Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Primbon, Mujarrabat dan Al-Jafar

gsahh

 

Waktu kecil, saya pernah menemukan kitab primbon. Gambar sampulnya bertuliskan “Primbon Jawa” dengan gambar sunan Kalijaga. Saya buka-buka, isinya amal-amalan berbagai macam. Temanya pun macam-macam, dari cara menagih hutang, cara supaya hidupnya dipermudah hingga cara supaya panennya baik.

 

Waktu ke masjid, ada tumpukan buku. Saya coba bongkar-bongkar. Di situ saya menemukan buku yang lebih unik lagi. Buku tidak bersampul dan bertuliskan jawa pegon (jawa dengan huruf Arab). Isinya juga macam-macam, di antaranya masalah pengasihan. Di situ ada gambar-gambar lingkaran yang dipenuhi huruf-huruf hijaiyah yang tidak bisa dipahami. Hanya sekadar huruf-huruf dalam kotakan lingkaran saja.

 

Waktu di Mesir beberapa tahun silam, saya sempat jalan-jalan di belakang universitas al-Azhar. Di sana saya menemukan buku dengan judul “Mujarrabat”. Buku-buku itu hampir mirip dengan buku yang saya temukan di masjid kampung ketika saya masih kecil. Oh, ternyata buku yang di masjid itu buku mujarrabat. Hanya saja, ia berbahasa jawa, sementara yang ini berbahasa Arab.

 

Pas di depan al-Azhar, saya masuk ke salah satu penjual buku. Di rak buku saya melihat judul buku yang sangat unik. Judulnya, Aljafar. Setelah saya buka, buku ini mirip dengan mujarrabat, tapi bahasannya lebih luas lagi. Ia tidak hanya berisikan tentang rahasia huruf, tapi juga ramalan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.  Aljafar biasanya dinisbatkan kepada imam jakfat shadiq. Hanya kebenarannya masih diragukan. Sama dengan primbon jawa yang sering dinisbatkan kepada sunan kalijaga, yang kebenaran sanadnya juga dipertanyakan.

 

Primbon jawa, mujarrabat dan aljafar memang ada kemiripan. Ada titik persamaan antara ketiganya, yaitu sama-sama membahas tentang huruf-huruf dan amal-amalan agar apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Primbon jawa membahas tentang nasib manusia dari lahir hingga meninggal. Primbon jawa mengatur tentang kehidupan manusia agar mendapatkan kebaikan di dunia dengan melakukan hitungan matematis, baik melalui tanggal lahir, urutan anak, dan lain sebagainya. Primbon bahwan mengatur mengenai hari baik dan hari buruk sehingga seseorang boleh menikah, menanam atau melakukan hajat.

 

Kemiripan Primbon jawa dengan mujarabat disistem hitungand engan huruf-huruf itu. Prediksi saya, primbon jawa merupakan “gabungan” antara mujarrabat dengan versi arab dengan mistisme jawa. Sementara itu, mujarrabat mrupakan “primbon” Aran.

 

Ilmu huruf tadi ternyata sudah lama berkembang. Ibnu khaldun sendiri dalam Muqadimahnya membuat bab khusus dengan judul asrarul huruf, yaitu rahasia-rahasia abjad. Ia dituliskan dengan lingkaran dan kotak-kotak, lalu abjad arab dimasukkan dalam kotak-kotak tadi. Di Jawa umumnya disebut dengan rajah. Rajah ini banyak fungsi, selain untuk hitungan nasib tadi, juga bisa berfungsi untuk dijadikan sarana memikat orang, menarik simpati orang, mendapatkan pesugihan, mendapatkan keberuntungan dan lain sebagainya.

 

Ada lagi kitab “kesaktian” yang sangat terkenal yaitu kitab Syamsul Maarif al-Kubra. Buku itu pernah saya lihat di rumah teman saya. Ternyata buku  itu asalnya dari Mesir.  Syamsul Maarif bukan hanya berisikan rajah, tapi juga amal-amalan agar kita bisa kebal dan punya kesaktian mandraguna.

 

Primbon Jawa, Mujarrabat, Syamsul Maarif al-Kubra dan al-Jafar sesungguhnya lebih layak jika disebut dengan buku perdukunan. Buku-buku itu tidak layak untuk diamalkan. Bahkan mengandung kesyirikan. Penentu nasib manusia bukanlah hitungan matematsi, bukan juga amal-amalan baik doa atau puasa ngrowot, weton, mutih dan lainnya. Penentu nasib manusia hanyalah Allah semata.

 

Untuk kesaktian dengan doa dan rajah-rajah tertentu, bisa dipastikan itu adalah bantuan dari jin. Al-Quran sendiri secara jelas melarang manusia untuk meminta bantuan jin karena jin hanya akan menambah kesesatan bagi manusia saja.

Firman alah:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

 

Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin : 6)

Perdukunan diharamkan oleh agama. Dalam hadis nabi, beliau bersabda:

من أتى عرافاً فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة

Artinya: Barangsiapa mendatangi tukang ramal. kemudian dia menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. (HR. Muslim)

من أتى كاهناً أو عرافاً فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد

Artinya: Barangsiapa yang mendatangi tukang tenun atau tukang ramal, kemudian dia mempercayai apa yang ia katakan, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.

 

Jika mendatangi perdukunan saja haram, apalagi mempraktekkan sendiri amalan-amalan dukun itu. Tentu ini jauh lebih haram lagi.

 

Kepercayaan seseorang kepada dukun itu, menyebabkan ia dihukumi kafir. Ini jelas dan sharih dari sabda Rasulullah di atas. Maka jangan sekali-kali mempraktekkan perdukunan, atau melakukan amal-amalan yang tidak jelas sumber hukumnya yang tidak dituntunkan oleh al-Quran dan Sunnah Nabi. Hindari buku-buku seperti Primbon Jawa, Mujarrabat, Syamsul Maarif Kubra, al-Aufaq dan Aljafar.

 

Jika mengamalkan Syamsul Maarif kubra lalu bisa sakti, bisa makan beling, jalan di atas air, memasukkan paku di dalam pohon pisang dan semacamnya, percayalah bahwa itu berasal dari bantuan jin. Jika sudah sekali Anda minta bantuan jin dan berhasil, maka Anda akan ketagihan. Anda akan selalu bergantung kepada jin dan menjadi budak jin. Anda akan melupakan Allah dan pada akhirnya Anda menyembah selain Allah. Naudzhubillah. Wallahu alam.

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 − 5 =

*