Thursday, April 26, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Problem Pendekatan Sirkular Antara Bayan, Burhan dan Irfan

ghs

1. Apa yang saya tulis di atas bersandar dari hasil manhaj tarjih Muhammadiyah yang sudah dimunaskan tahun 2005. Setau saya tahun 2013 tidak ada munas tarjih, apalagi sampai membuat keputusan untuk mentakhsis atau memberian keterangan tambahan terkati makna irfan di Muhammadiyah menjadi ihsan. Karena belum ada munas tarjih, jadi saya tetap berpegang kepada hasil munas tarjih di atas. Atau info ini belum sampai ke saya. Untuk itu jika hasilnya ada, mohon di share agar saya tidak salah tangkap.
2. Memang banyak di kalangan Muhammadiyah yang memahami irfan sebagai ihsan. Dulu di sini, saya dan ust dadang juga pernah diskusi soal ini. Lagi-lagi, soal makna irfani sebagai ihsan ini belum ada keputusan dari majelis tarjih. Ia baru pendapat personal saja.
3. Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, manhaj irfan bersifat umum. Ia adalah episteme besar yang digunakan para sufi untuk meraih kebenaran. Keterangannya persis seperti yang termuat dalam manhaj tarjih seperti yang sudah saya cantumkan di atas. Sependek pengetahuan saya, ulama terdahulu tidak pernah memaknai irfan hanya sebagai ihsan. Irfan merupakan satu epistem besar yang di dalamnya masih ada banyak mazhab yang setiap mazhab punya konstruksi pemikiran masing masing. Jika Muhammadiyah “membelokkan” istilah irfan dengan ihsan, ini artinya Muhammadiyah membelokkan makna ihsan yang sudah terpatri di khazanah pemikiran islam klasik sekian ratus tahun menjadi makna yang berbeda. Tentu ini tidak salah, namun bagi orang yang terbiasa dengan kitab kuning, tatkala mendengar irfan maka bayangannya adalah manhaj irfan seperti dalam kitab kuning tadi. Jadi, perlu keterangan lebih rinci alas an irfan hanya bermakna ihsan saja supaya pembaca tidak salah tangkap.
4. Terkait pernyataan berikut:
a. Hendaknya manhaj difahami dalam satu kesatuan, tidak dipecah /dipisahkan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya
b. Ketiga pendekatan bayani, burhani dan irfani dalam manhaj tarjih disebutkan sebagai satu kesatuan pendekatan secara sirkular bukan tiga pendekatan yang terpisah dan mandiri (mustaqillah/fararel). Jadi tidak dibenarkan ada satu putusan tarjih yang dasarnya hanya irfani semata-mata tanpa melibatkan pendekatan bayani dan burhani. Tidak akan ada putusan tarjih yang hanya didasarkan pada irfani semata tanpa dasar al-Qur`an dan al-Sunnah yang didekati secara bayani atau burhani.
Pertanyaan saya,
a. pendekatan sirkular itu seperti apa?
b. Jika ada benturan antara tiga episteme tadi, mana yang harus didahulukan?
Biar mudah saya akan memberikan contoh sebagai berikut:

Qiyas burhan:
Kiyas burhan bersandar pada kiyas arestoteles. Syarat kiyas burhan ada 4, yaitu muqadimah sughra, mukadimah kubra, rabithlhad al awsat dan naticah. Mukadimah kubrah merupakan bagian dari mukadimah sughra. Mukadimah kubra harus benar dan bersifat aksiomatis. Caranya dilakukan istiqra di mukadimah sugranya. Hasil dari kiyas burhan pasti benar dan bersifat qati. Dalam fikih islam yang menggunakan kiyas burhan adalah mazhab zhahiriyah yg dikuatkan oleh ibnu hazm.

Kiyas bayan
Syaratnya ada empat, yaitu asal, cabang, illat dan hokum. Antara cabang dan asli, tidak ada hubungannya. Ia merupakan dua hal yang berbeda. Kiyas dilakukan, karena ada persamaan illat dengan menggunakan masalikul illat. karena asli dan cabang merupakan dua hal yang berbeda, dan kebenaran illat juga tidak pasti, maka hasil dari kiyas bayan ini sifatnya zhanni (tidak pasti). Artinya masih ada kemungkinan salah.

Kiyas irfan
Syaratnya juga empat, yaitu asli, cabang, illat dan hokum
Antara asli dan cabang merupakan dua hal yang berbeda. Kiyas dilakukan karena persamaan illat. hanya saja, illatnya ini sangat subyektif dan menggunakan kemampuan intuitif setiap personal dengan kemampuan kasyfnya masing-masing. Hasil dari kiyas ini juga sangat subyektif dan bisa berbeda antara satu dengan orang lain.

Kesimpulan:
Hasil kiyas burhan : bersifat pasti (qat’iy)
Hasil kiyas Bayan : Bersifat zhanni (tidak pasti)
Hasil kiyas Irfan : Bersifat subyektif.

Pertanyaannya:
1. Bagaimana menggunakan pendekatan sirkular atar tiga kiyas tadi?
2. Jika terjadi benturan antara satu dengan yang lain, mana yang dirajihkan dan mengapa? Bukankah tidak ada ketentuan system tarjih jika terjadi benturan?
3. Bagaimana juga menanggapi berbagai mistisme di irfan, sementara mereka juga merasa berpedoman dengan quran sunnah (contoh pemahaman irfan sufi al-halaj, syaih siti jenar, ibnu arabi yang oleh sebagian orang dianggap wihdatul wujud)

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open