Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ragu-ragu

raguragu-allaboutryandiblogspotcomApakah ‘ragu-ragu’ itu?

Menurut Abu Hasyim, ragu ragu adalah ketiadaan ilmu
Namun pendapat ini ditolak oleh al-Amidi
Karena benda mati juga tiada ilmu
Namun tidak disbeut ragu ragu
Jika dikatakan, ketiadaan ilmu yang (tidak tau) semestinya ia berilmu (semestinya tau), juga tidak dapat diterima
Karena dengan ketidak tauannya tersebut, ia tidak dapat menghukumi sesuatu benar atau salah
Jadi ia tidak ragu2

Ada juga yang berpendapat, ragu adalah dua keyakinan yang saling beruntun dan tidak mungkin disatukan
Pendapat ini juga tidak dapat diterima
Karena ketika orang percaya dan yakin, itu artinya ia tidak ragu
Lantas ketika datang keyakinan ke dua, dia juga tidak ragu dengan keyakinannya tsb.
dua keyakinan tadi tidak ada yang ragu.
Ada juga yang menyatakan, ragu adalah persamaan antara dua keyakinan pada peragu (orang yang ragu) dengan keyakinan bahwa keduanya tidak dapat disatukan
Ini jugaa tidak dapat diterima, karena masih menggunakan kata yakin
Dan keyakinan bukanlah keraguan

Abu Maali mengatakan bahwa ragu-ragu adalah keraguan dalam suatu keyakinan
Pendapat ini jugaa lemah, karena menggabungkan antara yakin dan ragu dalam satu waktu
Dan itu mustahil
Sementara ragu menurut imam Amidi adalah keberadaan dua perkara yang saling bertentangan, yang tidak dapat diketahui secara pasti mana yang diyakini dalam diri seseorang
Ragu bukanlah ilmu, karena mustahil seseorang mengetahui sesuatu, namun dalam satu waktu ia ragu
Contoh: saya makan atau tidak ya, pergi atau tidak ya, yang benar ini atau itu ya

Ragu-ragu sendiri harus berkaitan dengan dua pilihan
Jika salah satu sudah diyakini, maka keraguan sudah hilang

Apakah ragu-ragu harus berhubungan dengan dua perkara? Apakah seseorang dapat ragu-ragu dan namun di sini lain tidak ragu-ragu?

Jawabannya mirip seperti pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu dan bodoh
Ragu-ragu bisa terjadi dalam perkara yang bersifat daruri dan bisa juga terjadi diperkara yang bersifat kasbi
Karena keraguan merupakan awal dari keyakinan, bahkan bisa jadi keraguan merupakan anjuran. Dalam hal yang berkaitan dengan perkara ijtihadi, ragu-ragu tidak dipersoalkan. Sementara, ragu-ragu dengan Sang Pencipta menurut Abu Bakar dan Abu Hasyim, juga tidak mengapa
Karena bagi mereka, berfikir untuk mengetahui Allah secara pasti, adalah sebuah kewajiban, dan biasanya, ini dimulai dari keragu raguan seseorang. Bahkan ragu disini menjadi wajib
Suatu keyakinan yang wajib yang harus dimulai dengan keraguan, maka ragu menjadi wajib. Sesuai dengan kaidah maa laa yatimmul waajib illaa bihi fahuwa waajib

Namun ada juga yang menyangkal pendapat di atas. Karena banyak juga perkara yakin, namun tidak didahului dengan ragu-ragu terlebih dahulu. Secara akal haltersebut mungkin terjadi.

 

Tidak semua perkara yang wajib (diperintahkan) harus didahului dengan kewajiban, karena bisa jadi manusia tidak mempunyai kemampuan dalam mewujudkan prasarana kewajiban, seperti kehidupan, yang memberi prasarana hanya sang pencipta.

 

Hal ini sesungguhnya terkait dengan pertanyaan, apakah makrifatullah (mengetahui zat sang pencipta) harus dengan akal dulu atau naql?
Muktazilah dengan akal, sementara asyariyah dengan nakl
Juga terkait baik dan buruk, apakah dapat diketahui dengan akal?
Muktazilah dengan akal sementara asyariah dengan naql

Muktazilah menganggap bahwa baik buruk merupakan sifat dzatiyah, sementara Asyariyah tidak demikian. Juga terkait, apakah baik dan buruk itu sebagai sifat dzatiyah atau bukan?

Yang dimaksud dengan dzatiyah adalah bahwa pada dasarnya, esensi sesuatu itu menjadi baik atau buruk sesuai dengan timbangan akal. Contoh, perbuatan mencuri itu, adalah buruk,
Sementara bagi Asyariyah, baik buruk bukan sifat zatiyah. Artinya perbuatan mencuri itu buruk, bukan karena perbuatan itu buruk, namun karena nas yang menyatakan itu buruk (terlarang)

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 + 1 =

*