Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sadd al-Dzarî`ah; Sebuah Tinjauan Praktis-Normatif

saAllah menciptakan manusia di muka bumi dengan tujuan tertentu, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah sendiri memiliki makna yang sangat luas. Segala perbuatan manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan dimaksudkan hanya untuk mencari rida-Nya dinilai sebagai ibadah. Secara sederhana, ibadah dapat dibagi menjadi dua; ibadah yang bersifat vertikal dan ibadah yang bersifat horizontal. Ibadah vertikal sering disebut sebagai hablun minalLâh, yaitu sistematika interaksi manusia dengan Tuhan secara langsung. Ibadah horizontal sering disebut sebagai hablun min al-nâs, yaitu sistematika interaksi manusia dengan sesama manusia.

 

Dua bentuk ibadah tadi –hablun minalLâh dan hablun min al-nâs, tentu membutuhkan aturan normatif yang jelas sehingga ibadah tidak berjalan hanya berdasarkan pada abstraksi manusia terhadap dzat Tuhan dan nilai subyektifitas semata. Bagaimanapun juga, manusia lemah untuk mengetahui segalanya tentang Tuhan, termasuk di dalamnya sistematika interaksi dengan-Nya. Manusia sebagai makhluk yang terbatas juga lemah untuk meletakkan seluruh aturan normatif yang berkaitan dengan interaksi dengan sesamanya. Bisa jadi, apa yang dianggap manusia sebagai hal positif, namun dalam pandangan Tuhan adalah perbuatan negatif. Manusia tidak mungkin dalam segala lini kehidupan hanya bertumpu pada nilai-nilai rasionalitas belaka. Untuk itulah Tuhan mengutus para Rasul sebagai petunjuk bagi umat manusia.

 

Rasul sebgai penuntan manusia dibekali dengan aturan ketuhanan yang disebut dengan syariah. Hanya perkembangan sejarah umat manusia mengalami perbedaan ruang dan waktu. Tuhan sebagai dzat Yang Maha Pengasih kemudian menurunkan syariah sesuai dengan perjalanan peradaban manusia. Inilah barangkali rahasia mengapa antara satu nabi dengan yang lainnya memiliki syariah yang berbeda.

 

Islam sebagai agama terakhir dibekali dengan dua pusaka; al-Quran dan Sunnah. Keduanya merupakan landasan kaum muslimin dalam melakukan interaksi baik dengan Tuhan, manusia, bahkan dengan alam raya. Persoalan muncul ketika kitab suci[1] dan Sunnah Nabi adalah dua pusaka yang sangat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi umat manusia tidak terbatas. Karena Islam adalah agama pamungkas, maka insan muslim tidak mungkin menanti nabi baru yang dapat membantu dalam menyelesaikan problematika kehidupan mereka. Hanya saja, Rasul Muhammad Saw. telah memberikan mandat kepada para ulama untuk berijtihad; mencari berbagai terobosan baru dalam rangka mencari solusi alternatif bagi persoalan yang sedang mereka hadapi. Dengan tetap mengacu pada dua pusaka tadi, para ulama kemudian merumuskan berbagai piranti hukum yang kiranya dapat membantu mereka dalam memecahkan problematika umat manusia.

 

Karena berbagai faktor, baik perbedaan pandangan mereka terhadap nas al-Quran dan Sunnah, perbedaan ruang waktu, atau perbedaan mereka mengenai sejauh mana logika dapat dijadikan acuan dalam menggali ketetapan hukum, berimplikasi pada perbedaan mereka dalam menggunakan berbagai metodologi ijtihad.

 

Salah satu metodologi yang masih menjadi perdebatan dikalangan para ulama adalah penggunaan al-dzarî`ah, atau sadd al-dzarî`ah sebagai sumber hukum. Di bawah ini, penulis mencoba untuk sedikit menelisik secara normatif mengenai al-dzarî`ah atau sadd al-dzarî`ah sebagai salah satu piranti penggalian hukum, kemudian implikasinya secara praktis dalam tataran hukum fikih.

 


[1]Katika Tuhan ingin menurunkan kitab suci kepada umat manusia, mau tidak mau harus menggunakan sarana bahasa, sementara bahasa manusia terbatas (mutanâhî) dan cukup beragam. Manusia sendiri terbatas (mutanâhî) dan hanya mampu memahami sesuatu yang terbatas. Pada akhirnya, Tuhan menggunakan bahasa kitab suci dengan bahasa manusia. Tuhan kemudian memilih bahasa sesuai dengan bangsa yang bersangkutan. Dengan demikian, apa yang dikehendaki Tuhan dalam kitab suci akan dapat dipahami manusia. Jika kitab suci diturunkan dengan bahasa Tuhan, tentu terjadi keterputusan pemahaman, karena manusia tidak mampu memahami bahasa Tuhan yang tidak terbatas. Maka kitab suci yang sejatinya sebagai petunjuk bagi manusia menjadi tidak berguna. Untuk itulah, mengapa Tuhan menurunkan kitab suci sesuai dengan bahasa bangsanya masing-masing. Firman Allah:

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

 

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”. (QS. Ibrâhîm: 4)

 

Al-Quran adalah kalâmulLah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., dengan bahasa Arab dan merupakan mukjizat meski hanya satu ayat. Meski demikian, bukan berarti al-Quran dikhususkan bagi bangsa Arab, karena secara tegas Tuhan mengatakan bahwa al-Quran untuk semua alam, sebgaimana firman-Nya:

 

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

 

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. Al-Fulrqân:1).

 

Kalam adalah lafazh yang tersusun yang dapat dipahami sesuai dengan makna terapan bahasa[1]. Bahasa juga selalu mengalami dialektika dengan alam sehingga bahasa akan selalu berubah sesuai dengan ruang dan waktu. Dilihat dari definisi mengenai kalam, sejarah perkembangan bahasa dan bahasa sebagai sesuatu yang terbatas (mutanâhî) dapat diambil kesimpulan bahwa bahasa al-Quran adalah makhluk (ciptaan). Karena bahasa al-Quran tidak lepas dari bahasa yang biasa digunakan umat manusia. Bahasa sendiri mengandung unsur budaya. Ia berkembang dalam ruang waktu. Al-Quran yang “terpaksa” menggunakan bahasa manusia, berarti ikut terjun dalam budaya manusia. Namun demikian, bukan berarti bahwa esensi al-Quran (jauharatu’l Qur’an) mengikuti budaya, atau bahkan produk budaya. Al-Quran turun sesuai dengan bahasa bangsa yang bersangkutan, namun jauharatu’l Qur’an tetap kalâmulLah yang lepas dari ruang dan waktu. Maka tidak heran jika al-Quran akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman kapan dan dimanapun.

 

Sederhananya, kita mesti membedakan antara bahasa al-Quran dan spirit atau jauharatu’l Qur’an atau rûhu’l Qur’an sebagai kalam nafsiy. Rûhu’l qur’an adalah kalam Tuhan yang azal karena berkaitan dengan sifat Tuhan[1]. Tuhan sendiri azal maka secara otomatis seluruh sifat Tuhan, termasuk juga kalam Tuhan harus azal. Segala yang azal memiliki sifat tidak terbatas (lâ mutanâhî). Karena hu’l Qur’an  adalah sifat Tuhan, maka ia juga tidak terbatas. Tidak heran jika kemudian upaya manusia untuk menggali apa yang terkadung dalam al-Quran tiada pernah sampai pada titik akhir. Manusia akan selalu menemukan hal baru dalam al-Quran. Singkat kata bahwa al-Quran dengan bahasa yang terbatas, namun mengandung pengetahuan yang tidak terbatas.

 

Implikasi dari statemen di atas baru akan nampak ketika kita berinteraksi dengan nash al-Quran. Melihat bahasa al-Quran tadi yang makhluk, maka berinteraksi dengan bahasa al-Quran berarti berinteraksi dengan makhluk.

 

Membaca nash al-Quran berarti berinteraksi dengan dua hal sekaligus, pertama bahasa al-Quran yang makhluk dan kedua hu’l Qur’an yang bukan makhluk. Dengan demikian, interaksi dengan al-Quran tetap tidak boleh membuang nilai sakralitas al-Quran. 

 

Ketika manusia ingin memahani kalam Tuhan, maka ia harus mendalami bahasa yang digunakan Tuhan. Karena al-Quran berbahasa Arab, secara otomatis untuk dapat memahami bahasa al-Quran kita juga harus kembali kepada kaidah dasar yang ada dalam sturktur bahasa Arab.

 

hu’l Qur’an biasa dikaji oleh ulama kalam, sementara bahasa al-Quran banyak di kaji oleh ulama ushul. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kajinan kebahasaan yang dilakukan oleh ulama ushul jauh lebih progresif dibandingkan dengan para ulama bahasa. Para ulama ushul mengkaji makna kebahasaan yang tidak tersentuh oleh ulama nahwu. Mereka kemudian mengembangkan ilmu semantik dalam kajian al-Quran. Dari kajian kebahasaan itulah muncul berbagai kaidah ushûliyyah. Kajian bahasa dalam uhsul fikih mencakup mantuq dan mafhum, khâs, ‘âm, dan musytarak, al-wâdhihu al-dalâlah dan ghairu’l wâdhihi al-dalâlah, haqîqah, majâz, sharîh dan kinâyah, al-bayân dan terakhir ma’anil  huruf.

 

Bagian-bagian di atas merupakan standarisasi para ulama ushul untuk memahami makna dibalik bahasa nash al-Quran. Tentu saja kaidah tersebut dibuat dan disusun setelah mereka mengadakan kajian induktif terhadap perkembangan dan penggunaan bahasa Arab dalam masyarakat Arab.  (Wahyudi Abdurrahim, Metodologi Tafsir Semantik)

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open