Thursday, April 26, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sarana Mengetahui Ilmu Maqashid; Pemahaman Atas Suatu Wicana

repetisi

 

Sebagaimana pernah saya singgung sebelumnya bahwa salah satu sarana untuk mengetahui mengenai maqashid syariah adalah dengan melihat factor kebahasaan secara keseluruhan. Kaitan dengan hal ini, imam Ghazali dalam kitab al-Mustasfa berkata, “Salah satu cara memahami maksud dari teks adalah dengan melihat pada struktur bahasa. Jika secara bahasa sudah dapat dipahami, bearti makna zhahir tersebut yang dimaksudkan oleh teks. Jika teks masih ada kemungkinan mempunyai makna lain, maka perlu dilihat dari indikator yang terdapat dalam teks. Indikator tadi bisa berupa indicator sharih dari teks, atau bisa jadi sekadar petunjuk dengan makna implisit saja. Atau indikator bisa juga berbentuk ungkapan-ungkapan yang ada sebelum atau setelah ungkapan teks. Sederhananya, semua ungkapan dalam nas yang belum dapat dipahami secara sempurna, dapat dibantu dengan melihat indikator yang ada”.

 

Struktur kalimat (iyaq kalam) dalam sebuah teks punya peranan cukup penting untuk menyingkap makna teks. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari dua sisi:

Pertama, dalam upaya memahami kandungan kitab suci dan sunah nabi untuk menggali ketetapan hukum dari keduanya.
Kedua: dalam upaya beristidlal dari nas baik al-Quran maupun as-sunnah, baik beristidlal dari nas yang menggunakan bentuk insya’ (perintah dan larangan) atau yang berbentuk khabari (ungkapan prosa atau berita).

 

Siyaq kalam dan wicana yang terkandung dalam nas biasanya mempunyai beberapa model:
Pertama: Lughatul khithab (bahasa wicana).
Semakin mudah bahasa yang digunakan sebuah wicana, semakin mudah kita memahami maksud yang terkandung dalam teks. Ada dua cara untuk mengetahui wicana model ini:
A). Pilihan kalimat dan kata-kata yang digunakan sebuah wicana. Kaitan dengan ini, dalam bahasa Arab dikenal dengan itilah fasih, yaitu bicara dengan singkat, padat.
B). Tabiat bahasa. Kita harus jeli dalam melihat kata kata yang digunakan. Terkadang sebuah kata mempunyai satu makna, namun kadang suatu kata mempunyai makna ganda.

Contoh lafal عين

Artinya: mata, mata air, mata-mata, dan barang.

 

Jika dalam nash syarit terdapat lafazh musytarak, maka ketetapan makna harus dilihat terlebih dahulu. Jika makna ganda tersebut satu berasal dari makna bahasa dan yang lain berasal dari makna syariat, maka yang harus didahulukan adalah makna syariat. Contoh lafazh shalat, zakat dan lain-lain.

 

Jika lafazh tersebut memiliki makna ganda, maka yang harus dipakai adalah satu makna saja sesuai dengan indikator (qarînah) yang menunjukkan arah makna yang dimaksud. Contoh ( قُرُوء) yang berarti waktu suci dan waktu haidh.

 

Umûmu’l musytarak adalah lafazh yang memiliki makna ganda, dan memungkinkan untuk dipakai hanya satu makna saja. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama:

  1. Makna yang terdapat dalam lafazh musytarak tidak dapat dipakai secara utuh. Maka tidak diperkenankan menggunakan seluruh makna ganda untuk memahami ungkapan kalimat, namun harus dipilih mana makna yang sesuai dengan ungkapan kalimat tersebut. Di sini yang dibutuhkan adalah system tarjih. Tarjih bisa dilakukan dengan melihat siyaq kalam dari indikator kalimat.
  2. Boleh, jika memungkinkan untuk digunakan semua makna. Lafazh musytarak, meskipun pada dasarnya yang dimaksudkan adalah satu makna saja, namun dibolehkan lafazh tersebut memiliki semua makna dalam satu waktu.

Contoh:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ

Artinya: “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang melata dan sebagian besar daripada manusia”. (QS. Al-Hajj: 18).

 

Makna sujud (يَسْجُدُ ) adalah meletakkan kepala di atas tanah. Hal ini hanya mungkin dikerjakan manusia saja. Namun lafazh tersebut bisa berarti taat dan mengikuti kehendak Yang Maha Kuasa. Dan ini dilakukan oleh makhluk selain manusia.

  1. Boleh dengan catatan bahwa makna yang dimaksud lafazh adalah seluruh maknanya jika lafazh tersebut berada dalam ungkapan kalimat negatif, bukan positif

 

 

Untuk memahami makna sebuah wicana suatu nas (wahyu) dibutuhkan pengetahuan terkait bahasa Arab yang biasa dipakai oleh orang Arab pada waktu turunnya nas. Ini penting karena seringkali bahasa mengalami pergeseran makna, perluasan atau penyempitan makna. Jadi, makna yang kita cari bukan makna kata yang biasa dipakai orang Arab saat ini, namun lebih pada makna kata yang biasa dipakai Orang Arab pada waktu nas diturunkan.

 

Pemahaman makna bahasa Arab seperti ini akan sanagat membantu dalam memahami kalimat yang masih berbentuk umum atau khusus, taqdim dan ta’khir, idhmar dan hadzf, dan lain sebagainya. Juga berfungsi untuk mempermudah ketika kita harus melakukan proses tarjih makna dari sebuah kata yang mempunyai makna ganda.

 
====================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open