Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Rasulullah SAW Bermusyawarah Waktu Perang Badar

gfsah

 

Pada tahun ke-2 dari Hijrah Rasulullah saw, terdengar berita bahwa Kafilah dari suku Quraisy sedang dalam perjalanan dari Syam menuju Mekkah. Kafilah tersebut membawa barang dagangan yang cukup besar.

 

Rasulullah bersama para 300 sahabat lantas keluar dari Madinah dengan tujuan untuk menghadang mereka. Sama sekali tidak terbersit di benak kaum muslimin bahwa mereka akan perang dengan kaum Qurasy.

 

Berita mengenai kaum muslimin yang akan menghadang kafilah Quraisy terdengar oleh Abu Sofyan. Ia  lantas memutar jalan sehingga kafilah dagang bisa lolos. Abu Sofyan sendiri berhasil mengirim utusan ke Mekah untuk memohon bantuan pasukan.

 

Bantuan dari kaum Quraish datang. Jumlah mereka cukup banyak, yaitu 1000 lelaki, 600 pakaian perang, 100 ekor kuda, dan 700 ekor unta. Persediaan makanan juga cukup melimpah. Sementara di sisi lain, pasukan dari kaum muslimin hanya 300 orang. Mereka tidak membawa senjata lengkap seperti kaum Quraisy. Kaum muslimin sendiri sesungguhnya keluar dari Madinah tidak ada niat untuk berperang. Mereka hanya ingin menghadang kafilah Quraisy yang jumlahnya sekitar 40 orang. Namun ternyata di lapangan tidak sesuai prediksi. Kafilah Quraisy bisa menghimpun pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah kaum muslimin. Melihat kenyataan tersebut, lantas Rasulullah saw mengumpulkan para sahabat untuk diajak bermusyawarah.

 

Para sahabat pun satu persatu mengutarakan pendapatnya. Abu bakar berbicara, namun Rasulullah saw berpaling. Umar berbicara, namun Rasulullah saw juga berpaling. Miqdad bin Al-Aswad ra., berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa as, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, kami akan duduk menunggu di sini’. Berangkatlah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan selalu bersamamu!”.

Rasulullah terdiam. Beliau menunggu komitmen dari kaum Anshar untuk ikut berperang. Apalagi ada sebagian dari kaum Anshar yang hadir pada waktu itu,. Tidak ikut baiat aqabah. Lalu salah seorang pimpinan dari kaum Anshar, Sa’ad bin Muadh angkat bicara, “Ya Rasulullah, mungkin yang engkau maksudkan adalah kami”. Rasulullah saw mengiyakan. Sa’ad kemudian berkata,
“Wahai utusan Allah, kami telah percaya bahwa engkau berkata benar, Kami telah memberikan kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan taat kepadamu. Demi Allah, Dia yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Jika engkau memasuki laut, kami akan ikut memasukinya bersamamu dan tidak ada seorangpun dari kami yang akan tertinggal di belakang. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan kepadamu bahwa sikap kami ini akan menyukakanmu. Maka Majulah bersama-sama kami. Letakkan kepercayaan kami di dalam keberkahan Allah”.

Rasulullah sangat gembira dengan tanggapan Saad. Kemudian beliau bersabda, “Majulah ke depan dan yakinlah yang Allah telah menjajikan kepadaku untuk mendapatkan satu dari keduanya (khafilah dagang atau perang). Demi Allah, seolah olah aku telah melihat pasukan musuh kalah“.

Pasukan Muslimin bergerak maju dan kemudian berhenti sejenak di tempat yang berdekatan dengan Badar. Badar sendiri merupakan tempat paling dekat dari Madinah. Ia terletak di utara Mekkah. Salah seorang sahabat bernama Al-Hubab bin Mundhir ra. bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah Allah yang telah mewahyukan kepadamu untuk memilih tempat ini atau ia hanya sekadar strategi perang dan hasil musyawarah?”. Rasulullah saw bersabda, “Ini hanya strategi perang dan keputusan musyawarah“. Al-Hubab lalu mengusulkan kepada Rasulullah saw agar pasukan muslimin bermarkas lebih ke selatan tempat yang paling dekat dengan sumber air. Lalu di sana kaum muslimin membuat kolam persediaan air untuk mereka dan menghancurkan sumber air yang lain. Dengan demikian, orang kafir Quraisy tidak akan mendapatkan air. Rasulullah saw menyetujui pendapat tersebut.

 

Sa’ad bin Muadh mengusulkan untuk membangun kemah atau benteng pertahanan untuk Rasulullah saw. Tujuannya untuk melindungi beliau dan sebagai markas bagi pasukan kaum muslimin. Rasulullah saw dan Abu Bakar ra. tinggal di dalam benteng sementara Sa’ad bin Muadh dan sekumpulan lelaki menjaganya.

 

Dari peristiwa di atas, kita bisa melihat mengenai sikap Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Meskipun beliau adalah seorang Nabi, namun beliau tidak segan-segan untuk bermusyawarah dan meminta pendapat dari para sahabat. Musyawarah ini memang sudah menjadi ciri bagi kaum muslimin. Dalam kondisi apapun, kaum muslimin tidak akan segan-segan untuk bermusyawarah kepada saudaranya.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open