Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Qaul Jadid dan Qadim, Justifikasi Subyektifitas Penafsir?

imam-syafii

Seri counter fikih kebhinekaan. Artikel ke 35.

 

Pada halaman 106-107, Muhammad Azhar berkata:

 

Al-Quran tidak akan berubah, tetapi tafsir dan para doktor tafsir akan terus bermunculan. Syariat Islam sudah tetap pada dimensi universalitasnya (kulliyyah), sementara fikih yang berada pada dimensi juz’iyyahnya akan terus berubah sesuai dengan dinamika zaman (al-hukmu yadûru ‘ala ‘illatihi). Meminjam terma Imam Syafii, ulama sekarang harus membuat qaul jadîd (pandangan baru), agar tidak hanya berkutat dan berkubang pada qaul qadîm

 

Mari kita lihat:

 

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang tsawabit sehingga para ulama sepakat atas satu pendapat tertentu. Pemahaman atas ayat-ayat tadi tidak akan pernah berubah sepanjang zaman, yaitu ayat terkait al-ghaibiyat, al-akhlaqiyyat dan hukum yang sifatnya qat’iy dilalah. Dalam ranah ini, tidak diperkenankan seorang ulama membuat qaul jadid.

 

Penulis menggunakan justifikasi madzhab Imam Syafii yang ada qadim dan jadid. Menurutnya, perbedaan tadi karena perubahan ruang waktu. Jika kita lihat dari fikih Syafii, qaul jadid beliau tidak ada satu pun yang terkait dengan tiga hal di atas. Qaul jadid Imam Syafii terkait dengan fikih praktis dan fatwa dan bukan ayat-ayat yang sifatnya qat’I dilalah.

 

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah qaul jadid Syafii, ada yang mengatakan 13, 15, 17 atau 23. Jadi sesungguhnya, tidak terlalu banyak yang dirubah dari fikih Imam Syafii tersebut.

 

Di antara perubahan fatwa Syafii dari qadim ke jaded sebagai berikut:

  1. Menggunakan bejana emas atau perak. Madzhab qadim makruh tanzihi. Madzhab jadid makruh tahrimi.
  2. Wudhu dengan membasuh sepatu yang lobang. Madzhab qadim boleh. Madzhab jaded, boleh dengan syarat, lobang di sepatu tidak menampakkan kakinya.
  3. Barang yang kena jilatan anjing. Madzhab qadim. Tidak harus dicuci. Madzhab jadid, harus dicuci enam kali.
  4. Tidak berurutan dalam membasuh anggota badan waktu berwudhu karena lupa. Madzhab qadim, wudhunya sah. Madzhab jadid, wudzhunya tidak sah.
  5. Ketiduran waktu shalat. Madzhab qadim, shalatnya tidak batal. Madzhab jadid, shalatnya batal.
  6. Perempuan yang ditinggal suami dan tidak ketahuan suami masih hidup atau sudah meninggal. Madzhab qadim, ia menunggu sampai empat tahun sehingga ada berita tentang suaminya. Jika tidak ada berita, maka suami dianggap telah meninggal dunia dan wanita tadi melakukan iddah selama empat bulan sepuluh hari. Sementara di madzhab baru, ia tidak boleh menikah dan beriddah, sampai ada berita pasti tentang suaminya. Dam lain sebagainya.

 

Jika kita perhatikan, tidak ada satu pun pendapat Syafii yang berubah terkait dengan ketuhanan, malaikat, hari kiamat, surga-neraka, hisab dan perkara ghaibiyat lainnya. Juga tidak ada perubahan fatwa Syafii terkait dengan akhlak dan hukum-hukum fikih praktis yang sudah qat’iy dilalah.

 

Jadi, menggunakan perbedaan madzhab Syafii qadim dan jadid untuk legitimasi tentang subyektifitas penafsir al-Quran, sama sekali tidak sesuai. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 × 4 =

*