Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sebaik-baik Orang Yang Bersalah Adalah Yang Bertaubat

Tanya:
Assalamualaikum wr.wb Afwan sebelumnya. Saya punya masa lalu yang kelam dengan seseorang,kemudian saya taubat. Saya belajar di pesantren dan saya mengahafal al’qur’an karena sangking menyesalnya saya. Selama itu kami sudah tidak pernah berhubungan karena saya masih sayang saya istikharah dan InsyaAllah hasilnya baik. Setelah saya keluar dari pondok pesantren,saya mengulanginya lagi bertaubat lagi dan mengulangi lagi. Saya menyesal,saya bingung karena kami saling mencintai. Kami tidak bisa menikah karena orangtua kami kekeh untuk melarang menikah di umur yg sekarang. Saya dan dia sudah pernah mencoba untuk saling tidak menghubungi dan melupakan tapi pada akhirnya kembali lagi. Sekarang ketika saya tidak berhubungan dengan dia/chatan saya tidak bisa saya selalu menangis hingga menyusahkan orangtua saya dan mengganggu aktivitas saya setiap harinya. afwan, saya sampai seperti orang yg putus asa ,apakah taubat saya masih diterima ketika saya sudah bertaubat tapi benar² tidak bisa meninggalkan seseorang di masa lalu saya walaupun saya sudah benar² berusaha? Terimakasih. (Ukhti, Sidoarjo)

Jawab:
Wa’alaikum salam

Setiap anak adam tentu punya kesalahan. Namun sebaik-baik kesalahan adalah bertaubat sebagaimana hadis berikut:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ. رَوَاهُ التِّرْمـِذِيُّ

Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat. (HR. Tirmidzi)

لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ رَواه الْحَاكِمُ

Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka. (HR. Hakim)

Selama ruh masih dalam badan, maka setiap manusia masih mempunyai peluang untuk bertaubat dan Allah akan menerima taubat kita sebagaimana firman Allah berikut:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. [An Nisaa’ : 146].

Allah juga berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang “. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. [An Nisaa’ : 18].

Jika anda punya hajat dan keinginan, seperti menikah, berdoalah kepada Allah agar diberikan hal terbaik. Semoga dengan ini Allah memberikan hal terbaik bagi diri anda. Lalu anda komunikasikanlah baik-baik kepada orang tua anda. Jika tidak, hendaknya anda sering berpuasa. Karena puasa dapat menahan nafsu anda sebagaimana sabda rasulullah saw berikut ini:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR. Bukhari)

Semoga Allah memudahkan segala urusan Anda dan memberikan hal terbaik bagi diri Anda. Wallahu a’lam.

(Ustadz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M)

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

14 − 14 =

*