Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Kalam; Ibnu Taimiyah dan Gerakan Salafiyah (VI)

 

12

Shaikh Islam Taqyuddin ibnu Taimiyah, lahir di Hiran pada hari senin 10 Rabiul Awal 661 H.[1]  Ia hidup di lingkungan keluarga yang cinta ilmu pengetahuan. Kakeknya terkenal sebagai seorang Ahli Hadis terkemuka, sementara ayahnya adalah serang Mufti. Lingkungan yang sangat kondusif seperti ini tentu berpengaruh terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan pemikiran dari berbagai cabang ilmu keislaman. Tidak heran, jika di kemudian hari, Ibnu Taimiyah menjadi ulama ensiklopedi. Ia menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti tafsir, logika, linguistik, hadis, fikih, ushul fikih, sejarah, filsafat ilmu kalam dan lain sebagainya. Ia juga terkenal sebagai seorang yang penyabar dan pemberani. Masa hidupnya hanya dihabiskan untuk mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan. Ia juga seorang ulama yang zuhud, berani mengatakan kebenaran meski bertentangan dengan masyarakat atau pemerintah.

 

Ia sangat kritis terhadap berbagai aliran pemikiran, seperti filsafat, tasawuf, ilmu kalam, fikih dan lain sebagainya. Sikap kritis tidak hanya pada sesuatu yang bersifat keilmuan, namun juga pada konsisi sosial masyarakat yang dianggapnya sangat lemah. Masyarakat mengalami beban psikologis yang sangat mendalam akibat serangan tentara Mongolia yang meluluhlantakkan berbagai wilayah Islam. Bahkan Bagdad sebagai ibu kota Khilafah Islamiyah dapat dihancurkan. Keputusasaan ternyata tidak hanya berkembang dalam masyarakat, namun merasuk pada tokoh penguasa kerajaan. Hal ini diperparah dengan kondisi wilayah Islam yang sudah menjadi berbagai negara kecil yang saling bertikai.

 

Ibnu taimiyah berusaha membangkitkan semangat juang umat Islam. Ia yakin bahwa kemenangan psti akan beradad tangan umat Islam. Namun kemenagan hanya dapat diraih manakala masyarakat mengikuti generasi pertama Islam yang dianggap sebagai generasi terbaik dalam sejarah dunia. Ibntu Taimiyah tidak hanya berteori, namun juga menjadi pelopor perlawanan umat Islam. Ia ikut bergabung dengan tentara Islam melawan Tatar.

 

Umat Islam pada masa Ibnu Taimiyah juga sedang mengalami mas kemunduran. Hasil kreasi ulama sudah menurun. Bid’ah, Khurafat, Taqlid dan bahkan berbagai praktek syirik berkembang dalam masyarakat. melihat kondisi seperti ini, Ibnu Taimiyah merasa terpanggil untuk mengadakan pembaruan, meluruskan akidah Islam yang dianggap sudah menyeleweng dan mengembangkan kembali upaya ijtihad. Ibnu taimiyah menyeru umat islam agar merujuk langsung pada al-Quran dan al-Sunnah serta meninggalkan taklid buta yang hanya akan menimbulkan kejumudan dalam masyarakat.

 

Sebagai gerakan baru yang menentang berbagai praktek sosial dalam kemasyarakatan, tentu mendapat berbagai tantangan. Reaksi balik banyak bermunculan dari masyarakat. ide-ide pembaharuan banyak ditentang. Meski demikian, semangat Ibnu Taimiyah tidak surut. Akibat sikap skritis ibnu Taimiyah ini, maka ia sering keluar masuk penjara. Namun dalam penjara waktu digunakan untuk menulis dan membaca. Ibnu taimiyah meninggal pada malam hari Senin, 29 Dzul ka’dah 728 H.



[1]              I,mu hadid hal 37

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × two =

*