Tuesday, June 19, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Saat Ibnu Rusyd Melakukan Klarifikasi Soal Filsafat


Jika kita baca kitab Faslul Maqa Fima Baina Asy-Syariah wal Hikmah Minal Ittashal karya Ibnu Rusyd, kita akan mendapati bahwa beliau memberikan banyak tanggapan terhadap pandangan Imam Ghazali baik yang tertulis dalam kitab Tahafut al-Falasifah maupun kitab Faishalu at-Tafriqah Bainal Islam wa Az-Zindiqah. Ibnu Rusyd menanggapi beberapa persoalan, di antaranya terkait sikap takfir Imam Ghazali terhadap 3 persoalan filsafat; terkait qudumul alam, Allah tidak tau perkara juz’iyyat dan kebangkitan ruh kelak di alam Mahsyar.

Menurut Ibnu rusysd, sesungguhnya Ghazali tidak perlu mengkafirkan para filsuf. Apa yang disampaikan Ghazali, sekadar pandangan berbeda kalangan ulama kalam, khususnya dari Asyariyah terhadap pendapat para filsuf. Prinsip pokoknya sama, bahwa semua orang mukmin beriman Allah sebagai Tuhan semesta alam, Allah sebagai sang pencipta dan manusia seluruhnya akan dibangkitkan kelak di hari pembangkitan. Pokok-pokok ini, menjadi kesepakatan bersama bagi setiap orang muslim. Jika ada yang inkar, maka ia baru layak untuk dikafirkan.

Terkait alam qadim, menurut Ibnu Rusyd ada perspektif yang harus diluruskan. Semua ulama Islam sepakat bahwa ada wajibul wujud yaitu Allah. Semua ulama Islam sepakat bahwa ada yang lain selain Allah yang berupa benda-benda di jagat raya. Ia sifatnya baru dan ada permulaan. Perbedaannya terletak pada “alam” selain Allah di masa azal. Karena menurut Ibnu Rusyd, tidak mungkin di masa azal, hanya ada Allah dan tidak ada sesuatu secara murni (adam mahatdh). Tentu ada “yang lain” selain Allah. Yang lain itulah yang oleh para filsuf disebut dengan alam. Ia sifatnya qadim karena ada bersamaan dengan Allah. Selain itu, dalam al-Quran disebutkan bahwa sebelum alam raya diciptakan, sudah ada kursi dan arsy. Ini menunjukkan bahwa yang lain itu, sifatnya qadim dan ada dari sesuatu yang qadim

Terkait tidak mungkin adanya “ketiadaan murni”, ada dua kecenderungan. Bagi mereka yang melihat bahwa selain Allah harus ada permulaan, maka ia dianggap hadis atau makhluk yang bermula. Bagi yang berpandangan bahwa “ketiadaan murni” itu ada berdampingan dengan Allah sejak masa azal, maka ia adalah qadim. Itulah yang disebut sebagai alam qadim. Jadi di sini, ada kecenderungan masing-masing dan ada sisi irisan yang dapat dikompromikan.

Terkait Allah tidak mengetahui juziyat, bagi Ibnu Rusyd bahwa ilmu Allah berbeda dengan ilmu manusia. Kiyas ghaib ala syahid seperti yang biasa digunakan ulama kalam dengan mengkiyaskan alam fisik ke pada alam metafisik, adalah kiyas yang salah. Tuhan dalam semua sisi berbeda dengan mahluk. Ini berlaku pula dengan ilmu Allah yang sifatnya pasti dan hanya layak untuk dzat Allah yang qadim. Jadi ilmu Allah itu, tidak bisa disifati dengan jus’iyyat atau kulliyat. Ilmu Allah yang ilmu Allah yang sifatnya stabil dan tidak berubah.

Terkai dengan kebangkitan manusia kelak di ahirat, ibnu rusyd kembali mengklarifikasi bahwa menurut para filsuf, tetap sepakat akan adanya hari kebangkitan. Hanya saja, para filsuf memberikan takwilan dan tidak memaknai ayat secara zhahir.

Jadi , tidak perlu lagi ada sifat saling kafir mengkafirkan selama prinsip pokok antara filsuf dan ulama kalam sama. Apalagi baik para filsuf atau ulama kalam, sama-sama ingin memberikan keterangan kepada manusia bahwa di balik alam raya ini ada Tuhan yang maha esa. Tuhan yang harus disembah.

Menurut beliau bahwa kebenaran itu satu. Kebenaran dapat diketaui dengan akal pikiran, sebagaimana dapat diketahui dengan hukum syariat. Antara kebenaran, baik yang dibawa oleh akal maupun syariat, tidak mungkin saling bertentangan. Keduanya saling mendukung dan menguatkan.

Hebatnya Ibnu Rusyd adalah bahwa meski ia berbeda pandangan dengan para ulama kalam, khususnya Abu Hamid al-Ghazali, dan bahkan memberikan klarifikasi dan kritikan tajam, namun bahasa yang digunakan sangat halis. Ia menggunakan argumen ilmiah dan kepala dingin. Karya-karyanya, meski beliau seorang filsuf, tidak pernah lepas dari kutipan ayat-ayat al-Quran. Ibnu Rusyd adalah filsuf muslim ternama yang membawa pencerahan bagi umat Islam. Bahkan gerakan pencerahan Ibnu Rusyd yang berasal dari bumi Andalusia, merembet ke belahan dunia lain dan berkembang di dunia Barat. Ibnu Rusyd menjadi pemantik kebangkitan Eropa.

Tentu kita merindukan sosok filsuf cemerlang seperti Ibnu Rusyd. Kita merindukan pemikir muslim yang selalu menjadikan al-Quran sebagai inspirasi awal. Ibnu Rusyd seorang filsuf, namun pijakannya tetaplah kitab suci. Kita butuh Ibnu Rusyd baru untuk menuntun umat Islam bangkit dari keterpurukan peradaban. Wallahu a’lam

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open