Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Saat Umat Lalai Dengan Nilai Subtantiif Al-Quran

images (1)
Meski sudah lewat beberapa waktu, kontraversial soal pembacaan Quran dengan langgam Jawa belum juga reda. Antara yang pro dan kontra masih mengeluarkan argument untuk memperkuat pendapatnya masing-masing. Bahkan banyak juga diskusi “debat kusir” dengan bahasa yang tidak layak.

 

Saya mencoba untuk berhusnuzan dengan peristiwa “bersejarah” tersebut. Dengan lantunan Quran yang menggunakan langgam Jawa di depan publik, berdampak pada keingintahuan masyarakat mengenai cara membaca al-Quran yang benar. Mereka menggali informasi dengan berbagai cara, baik internet, bertanya langsung dengan para masyayikh atau sekadar mengeluarkan pendapat pribadi dari hasil renungannya. Umat jadi “berbondong-bondong” untuk memperhatikan kitab sucinya.

 

Namun yang patut direnungkan adalah mengenai sikap kita terhadap al-Quran itu sendiri. Sepatutnya kita juga bertanya pada diri kita, seberapa sering kita membaca al-Quran? Berapa ayat yang kita baca dalam sehari? Berapa ayat yang kita pahami? Seberapa jauh nilai-nilai moral yang sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari hari?

Al-Quran merupakan satu dari dua pusaka yang diwariskan oleh Rasulullah  saw kepada umatnya. Satunya lagi adalah sunnah beliau. Jika kita berpegang teguh dengn keduanya, maka kita akan selamat dunia akhirat

Al-Quran mengandung banyak ilmu pengetahuan. Di dalamnya terdapat inforamasi terkait dengan berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, baik yang terkait dengan penciptaan alam raya, perbintangan, tetumbuhan, kelautan, lingkungan, anatomi tubuh manusia, sejarah, hukum, etika, baik etika dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesame, dengan binatang bahkan juga dengan alam raya. Tidak ada satupun pengetahuan di dunia yang tidak disinggung oleh al-Quran. Ia kitab suci yang sangat sempurna. Ia merupakan ensiklopedi pengetahuan yang tiada kunjung habis. Membuka lembaran kitab suci ibarat membuka lembaran kertas yang tidak ada titik ahir.

Pertanyaannya jika ilmu pengetahuan dalam al-Quran tiada batas, mengapa saat ini tidak banyak ilmuan besar yang muncul dari Rahim umat Islam? Berapa banyakkah fisikawan muslim, sejarawan, sosiolog, antropolog, pakar hukum, atom, dan lain sebagainya? Mengapa dunia Islam terbelakang sementara Barat maju? Mengapa para non muslim itu banyak melahirkan ilmuan ternama? Mengapa mereka berada di jantung peradaban sementara kita berada di pinggir peradaban?

Aneh memang. Saat Barat bekerja keras mencari ilmu pengetahuan, umat Islam malah sibuk berdebat soal langgam Jawa. Saat Barat bersatu untuk meraih kemajuan, dunia Islam justru dilanda perang saudara. Saat Barat mengagungkan kejujuran, dunia Islam justru terkenal sebagai negara paling korup. Saat Tiongkok memerangi pornografi, Indonesia justru membudaya pergaulan bebas.

 
Di manakah keagungan al-Quran itu? Di manakah nilai peradaban agung yang terkandung dalam ajaran Islam? Di manakah masyarakah ideal yang gemah ripah loh jinawi, masyarakat utama “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur?

Al-Quran ini adalah kitab hidayah. Sangat mengherankan jika umat islam berdebat mengenai langgam pembacaan al-Quran, namun tidak pernah mempertanyakan mengenai eksistensi mereka terhadap nilai al-Quran. Quran bukan sebagai kitab sastra yang hanya untuk dilagukan dan didendangkan. Lebih dari itu, al-Quran adalah kitab hidayah yang harus diamalkan.

 

KH Ahmad Dahlan mampu menginspirasi warga Muhammadiyah untuk mengembangkan ribuan amal usaha, hanya dengan surat al-Maun saja. Bagaimana jika hal itu diterapkan pada seluruh ayat-ayat al-Quran? Tentu akan jauh lebih dahsyat. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang tidak hanya pandai membawa kitab suci, namun juga dapat mengamalkan kandungannya. Amin. Wallahu alam.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eight − 1 =

*