdan beramal. Maka al quran dan al hadis yang paling pertama, selanjutnya meneladani para sahabat kedua. Hal ini dikarenakan wahyu tuhan turun di antara mereka maka sudah selayaknya jika mereka lebih tahu mengenai takwilnya dibandingkan dengan genrasi sesudahnya. Dalam berbagai urusan agama (ushuludin, mereka itifak dan tidak pernah ada perbedaan pendapat.dan juga belum muncul golongan yang menyebarkanbidah dan hanya memahami al quran dengan hawa nafsu.

 

Maka keistimewaan para pengikut salaf adalah bahwa mereka ini ahli hadis dan para penghafal hadis ahli rawinya dan juga pengikutnya. Karena memang inilah yang semsetinya dilakukan oleh orang mukmin.

 

Mereka berbeda dengan para mutakallimun karena mereka ni memulai dengan syariat kemudian akal akan tuduk di bawahnya. Dengan demikian, mereka ini lebih mendahulukan riwayah dari pada dirayah. Meski demikian, mereka tetap membela diri dengan mengatakan bahwa akal selamanya tidak akan pernah berbenturan dengan nakal. Dan bahwa orang terdahulu lebih mampu memahami terhadap syariat dibandingkan dengan selainnya. Sesuatu yang mkkul dalam pandangan kaum salaf adalah sesuatu yang sesuai engan petunjuk syariat. Sementara yang majhul adalah sesuatu yang bertetangan dengan syariat. Dan tidak cara lain untuk mengetahui petunjuk tersebut selain dengan atsar mereka.

 

Ushul akidah pada mereka sangat nampak kaitannya dengan iman kepada sifat allah taala dan asma allah tanpa menambahi atau mengurangi sedikitpun dan mereka juga tidak akan melakukan takwil yang bertentangan dengan zahir nash. Mereka juga tidak akan menyerupakan dengan sifat mahluknya. Artinya mereka akan memahami apa adanya sebagaomana termaktun dalam kitab suci dan sebagaimana diterangkan oleh rasulnya.

 

Dalam konteks ini harus dipahami mengenai bagaimana mereka menempatkan akal dibawah naal. Bukan sebaliknya. Dengan demikian, mereka sangat berbeda dengan para pendahulunya dari kalangan muktazilah maupun azyairah di mana mereka itu mendahulukan akal serta menakwilkan berbagai nash al quran.[2]

 

Kedua: Menolak Praktek Takwil

 

Takwil menurut para mutakallimin adalah secara umum adalah menjadikan akal sebagai landasan dalam interpretasi mendahulukannya dengan syara’. Jika terjadi benturan antara akal dengan nakal maka nash harus ditakwil sehingga dapat sesuai dengan akal.

 

Hanya saja, para pengikut salaf memandang berbeda. Mereka menghukumi segala sesuaitu dengan mencukupkan quran dan sunnah. Dengan demikian, pemahaman akal harus menyesuaikan keduanya. Karena kata akaldlam al qurandan al sunnah memiliki makna sesuatu yang dilakukan olehseorang yang berakal, baik berupa irdh atau sifat. Dengan demikian, akal bukalah seperti terminologi para filosof yang mengartikannya dengan sesuatu yang berdiri sendiri, menurut dr. Al ghamrawi bahwa sesungguhnya akal lemah untuk mengetahui segala sesuatu mengenai hakekat yang disebutkan oleh agama. Karena agama bersal dari sang pencipta dan agama telah mencakup mengenai kajian fitrah baik yang telah lalu aupun yang akan datang secara global sesuai dengan himah ketuhanan. Dan dengan detail jika memang itu menuntut untuk diterangkan secara detail. Sementara akal yang dapat mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan fitrah belum diciptakan tuhan. Jika kita perhatikan akal manusia secara menyeluruh bukan akal secara individu maka sesungguhnya tidak ada pengetahuan manusia yang mengetahusi segala sesuatu. Dan penemuan ilmiyah hingga saat ini terus berkelanjutan. Dan ini menunjukkan bahwa meski manusia makin hari makin bertambah ilmu pengetahuannya, namun tetap saja manusia manusia tidak akan pernah sampai pada penghujung ilmu pengetahuian.

 

Ketiga: Istidlâl dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

 

Al quran al hakim memiliki cara tersendiri dalam beristidlal. Di antaranya dalah menganjurkan kepada umat manusia untuk merenungi ciptaan tuhan mengenai langit dan bumi. Juga al quran menganjurkan kepada umat manusia agar selalu menyingkap terhadap rahasia makhluk ciptaannya serta sangat memperhatikan ilmu dan ulama.

 

Jika kita melihat kembaliu sejarah yang tertulis dalam sejrah islam terdahulu maka kita akanmeemukan bahwa sesungguhnya generasi islam pertama hanya mencukupkan pada metodologi yang digariskan oleh al quran dan al sunnah saja dalam segala sesuatu. Mereka memperhatikan secara serius mengenai bacaan al quran dan hafalan al quran jemudian mereka menafsirkannya dan melaksanakan hukum-hukumnya dan menggali kaidah logis dari al quran serta al quran sebagai sandaran dalam mengetahui hakekat alam gaib.

 

Berbagai persoalan seputar ilmu kalam dan filsafat sesungguhnya telah dijelaskan oleh al quran. Di dalamnya juga telah diterangkan mengenai eksistensi ketuhanan besera sifat-sifatnya, persoalan tauhid dan kenabian, dan hari akhir. Juga telah diterangkan mengenai manusia, awal penciptaannya, perjalanan manusia, posisi manusia dalam kosmos, cerita mengenai umat terdahulu serta sikap mereka terhadap para nabi, menerangkan mengenai alam ghaib seperti malaikat dan jin, dan lain sebagainya yang merupakan persoalan pelik yang akan selalu dipertanyakan dalam wacana pemikiran umat manusia.

 

Sementara menganai metodologi burhani, dalam al quran telah disinggung mengenai hal-hal sebagaimana berikut.

 

  1. Standar Al-Qur’an.

 

Menurut ibnu taimiyah bahwa qiyas yang benar adalah timbangan yang diturunkan dari allah yang digunakan untuk beristidlal dengan akal;. Diantara sifat akal yang paling agung adalah mengetahui sesuatu yang sama atau mengetahui sesuatu yang berbeda. Jika akal melihat sesuatu memiliki kemiripan, maka ia akan mengatakn bahwa ini seperti ini sehingga akal akan memberikan ketetapan hukum yang sama.

 

Qiyas yang benar enurut al quran juga keadilan sebagaimana diturunkan allah taala. Maka tidak boleh bertentangan antara kitab dengan timbangan keadilan. Maka tidak akan pernah terjadi benturan antara qiyas yang benar dengan apa yag telah ditetapkan oleh para rusul. Karena memang tidak boleh bertentangan antara dalil akli dan nakli.

 

  1. 2.      Qiyas ‘Ûla

 

Hal terpenting yang menjadi kritik pedas ibnu taimiyah terhadap logika aristoteles adalah bahwa qiyas aristoteles jika dijadikan sebagai qiyas untuk menentukan eksistensi ketuhanan, maka ia tidak menunjukkan pada kehususan tuhan itu sendiri. Namun menunjukkanpada hal lain yang sama antara dia dan lainya. Karena qiyas syumul antara satu individu dengan lainnya itu sama. Sementara tuhan itu tidak seperti sesuatu.

 

Dan tuhan tidak dapat disamakan dengan sesuatu apapun. Persoalan wujud mutlak biasa dijadikan sebagai tema dalam filsafat al ula.

 

Sesungguhnya apa yang mereka sebut dengan wujud (ontologi) yang merupakan berkaitan erat dengan tema ketuhanan dalam dunia filsafat. Bisa jadi setiap sesuatu yang maujud atau sebagian dari sesuatu itu. Namun karena eksistensi al wajib itu lebih sempurna dari eksistensi yang berkaitan dengan mumkinat meski keduanya memiliki persamaan dala wujud. Wujud itu merupakan kata yang memiliki makna muytarak namun wujud kulliy hanya kulliyan saja dalam otak manusia dan tidak diluar otak manusia.

 

Jika ini berkaitan dengan pengetahuan tertinggi dlam dunia filsafat namun pengethuan tertinggi tersebut di dunia filsafat pengetahuan atas sesuatu yang berada di luar. Namun pengetahuan dengan sesuatu yang memiliki titik kesamaan antara seluruh wujud, yaitu apa yang disebut dengan wujud. Dan hal ini seperti juga dengan apa yang disebut dengan sesuatu, zat, hakekat, nafs, dan makna lainnya/.

 

Menurut ibnu taimiyah bahwa ilmu seperti ini bukan merupakan ilmu dengan maujud yang berada di luar, bukan untuk sang khalik ataupun makhluk. Namun ia merupakan ilmu pengetahuan dengan perkara yang musytarik kulliy yang antara maujudat itu memiliki titik-titikpersamaan (tasytariku). Yang tidak ada selain hanya dalam otak mausia saja.

 

Dan hal ini berbeda dengan ilmu pengetahuan a’la yang dimiliki oleh kaum muslimin, sesungguhnya Itu merupakan pengetahuan mengenai essistensi ketuhanan yang Tuhan sendiri kebihtinggi dari selainnya dan dari segala segi. Dan tentunya ilmunya juga lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu apapun juga. Dan ilmu tentangnya merupakan asal dari segala ilmu. Dan tema sentral dari ilmu ini adalah wujud mutlak yang kulli yang dibagi menjadi wajib dan mumkin, qadim dan muhdis dan jauhar dan ‘ird.

 

  1. Iktibâr

 

Dalam al quran juga memberikan bagian dari qiyas thar dan qiyas ‘aks. Sebagaimana yang diungkapkan oleh imam ibnu taimiyah. Menurut ibnu taimiyah bahwa kisah adalam al quran merupakan bukan hanya sekedar cerita yang kosong dari nilai. Namu kisah al quran mengandung pelajaran yang sangat dalam

 

Qiyas thar di sii adalah bahwa jika ada sesuatu yang terjadi karena ada sesuatu yang lain, jika hal itu berulang maka akan terjadi akibat yang sama. Jika al quran menceritakan tentang kehancuran kaum ad karena mereka kafir terhadap tuhan, maka jika hal ini juga terjadi pada suatu kaum dan pada masa yang berbeda, maka kehancurn juga akan menimpa mereka.

Demikian juga sebaliknya, jika mereka baik, keamana dan kebahagiaan juga akan menimpa mereka. Inilah yang disebut denganqiyas ‘aksi.

 

  1. Luzûm

 

Meurut ibnu Taimiyah bahwa al-Quran dalam banyak hal menggunakan argumentasi luzum, yaitu bahwa sesuatu (malzum) menunjukkan pada sesuatu yang lain (lazim). Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa wujud alam raya, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Namun alam raya menunjukkan bahwa ada zat yang menciptakannya. Pencipta itulah yang kemudian disebut sebagai tuhan Allah. Ibnu timiyah memberikan contoh dalah surat al thur ayat 52-53)[3]

 

 

Salafiyah dan Gerakan Politik

 

Salafiyah sebagai sebuah partai politik juga memiliki pandangan yang berbeda tentang sistem pemerintahan, baik mengenai kepemimpinan, keadilan ataupun sistem ekonomi. Bahkan ibnu timiyah sendiri menulis buku khusus tentang politik dengan judul, al siyasah al syariyah”. Buku inilah yang selanjutnya dijadikan pijakan partai salafiyah dalam berbagai langkah politik selanjutnya. Kareba dalam siyasah syariyah sangat mencakup, yaitu berkaitan dengan kepemimpinan, syarat seorang pemimpin, peradilan, peperangan, sistem perekonomian, amar makruf dan nahi mungkar dan hal lain yang berkaitan dengan ketatanegaraan, maka penulis hanya akan berbicara mengenai beberapa hal saja, yaitu kepemimpinan dan amar makruf nahi mungkar.

 

1. Kepemimpinan

 

Mengenai kepemimpinan, Ibnu taimiyah mengatakan bahwa keberadaan pemimpin dalam dunia Islam hukumnya wajib. Bahkan secara tegas ia mengatakan, enam puluh tahun berada dalam kekuasaan pemimpin yang zhalim, jauh lebih baik daripada satu malam tanpa seorang pemimpin”. Alasan ibnu taimiyah adalah jima suatu masyarakat hidup tanpa seorang pemimpin, maka madharat yang akan menimpa mereka jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kepemimpinan seorang yang zalim. Banyak hak dan kewajiban dalam masyarak aan terbengkalia.

 

Sultan atau kekuasaan menurut ibnu Taimiyah wakil Tuhan di muka bumi. dalam ungkapan lain, ia mengatakan bahwa pemimin adalah pembantu bagi rakyat. Ia harus melayani apa yang dibutuhkan rakyat. Ibnu taimiyah menyetir sebuah hadis yang mengatakab bahwa “tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap-tiap kamu akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin”.

 

Dengan demikian, maka seorang pemimpin harus tahu hak dan kewajiban antara ia sebagai pemimpin dan rakyat sebagai orang yang dipimpin. Pemimpin bertugas menerapkan dan mengawasi realisasi syariat Islam. Karena tugas seorang pemimpin tidak ringan, maka ibnu taimiyah memberikan beberapa syarat kepemimpinan. Pertama, seorang pemimpin harus amanah Dan kedua, seorang pemimpin harus kuat.

 

Mengenai syarat pertama, yaitu bahwa seorang pemimpin harus amanah, karena tugas utama pemimpin  adalah menciptakan keadilan. Sementara keadilan alan sulit terealisasikan jika tidak dipegang oleh orang yang amanat. Menurutnya, pemimpin yang amanah, maka ia akan memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang digariskan islam. Sikap amanah ini tumbuh jika seorang pemimpin selalu takut kepada allah swt., tidak menjual ayat-ayat allah dengan gemerlapnya dunia, meninggalkan takut dengan manusia.

 

Mengenai amanah ini, ibnu taimiyah menyetir hadis rasulullah yang mengatakan bahwa qadhi ada tiga. Dua masuk neraka dan satu masuk surga. Seorang qadhi yang tahu kebenaran, namun kemudian memberikan ketetapan hukum berbeda dengan prinsip kebenaran, maka ia masuk neraka. Dan seorang qadi yang memberikan ketetapan hukum sementara dia bocoh maka ia masuk neraka. Dan seorang qadhi yang mengetahui kebenaran dan memberikan ketetapan hukum sesuai dengan kebenaran maka dia itu yang msuk surga.

 

Sementara mengenai syarat kedua, yatu seorang pemimpin haruslah seorang yang kuat, ibnu taimiyah mengatakan bahwa seorang pemipmpinharus kuat. Pemipmpin harus memiliki sikap tegas. Hal ini akan snagat dibutuhkan terutama jika negara dalam keadaan kritis, atau dalam kondisi perang. Kuat sendiri memiliki banyak bagian. Kekuatan dalam medan perang diperoleh dari sikap berani yang telah tertanam dalam hatinya serta dari pengalaman di medan peranga. Kekuatan dalam memimpin rakyat tumbuh akibat pengetahuan atas keadilan sebagaimana yang ditunjukkan oleh al quran maupun al sunnah.

 

Hanya yang menjadi problem adalah ketika tidak ada pemimpin yang memiliki dua syarat tersebut. Menurut ibnu taimiyah, jika memang tidak ada orang yang memenuhi syarat, maka kondisi sosial kemasyarakatan akan sangat menentukan priorotas antara amanah dengan kekuatan atau ketegasan.

 

Jika negara dalam keadaan tidak stabil, seperti dalam perang, maka seorang yang tegas meski ia tidak amanah harus didahulukan. Ia menyetir apa yang dikatakanoleh imam ahmad yang mengatakan, “ketegasannya untuk kemaslahatan umat islam, sementara akibat yang akan ditimbulkan dari sikap tidak amanah akan ditanggung sendiri.

 

Jika negara dalam kondisi stabil, dan rakyat lebih memerlukan pemimpin yang amanah, maka amanah yang harus didahulukan.

 

Ibnu taimiyah juga mengatakan, bahwa jika tidak ada yang memiliki dua sifat tersebut, dapat dilakukan dengan cara penggabungan. Yaitu, pemimpin dari orang yang memiliki ketegsan, sementara wakil dari seorang yang memiliki sikap amanah. atau, jika pemimpin amanah,maka ia juga dapat mengangkat wakil dari orang yang memilkki sikap tegas.

 

Dalam membentuk kabinet, atau mengangkat para gurbenur, ibnu taimiyah melarang pemimpin memilih berdasarkan kerabat dekat atau sahabatnya sendiri. Menurutnya, kabinet harus dipilih berdasarkan standar kemampuan atau kelayakan (al ashlah). Standar kelayakan adalah jika ia dianggap mampu untuk mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan (urusan dunia), dan juga mampu menjaga eksistensi pelaksanaan ajaran agama. Jika kerabat dijadikan standar, ditakutkan akan berpengaruh dalam memberikan berbagai keputusan kenegaraan.[4]

 

2. Amar Makruf dan Nahi Munkar

 

Amar makruf dan nahi mungkar memiliki posisi yang sangat penting dalam aliran politik salafiyah. Sebagaimana telah disinggung sebelunya bahwa pembentukan sebuah negara dimaksudkan untuk menciptakan keadilan dan juga untuk menegakkan amar makruf dan nahi mungkar. Negara sudah semenstinya untuk menerapkan syariat islam secara menyeluruh. Yang dimaskdu dengan makruf adalah segala amal perbuatan yang dianggap baik oleh syariat.[5] Menurut ibnu qayim, bahwa syariat semuanya bersifat baik. Jika ada hal yang bertenangan dengan kebaikan, berarti itu bertentangan dengan syariat dan termasuk dalam golongan kemungkaran. Menurut ibnu taimiyah, dengan menyetir ayat al quran,. Bahwa keistimewaan umat islam adalah karena posisi amal makruf dan nahi mungkar ini.

 

Secara tegas, beliau mengatakan bahwa amar makruf dan nahi munkar adalah wajib kifayah. Jika sebagian orang telah melakukannya, berarti akan menggugurkan seluruh dosa bagi umat islam secara menyeluruh. Ibnu taimiyah juga mengatakan bahwa melarang terhadap tindak kemungkaran dibebankan pada setiap mukallaf namun sesuai denga kemampuan yang dimili, yaitu dengan kekuatan, ucapan atau hanya dengan hati saja. Segala bentuk nahi munkar tersebut akan berimplikasi positif dalam masyarakat.

 

Menurut ibnu taimiuyah,baha sebab terjadi kerusakan dan kehancuran peradaban umat terdahulu adalah karena amar makruf dan nahi mungkar tidak ditegakkan dalam tatanan masyarakat. jika hal itu juga terjadi pada umat islam, maka dengan mengambil kiyas al thard, kehancuran juga akan menimpa umat islam.

 

Kaitannya dengan ini, negara memiliki peran yang sangat penting. Negara memiliki kekuatan untuk melakukan tindakan amar makruf dan nahi mungkar. Negara harus selalu mendukung terhadap segala sesuatu yang akan mendatangkan pada tindakan makruf. Namun negara juga harus menindak tegas berbagai kegiatan yang dianggap melanggar nilai dan norma yang bertentangan dengan syariat islam. Setiap pelaku tindak kemungkaran akan dikenakan sansi, baik sangsi tersebut berupa hudud dan qishas, ataupun berupa sangti ta’zir. ibnu taimiyah dalam siyasah syariyah menjelaskan secara rinci bentuk pelanggaran beserta hukuman yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap syariat islam. Negara juga harus menutup segala sarana yang kiranya dapat menjerumuskan umat islam pada tindakan kemungkaran.[6]

 

Sikap diatas sangat nampak dalam pemerintahan saudi arabiyah yang menganut paham wahabi sebagai kepanjangan tangan terhadap pemikiran salafiyah ibnu taimiyah. Pemerintahan saudi arabiya ketika awal berkuasa langsung meratakan kuburan para sahabat. Mereka khawatir bahwa nisan kuburan para sahabat akan menimbulkan tindakankhurafat atau bahkan syirik dikalangan kaum muslimin. Saudi arabiya juga menerapkan hukuman qisas dan hudud bagi pelanggar hukum syariat. Hanya saja, penerapan syariat islam di saudi arabiya masih sangat parsial dan belum menyeluruh. Namun kiranya cukup untuk dijadikan sebagai sampel terhadap realisasi partai salafiyah yang sedang berkuasa.

 

Persoalan kemudian muncul ketikan tindakan mungkar tersebut datang justru dari pemerintah, apa yang harus dilakukan oleh rakyat? Ibnu taimiyah mengatakan bahwa tugas rakyat atau partai oposisi dalah mengingatkan pemerintah agar berhenti dari tindakan mungkar tersebut. Ia dapat melakukannya dengan cara baik-baik sesuai dengan tingkatan kemampuan masing-masing. Jika ternyata tidak mempab, karena pemerintah sangat otoriter dan diktator, apa yang harus dilakukan partai oposisi?

 

Di sini nampak sekali perbedaan antara prinsip politik salafiyah dengan muktazilah. Jika muktazilah menyerukan pada revolusi bersenjata, maka sebaliknya, salafiyah memerintahkan rakyat agar bersabar. Keluar dari imam tidak diperbolehkan. Alasan yang dikemukakan ibnu taimiyah adalah bahwa revolusi bersenjata hanya akan menimbulkan madharat yang lebih besar.  Fitnah merupakan kondisi yang kacau balau dan kondisi seperti ii banyak terjadi kezaliman yang jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kondisi stabil meski pemeriontah bersikap zali.[7]

 

Ibnu taimiyah juga mengatakan bahwa rakyat tidak boleh melakukan pemberontakan terhadap pemerintah islam. Ia berpedoman pada hadis nabi yang mengatakan bahwa setiap yang keuar dari ketaatan (terhadap imam), dan keluar dari jamaah, dan ia mati, maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah. [8]

 

3. Prinsip Syura

 

Bagi salafiyah, pemeritahan Islam tidak boleh bersifat otorier. Pemerintahan harus berlandaskan pada prinsip musyawarah. Secara jelas ibnu taimiyah mengatakan bahwa ulul amri dibagi menjadi dua, yaitu umarah sebagai pemerintah dan ulama. Menurutnya, jika keduanya baik, maka rakyat semuanya akan baik.

 

Musyawarah dilandaskan pada iktikad bersama, bahwa pemerintahan islam dalam segala hal harus sesuai dengan al quran dan al sunnah. Dalam musyawarah, ketika ada berbagai pendapat, maka yang paling sesuai dengan al quran  al sunnah yang harus di ikuti.[9]

 

  1. Bî’ah.

 

Salafiyah juga mengaggap bahwa imam harus mendapat dukungan rakyat. Bentuk dari sikap dukungan rakyat ini adalah dengan biah sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat dan generasi awal islam. [10]



[2]              qawaid al manahij al salafi hal. 204. menurut merka, asyariyah mendahulukan akal dibandingkan dengan nakal.

[3]              Qawaid al manhaj, hal 228.

[4]              Fatawa hal 147.

[5]              Fatawa jilid 28 71

[6]              fatawa jilid 28 hal 71

[7]              al islam hal 100

[8]              maju fatawa jilid 28 hal. 266. lihat juag, al islam 103.

[9]              Fatawa 28 hal 214

[10]           al islam 1001

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seventeen − 11 =

*