Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Rekonsturksi Ilmu Fikih?

dsagh

 

Seri Counter Buku FIkih Kebinekaan. Artikel ke 15.

 

Sebelumnya saya sudah memberikan tanggapan terkait tulisan M. Amin Abdullah yang telah saya tulis hingga 14 artikel. Sebenarnya masih 1 atau 2 artikel lagi terkait beberapa tulisan yang saya anggap bertentangan dengan fakta sejarah keilmuan dalam ilmu ushul fikih. Insyaallah lain waktu akan saya lanjutkan.

 

Setelah membaca tulisannya M. Amin Abdullah, saya membaca tulisan Hamim Ilyas. Judul tulisannya adalah “Rekonstruksi Ilmu Fikih”. Dari judul, terbayang di benak saya bahwa penulis akan membongkar mengenai berbagai kelemahan ilmu fikih, baik dari sisi ibadah, muammalah, fikih jinayat, fikih kontemporer atau lainnya. Setelah itu, penulis akan menghancurkan sebagian dari konstruksi ilmu fikih untuk kemudian dibangun kembali.

 

Sayangnya, dalam tulisan beliau, tidak saya temukan tulisan yang terkait dengan kelemahan bangunan fikih itu, baik dari sisi ibadah, muammalat, jinayat, peradilan, fikih kontemporer dan lainnya. Penulis malah banyak bicara tentang munasabah ayat dan sistem penafsiran teks al-Quran.

 

Dari situ, saya kecewa dengan judul yang bombastis, namun sama sekali tidak menyentuh tema sentral. Penulis sekadar membius pembaca untuk “penasaran” sehingga mau menelaah apa yang ditulisnnya.

 

Dilihat dari gaya bahasanya, sangat kacau,  tumpang tindih dan kadnag satu sama lain saling kontradiktif. Paragraph satu mengiyakan suatu persoalan, namun dalam paragraf berikutnya, terdapat pernyataan yang ,menolak. Pembaca dibuat bingung dengan maksud dari isi tulisan beliau ini.

 

Penulis seakan seakan sekadar “copy paste” dari berbagai sumber untuk kemudian dipaksakan disambung-sambung, dan “dipaksa” sesuai dengan judul. Meski dalam realitanya sama sekali tidak sesuai dengan tema dan judul bahasan. Jadi terkesan “mekso” sekali.

 

Berikut ini akan kami sampaikan mengenai berbagai kontradiksi dalam tulisan beliau. Ddi paragraph pertama, beliau menulis sebagai berikut:

 

“Keterpurukan umat Islam yang sangat mendalam dewasa ini dalam perspektif kebudayaan disebabkan oleh agama mereka yang tidak menginspirasi kejayaan”. (Fikih Kebinekaan, hal:85)

 

Membaca paragraf pertama ini, saya langsung kaget. Apakah penulis sadar dengan apa yang ia tulis? Ataukah ada kesalahan penulisan? Atau adakah kesalahan editing?

 

Betapa tidak, dalam tulisan ini, secara sharih penulis secara menyatakan bahwa keterpurukan umat Islam, adalah murni kesalahan agama Islam. Jadi, biang kerok kemunduran umat adalah faktor agamanya, bukan faktor keberagamaannya.

 

Ungkapan ini mengandung kesalahan sangat fatal. Jika memang agama menjadi sebab kemunduran dan keterpurukan umat, untuk apa beragama? Apakah ini awal dari rekonstruksi ilmu fikih? Jika agama sudah disalahkan, bukan lagi rekonstruksi, namun yang ada adalah dekonstruksi agama. Ganti saja agama ini dengan pemikiran manusia yang lebih dianggap modern dan memberikan inspirasi.  Jika agama sudah disalahkan sebagai penyebab kemunduran, tidak ada gunanya lagi berijtihad yang berlandaskan kepada al-Quran dan Sunnah nabi.

 

Anggapan bahwa agama bukan sebagai inspirasi kemajuan, selain berakibat fatal terhadap pemahaman keberagamaan, juga bertolak belakang dengan fakta sejarah. Bangsa Arab sebelum Islam, adalah bangsa terpinggirkan yang jauh dari poros peradaban dunia. Bangsa Arab bukan kekuatan yang dipertimbangkan. Bahkan di Mekah dan Madinah, belum ada kerajaan yang menaungi kehidupan sosial politik suku Arab. Mereka hidup bersuku-suku dan mudah terpecah belah.

 

Namun Islam merubah semuanya. Dengan Islam, Makah dan Madinah menjadi pusat peradaban. Dari Madinah ini, pancaran Islam berkembang ke seluruh jazirah Arab, bahkan sampai keluar dari Arab.

 

Dua imperium besar, Romawi dan Yunani yang menjadi kekuatan adikuasa di zamannya, digulung oleh Khilafah Islamiyah. Bukan hanya terkait dengan perluasan kekuasaan, umat Islam juga menguasai tegnologi paling modern dizamannya. Semua cabang ilmu pengetahuan berkembang pesat. Jutaan buku turas Islam yang tersebar di belahan dunia saat ini, menjadi sakti atas kemajuan peradaban Islam.

 

Lantas, di manakah letak kemunduran umat Islam yang diakibatkan oleh agamanya ini? Bagaimana kita dapat membantah fakta sejarah yang tidak hanya diakui oleh umat Islam, namun juga oleh bangsa-bangsa lain di dunia?

 

Jika saat ini umat Islam mengalami kemunduran, itu bukan karena agama Islam yang tidak inspiratif, namun lebih karena sikap umat Islam sendiri yang jauh dari agama. Umat yang jauh dari kitab suci dan tuntunan nabi. Jika umat Islam dapat menerapkan kandungan kitab suci dan juga mengikuti tuntunan Nabi dengan baik, maka kejayaan Islam seperti yang telah berlangsung sekian abad lalu, akan dapat terwujud kembali. Ringkasnya, ““Keterpurukan umat Islam yang sangat mendalam dewasa ini dalam perspektif kebudayaan disebabkan oleh agama mereka yang tidak menginspirasi kejayaan” terbantahkan dengan sendirinya. Wallahu a’lam

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 − nine =

*