Monday, May 28, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Rukun dan Syarat Pernikahan

nikah-2Pernikahan merupakan awal menuju kehidupan baru. Pernikahan, yang merupakan bersatunya dua insan, oleh al-Qur’an disebut dengan “janji yang sangat berat”. Hal ini, karena dengan adanya pernikahan akan memunculkan banyak konsekwensi, baik secara individu maupun sosial. Banyak tanggung jawab yang akan dipikul oleh kedua belah pihak dalam mengarungi bahtera kehidupan bersama.

 

Pernikahan yang didasari atas landasan al-Qur’an dan Sunnah akan dapat membentuk keluarga sakinah, mawadah dan rahmah. Keluarga yang dibangun dapat menjadi surga dunia, manakala pernikahan sesuai dengan rel yang telah digariskan oleh syariat.

 

Pernikahan selain bertujuan untuk membentuk keluarga bahagia, juga untuk menjaga keturunan dan membentuk generasi rabbani. Pernikahan menjadi pintu pertama dalam menjaga kelangsungan umat untuk melangkah ke medan dakwah selanjutnya.

 

Tentu saja, bukan bearti dalam mengarungi bahteri kehidupan, rumah tangga terbebas dari semua masalah. Akan selalu ada rintangan dan persoalan yang menanti. Namun riak persoalan tersebut justru akan menjadi bumbu harmonis dalam menapaki kehidupan selanjutnya selama mereka mampu bersikap sesuai dengan anjuran Nabi.

 

Hanya saja, sebelum berlanjut kepada jenjang pernihakan, ada syarat dan rukun yang layak diketahui bersama. Syarat rukun tersebut yang menjadi pondasi awal dalam pembentukan rumahtangga. Jika syarat rukun cacat, maka keabsahan pernihanan juga akan cacat.

 

Untuk itu, di bawah ini penulis sampaikan mengenai syarat dan rukun nikah. Penulis tidak hanya mencantumkan dari satu mazhab saja, namun juga mencantumkan pendapat dari madzhab lainnya. Tujuannya tidak lain adalah agar kita lebih terbuka dan mampu melihat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Dengan demikian, ketika menghadapi perbedaan, kita tidak fanatik dan lebih mampu bersikap toleran.

Definisi Rukun

Rukun artinya bagian dari hakikat sesuatu, dimana sesuatu tersebut tidak akan ada kecuali bagian tadi ada. Dengan kata lain, tidak dianggap nikah manakala tidak terpenuhi rukun pernikahan. Seperti akad nikah yang merupakan bagian dari rukun nikah. Pernikahan tidak dianggap, mana kala tidak ada akad.[1] Menurut Imam Hanafi, rukun adalah keberadaan sesuatu, yang bergantung kepada sesuatu yang lain, dan sesuatu tersebut merupakan bagian dari hakikat secara keseluruhan. Menurut jumhur ulama, rukun adalah sesuatu yang menjadi sandaran terhadap keberadaan hakikat, dan hakekat sesuatu tidak ada kecuali terpenuhi sesuatu tersebut.[2]

 

Secara sederhana, rukun adalah bagian dari pernikahan. Nikah tidak dianggap sah mana kala tidak dipenuhi semua rukun nikah. Namun, apa saja rukun nikah tersebut? Berikut penulis sampaikan secara lebih terperinci.

Sebagian mazhab Hambali berpendapat bahwa rukun nikah ada tiga, yaitu suami,  istri, dan shîgah (ijab kabul). Sementara itu, menurut mazhab Syafi’i dan sebagian mazhab Hambali bahwa rukun nikah ada lima, yaitu suami, istri, shîghah, saksi dan wali.[3]

Dalam kitab fikih bermazhab Hanafi, “Syarh Munthaha al-Irâdath” diterangkan bahwa rukun nikah adalah ijab kabul saja. Demikian juga dalam kitab “Badâ’i” bahwa rukun nikah adalah ijab dan kabul. Sebagian besar dari madzhab Hambali juga berpendapat bahwa rukun akad nikah adalah ijab kabul.[4]

 

no Madzhab Rukun Nikah
1. Sebagian madzhab Hambali Suami, istri dan sighah
2. Madzhab Syafii dan sebagian madzhab Hambali Suami, istri, shîghah, saksi dan wali

 

Madzhab Syafii berpendapat bahwa rukun nikah ada lima, yaitu:[5]

a.  ijab Kabul (Shîgah)

b. Mempelai laki-laki

c. Mempelai perempuan

d. Wali

e. Dua orang saksi

 



[1]                      Dr. Abdul Karim Zaidan, Al-Mufashshal fî Ahkâmi al-Mar’ati wa Baiti al-Muslimi fî al-Syarî’ati al-Islâmiyyati, Muassasah al-Risâlah, cet. III, vol VI, Beirut, hal. 80

[2]                      Dr. Wahbah al-Zuhaili, Al-Fikihu al-Islmiy wa Adillatuhu, Dâr al-Fikri, vol IX, cet. IV, Beirut, hal. 6521

[3]                      Dr. Raja’ Ahmad Ahmad, Dirâsah limadzhabi al-Syâfi’iy fî al-Zawâj wa Ahkâmuhu, Diktat Kuliyah Dirâsah Islâmiyyah wa al-‘Arabiyyah li’l Banât, hal. 72

[4]                      Dr. Fikriyah Ahmad Said, al-akhwal al-shakhsiyah fi al-syariati al-oslamiyah, Diktat Kuliyah Dirasah Al-arabiyah lil’Banat, hal.72

[5]                      Dr. Fathiyah Mahmud al-Hanafi, al-zawaj wa al-akhkam al-Khashah bihi, Diktat kuliah Dirasah al-Islamiyah lil’Banat, hal.132

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open