Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Produk Fikih Yang Tekstual?

download_kitab_fiqhul_islam

Seri counter buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 42.

 

Di halaman 109. Muhammad Azhar berkata:

 

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa epistemologi Islam klasik lebih bersifat—meminjam format filsafat Platonian—idealistik-ontologik-metafisik, maka pada umumnya, produk fikih yang dihasilkan cenderung bersifat—meminjam perspektif M. Abed al-Jabiri—tekstual-bayani. Atau dalam perspektif kajian literatur tafsir dan fikih klasik, prinsip al-‘ibrah bi-umûmi al-lafzh (pemaknaan tekstual), lebih dominan. Dengan demikian, produk fikihnya bersifat literal dan cenderung terikat dengan masa lalu kesejarahan Islam ketika Al-Quran dan Hadis diturunkan. Maka tidak mengherankan, kajian dan pengajaran kitab-kitab tafsir, hadis, akidah, fikih, tarikh dan akhlak dewasa ini umumnya masih menggambarkan “suasana dan ruang historis” yang klasik tersebut.

 

 

Mari kita lihat:

Apakah yang dimaksudkan dengan episteme bayan? Epistem bayan maksudnya adalah menjadikan teks sebagai sumber pengetahuan. Ia mempunyai struktur epistem yang cukup kokoh dengan melakukan kajian induktif dari berbagai teks bahasa Arab, lantas dari teks Arab dirasionalisasikan dan dijadikan sebagai format dalam merumuskan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Banyak piranti keilmuan yang dibutuhkan seorang ulama bayan untuk dapat merumuskan secara logis berbagai terma filsafat bayan tersebut untuk kemudian dibumikan secara praktis dalam kitab karya mereka, di antaranya adalah ilmu-ilmu bahasa seperti nahwu, sharaf, balagha dengan tiga cabangnya; badi’bayan. Maaniy, arud dan lain sebagainya.

 

 

Para ulama bayan pun merumuskan kiyas bayan, dengan melihat dari sisi asal, illat, cabang dan ketentuan hukum sehingga jika ada suatu persoalan yang masih terkait, bisa dikiyaskan dan disamakan ketetapan hukumnya. Kiyas bayan seperti ini berlaku baik di ushul fikih, nahwu, sharaf, ilmu kalam dan lain sebagainya. Hanya penamaannya saja yang berbeda. Di ushul fikih dinamakan sebagai kiyas, di ilmu kalam sebagai kiyas ghaib al syahid, di ilmu sharaf dengan wazan dan mauzun dan di nahwu dengan kiyas fi al-lugha, lain sebagainya.

 

Logika bayan yang sangat filosofis bukan saja berlaku dalam sistem kiyas, namun juga banyak kita temukan dalam berbagai perdebatan kebahasaan lainnya termasuk dalam ilmu nahwu. Belajar episteme bayan, sama halnya dengan belajar bagaimana orang Arab berfikir, berlogika dan berfilsafat.

 

Dari logika bayan, muncul banyak cabang ilmu pengetahuan dengan rumusan keilmuan yang sangat matang dan logis. Sebut saja misalnya, ilmu kalam, ilmu tafsir, syarah hadis, fikih, ushul fikih dan lain sebagainya. Tatkala kita membaca berbagai cabang keilmuan Islam tadi, kita akan menemukan bahasan yang sangat dalam, logis dan filosofis.

 

 

Ulama bayan bukan saja mampu memecahkan persoalan praktis seperti yang terdapat dalam buku-buku fikih, namun juga mampu memecahkan persoalan rumit terkait dengan bahasan filsafat. Ulama bayan bahkan melawan filsafat dengan tetap menjadikan teks al-Quran sebagai pijakan episteme. Hal ini terlihat jelas tatkala kita membaca buku-buku ilmu kalam. Contoh sederhana adalah kita Tahafut al-Falasifahnya karya Ghazali. Buku ini sangat rasional dan jauh dari nuansa tekstual. Ia membedah logika filsafat, ditelaah dan ditanggapi secara ilmiah. Ghazali menganggap terdapat 20 persoalan dari filsafat yang menyimpang dari ajaran agama.

 

Kita jug bisa melihat kita al-Ibkar karya Imam Amidi. Dari awal bahasan, Amidi mengkaji persoalan ilmu pengetahuan dan wujud. Dua bahsan yang menjadi ciri khas kajian filsafat. Dalam bahasa-bahasan tersebut, Amidi memaparkan secara gamblang mengenai pandangan para filsuf, kemudian men-counter secara ilmiah dan sangat detail. Beliau mengungkapkan satu paragraf dari ungkapan para filsuf sesuai dengan buku yang beliau counter, kemudian dilihat kelemahan satu persatu dari isi paragraf tersebut.

 

 

Bahasan model seperti ini juga kita dapatkan dalam kitab kalam lainnya seperti al-Mawaqif karya Imam iji, Nihayatul Aqdam fi Ilmil Kalam karya karya asy-Syahrustani, Ushuluddin karya Abdul Qahir al-Baghdadi dan lain sebagainya. Untuk buku kontemporer, kita bisa melihat corak kalam baru seperti Ayat-ayas Semesta (AAS) karya Kyai Agus Purwanto, penggagas Trensains. AAS sesungguhnya adalah kitab kalam dengan modernisasi data. Dari sisi epistem dan struktur pemikiran,  sesungguhnya tidak jauh beda dengan kitab kalam klasik. Buku lainnya seperti tafsir ilmi karya Zahglul an-Najjar, pakar tafsir sains asal Mesir.

 

 

Sementara itu, terkait dengan persoalan umat secara lansgung, kita dapat menemukan berbagai kitab fikih, seperti al-Um karya Imam Syafii, Majmu Syarhul Muhadzab karya Imam Nawawi, Al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hanbali, al-Iqna karya Abu Suja dan lain sebagainya. Untuk ushul fikih kontemporer, bisa kita baca, Fiqhul Islam wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhaili, buku-buku fikih karya Dr. Qaradhawi seperti Fiqhuzzakat, Fatawa Ma’ashirah, Al-hala wal Haram fil Islam dan lain sebagainya. Bisa juga kita lihat buku-buku karya Syaih Ali Jumah seperti Maushu’ah al-Fatawa al0Mu’ashalah, al-Fatawa ar-Ramdhaniyyah, Fatawa al-Bait al-Muslim, Al-bayan Lama Yasyghulu al-Adzhan dan lain sebagainya.

 

Buku-buku perbankan syariah kontemporer, sesungguhnya merupakan buku yang tetap berpijak dari fikih klasik dengan menggunakan episteme bayan. Dalam buku perbankan kontemporer, kita tetap akan menemukan bahasan seperti investasi (istismar), mudharabah, murabahah, msusyaqah, muzara’ah, syirkah dan seterusnya. Lihat saja misalnya buku Ishamatul Fuqaha Fil Furudh al-Asasiyyah li Ilmil Iqtishad karya Rafiq al Mishri, Al-Bai Alal Ash-Shifah lil ‘ain al-Ghaibah wa ma Yatsbutu fi Dzimmah Ma’al Isyarah ila At-Tadhbiqat al-Ma’ashirah fil Mu’ammalat al-Maliyyah karya al-Iyasyi Fadadi. Untuk Indonesia, bisa kita lihat buku-buku karya Syafii Anthoniyo seperti buku Bank Syariah.

 

Belum lagi kita melihat buku-buku tafsir modern seperti tafsir Sya’rawi, tafsir karya Syaih Thantawi, tafsir karya Hamka, Quraisy Syihab dan lainnya. Demikian juga dengan buku-buku syarah hadis seperti syarah hadis nawawi karya Muhammad Thatai.

 

Apakah dengan bukti ini, kita masih mengatakan bahwa bahwa “epistemologi Islam klasik lebih bersifat—meminjam format filsafat Platonian—idealistik-ontologik-metafisik, maka pada umumnya, produk fikih yang dihasilkan cenderung bersifat—meminjam perspektif M. Abed al-Jabiri—tekstual-bayani. Atau dalam perspektif kajian literatur tafsir dan fikih klasik, prinsip al-‘ibrah bi-umûmi al-lafzh (pemaknaan tekstual), lebih dominan. Dengan demikian, produk fikihnya bersifat literal dan cenderung terikat dengan masa lalu kesejarahan Islam ketika Al-Quran dan Hadis diturunkan. Maka tidak mengherankan, kajian dan pengajaran kitab-kitab tafsir, hadis, akidah, fikih, tarikh dan akhlak dewasa ini umumnya masih menggambarkan “suasana dan ruang historis”?

 

Di manakah letak tekstualnya? Di manakah letak masa lalunya? Jika menggunakan episteme bayan dianggap kembali kepada sejarah masa lalu, mengapa para ulama besar dunia masih menggunakannya dan buku-buku mereka menjadi rujukan berbagai perguruan tinggi Islam dunia? Mengapa buku-buku mereka justru dianggap memberikan solusi alternative atas persoalan umat? Mengapa merkea tidak dituding sebagai ulama yang ketinggalan zaman dan terkungkung dengan sejarah masa lalu?

 

Manakah hasil dari karya Muhammad Azhar dengan “episteme barunya” yang kiranya menjadi rujukan dunia dan memberikan solusi alternatif atas persoalan umat? Manakah bukti ril karya beliau baik dari sisi fikih, tafsir, syarah hadis, kalam, filsafat dan lainnya sehingga kita tidak sekadar membaca letupan ide dari beliau saja, namun juga bisa melihat secara langsung bukti ril dari kayra beliau? Jika tidak, sama artinya Muhammad Azhar sekadar berhayal dalam romantisme pribadi yang tidak membumi. Wallahu a’lam

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × one =

*