Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Kalam; Asy’ariyah dan Maturidiyah (IV)

 Kelompok yang mengatasnamakan Fig_9_Islamic_manuscripts_on_chesssebagai Ahlu Sunnah terdiri dari dua partai besar, yaitu Asy’ariyah pengikut Abu Hasan al-Asy’ariy dan Maturidiyah pengikut Abu Mansur al-Maturidiy. Pada mulanya, partai Ahlu Sunnah adalah partai penguasai pada masa Umayyah. Baik Asy’ariyah maupun Maturidiyah berasal dari satu induk partai, yaitu Jabbariyah pimpinan Jahm yang sebelumnya mendapat dukungan penuh pemerintah Umayyah. Hanya saja partai Jabbariyah terlalu fatalistik karena sama sekali tidak mengakui kebebasan berkehendak, memilih dan berbuat sesuatu bagi manusia. Segala perbuatan manusia langsung dinisbatkan kepada Tuhan. Dari sini pengikut Jahm sering disebut dengan Jabbariyah murni. Sementara Asy’ariyah dan Maturidiyah masih mengakui kehendak, keinginan dan perbuatan manusia meski secara terbatas. Dari sini mereka sering disebut dengan Jabbariyah moderat.

 

Namun partai ini berdiri secara independen pada masa Mutawakil berkuasa. Mutawakil sendiri merupakan pengikut partai baru tersebut. Ia berjasa besar karena berhasil menumbangkan partai Muktazilah yang sebelumnya menjadi partai penguasa, namun menjadi pemerintah yang otoriter. Mutawakil kemudian mengangkat para fuqaha dan ahli hadits untuk bergabung dalam pemerintahannya. Dan sebagai konsekwensi logis, ia menjauhkan para politisi dari kalangan partai Muktazilah. Sikap otoriter partai Muktazilah ketika berkuasa mengakibatkan partai tersebut kehilangan simpati dan pengikut dalam masyarakat.

 

Sebagai partai baru yang sebelumnya pernah tertindas pada masa partai Muktasilah berkuasa, Ahlu Sunnah semakin rajin dalam mencari titik-titik kelemahan yang terdapat dalam partai Muktazilah. Apalagi saat itu partai Ahlu Sunnah sedang dalam tampuk kekuasaan, sementara partai Muktazilah menjadi partai oposisi yang semakin kehilangan pengikut.

 

Sejarah berdirinya Asy’ariyah dan Maturidiyah

 

Pada mulanya, pemahaman aqidah Islam yang dikembangkan partai Ahlu Sunnah sangat literalis dalam kajian nash manqûl, baik al-Qur’an maupun al-Sunnah.[1] Jika terjadi persoalan pemahaman, mereka akan mengembalikan kepada struktur bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan nash manqûl tersebut. Namun jika masih menemui kesulitan juga, mereka akan tawaqquf. Di sini penggunaan logika dalam pemahaman nash sangat minim sekali.

 

Namun kemudian pemahaman literalis tersebut diperbaharui oleh Abu Hasan al-Asy’ariy dan Abu Manshur al-Maturidy. Meski mereka masih berkutat pada nash manqûl sehingga pemahaman mereka tidak jauh berbeda dengan pemahaman partai Ahlu Sunnah pada masa Umayyah, namun mereka juga menggunakan logika sebagai penguat terhadap argumentasi manqûl tersebut.

 

Dua partai baru tersebut, yaitu Asy’ariyah dan Maturidiyah  berdiri pada akhir abad III H. atau awal abad IV H. Berdirinya dua partai tersebut yang merupakan pembaharu dari partai Ahlu Sunnah mendapat sambutan yang cukup hangat dari para fuqaha dan muhadditsîn. Keduanya dianggap sebagai angin segar untuk mengembalikan misi partai dalam mengembangkan wacana kalâm maupun wacana politik. Apalagi mereka mendapat dukungan kuat dari pemerintah dan juga dari umat Islam secara umum.

 

Pendiri partai Maturidiyah adalah Abu Mansur al-Maturidi yang dilahirkan di desa Maturid dari daerah Samarqand Asia Tengah. Dalam fiqh, ia menganut madzhab Hanafi. Ia terkenal dengan orang yang sangat mendalami ilmu agama. Ia meninggal pada tahun 322 H.

 

Adapun pendiri partai Asy’ariyah adalah Abu Hasan al-Asy’ari yang dilaharikan di Bashrah tahun 270 H. Sebelumnya ia adalah pengikut setia partai Muktazilah. Namun kemudian ia mengasingkan diri dan merenungkan kembali prinsip-prinsip partai Muktazilah yang selama ini diikutinya. Kemudian ia keluar dari pengasingan dan mendirikan partai baru yang sebenarnya hanyalah pembaharuan dari partai Ahlu Sunnah. Tidak hanya sampai di situ, ia bahkan mengkritik prisip dasar partai Muktazilah.

 

Dari sini tidak mengherankan jika partai baru tersebut segera mendapat dukungan penuh dari kalangan fuqahâ dan muhadditsîn. Dengan serta merta, sebagian besar mereka bergabung dengan Asy’ariy dan mengikuti metode yang digunakan oleh pendiri partai tersebut. Ia meninggal pada tahun 330-an H.

 

Antara dua partai Asy’airyah dengan Maturidiyah tidak banyak terjadi perbedaan. Jika pun ada, porsinya sangat kecil.

 

Metodologi Asy’ariyah dan Maturidiyah

 

Secara singkat, metodologi yang digunakan partai Ahlu Sunnah sebagai berikut:

  1. Memposisikan nash manqûl, baik al-Qur’an maupun al-Sunnah sebagai prioritas dalam landasan argumentasi. Argumentasi dengan logika hanya dijadikan sebagai pendukung terhadap argumentasi nash manqûl.
  2. Dalam memberikan interpretasi terhadap nash al-Qur’an atau al-Sunnah banyak mengambil pendapat para sahabat.
  3. Memberikan porsi khusus terhadap pendapat para tâbi’în.
  4. Berpegang kuat terhadap pandangan ulama hadits.

 

Inilah sekilas tentang metodologi yang digunakan imam Asy’ari dan imam Maturidiy dalam berbagai wacana ilmu kalâm.[2] Hanya saja, landasan teoritis imam Asyari tersebut mengalami pergeseran pada masa-masa setelahnya. Bahkan generasi selanjutnya dalam sistematika perdebatan dengan lawan partai tidak jauh berbeda dengan aliran partai lainnya. Mereka cenderung menggunakan akal murni dan sedikit sekali menukil dari berbagai nash al-Qur’an. Ini sangat nampak dari buku taqrîbu’l marâm dan kitab syarhu’l mawâqif.[3]

 

Prisnsip dasar Asy’ariyah dan Maturidiyah

 

Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai warisan dari partai Ahlu Sunnah juga memiliki kecenderungan prinsip yang tidak jauh berbeda dengan para pendahulu mereka. Perbedaannya hanya berkisar pada penggunaan logika dalam sistem argumentasi. Secara singkat prinsip dasar Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah sebagai berikut:

  1. Ma’rifatullah dapat diketahui dengan syarâ’.
  2. Alam itu hâdits.
  3. Iman adalah kepercayaan yang dilanjutkan dengan amal perbuatan sebagai pelengkap.
  4. Menetapkan sifat ma’âniy.
  5. 5.      Al-Qur’an adalah qâdim.
  6. Tidak wajib bagi Tuhan atas segala sesuatu.
  7. Tuhan boleh memberikan pahala atau dosa kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
  8. Tuhan juga boleh mengutus para rasul.
  9. Ru’yatullah adalah mungkin terjadi.
  10. Allah menginginkan kebaikan dan kejahatan.
  11. َQdhâ’ dan qadar pada perbuatan manusia (af’âlu’l ‘ibad) bersifat ikhtiyâriy.
  12. 12.  Tuhan adalah pencipta af’âlu’l ‘ibâd al-ikhtiyâriyyah.
  13. Tidak ada yang maksum selain para nabi.
  14. Pertanyaan, siksaan dan nikmat dalam alam kubur adalah benar adanya.
  15. Manusia akan dibangkitkan pada hari akhir dengan jasad dan ruh.
  16. Syafaat berlaku bagi pelaku dosa besar.
  17. Keberadaan syurga dan neraka benar adanya seta bersifat kekal.
  18. Imamah bukan merupakan rukun dalam agama.[4]

 

Karena antara Asy’ariyah dan Maturidiyah hanya memiliki perbedaan yang sangat kecil, dan pengikut partai Asy’ariy jauh lebih besar dibandingkan dengan partai Maturidiy, maka di bawah ini penulis hanya akan menyebutkan secara singkat dua dari sekian prinsip Asy’ariyah, yaitu persoalan qadhâ qadr dan masalah al-kasb. Barangkali ini juga sudah mewakili terhadap apa yang diyakini oleh Maturidiyah.

 

Qadhâ’, qadar dan al-kasb perspektif Asy’ariyah

 

Menurut imam Abu Hasan al-Asy’ariy bahwa yang memiliki hak untuk menciptakan sesuatu hanya Tuhan saja. Dengan kata lain, bahwa sifat sebagai penciptaan hanya dapat dinisbatkan pada Tuhan. Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Jika Tuhan berkehendak, apapun akan terjadi, sebaliknya, jika Tuhan tidak berkehendak sesuatu juga tidak akan terjadi. Baik buruk perbuatan manusia juga meruakan ciptaan Tuhan, karena manusia sama sekali tidak memiliiki hak untuk menciptakan sesuatu apapun.

 

Asy’ariah membagi irâdah menjadi dua bagian: pertama, irâdah kauniyyah qadariyyah dan kedua, irâdah syar’iyyah dîniyyah. Bagian pertama merupakan kehendak Tuhan secara mutlak. Dari sini berarti mencakup seluruh kehendak Tuhan, termasuk kehendak dalam menciptakan perbuatan baik dan buruk bagi manusia. Namun, perbuatan buruk yang dilakukan manusia, meski itu merupakkan bagian dari ciptaan Tuhan, bukan berarti Tuhan merestui manusia untuk melakukan perbuatan tersebut. Di  sinilah hubungan antara  irâdah kauniyyah qadariyyah dengan irâdah syar’iyyah dîniyyah. Imam Asy’ariy membedakan antara kehendak Tuhan dan restu Tuhan. Dengan kata lain, qadhâ’ dan qadar merupakan ketetapan dan kehendak mutlak yang dimiliki Tuhan.[5]Ketetapan tersebut sudah ada dalam ilmu Tuhan sejak azal.[6]

 

Adapun permasalahan kedua, adalah mengenai al-kasb. Al-kasb adalah suatu perbuatan yang dilakukan seseorang dengan qudrah muhditsah. Dengan kata lain bahwa semua perbuatan manusia hanya disandarkan pada kehendak Tuhan. Tugas manusia hanya berusaha, namun segalanya sesungguhnya telah berada dalam ilmu Tuhan. Usaha manusia inilah yang selanjutnya disebut dengan al-kasb.  Al-kasb sendiri masih dalam wilayah ciptaan Tuhan.

 

Pandangan al-kasb sebagaimana diwacanakan Abu Hasan al-Asy’ariy mendapatkan banyak tafsiran dari para pengikutnya. Jika pada awal mulanya, imam Asy’ariy secara tegas mengatakan bahwa al-kasb sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap perbuatan manusia, maka pengikut Asy’airyah selanjutnya, seperti imam Juaniniy dan Baqilaniy menganggap bahwa al-kasb juga berpengaruh terhadap amal perbuatan manusia. Dari pandangan al-kasb itulah amal perbuatan manusia akan dipertanggunngjawabkan.[7]

 

Penulis sendiri melihat bahwa sesungguhnya pemikiran Asy’ariyah tidak jauh berbeda dengan pemikiran Jabbariyah. Persoalan qadhâ’ dan qadar sangat membingungkan. Ide kompromis mengenai al-kasb yang ditawarkan justru semakin sulit dipahami.



[1]               Maksud penulis adalah ketika Ahlu Sunnah masih menjadi partai penguasa pada masa Umawiyah.

[2]               Dr. Jabir Zayid ‘Idissimiri, op. cit., 142

[3]              Lebih lengkapnya, lihat, Assayyid Asysyarif Ali ibn Muhammad al-Jurjaniy, Syarhu’l Mawâqif  fî ‘Ilmi’l Kalâm, Dr. Ahmad al-Mahdi, ed, tanpa penerbit, tanpa tahun dan  Taqrîbu’l maram.

[4]               Hasan al-Sayyid Mutawalliy, op. cit., hal. 14-16.

[5]               Dr. Jabir Zayid ‘Idissimiri, op. cit., hal. 145

[6]               Ibid., hal. 146

[7]               Ibid., hal. 167, et seqq

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 − four =

*