Tuesday, March 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Praduga (Dzan)

 

Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-42

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

 

Praduga adalah mengira akan kebenaran atau kesalahan sesuatu. Kebenaran atau kesalahan yang sifatnya praduga, tidak  sampai derajat benar atau salah 100 persen. Masih ada ruang di sana akan kesalahan atau kebenaran. Kebenaran yang dihasilkan dari sifat praduga, tidak sampai kepada kebenaran dengan derajat yakin.

Bedanya dengan ragu-ragu, bahwa ragu-ragu menandung unsur kebingungan, sementara praduga tidak. Ragu-ragu, umumnya juga sikap pertengahan antara iya atau tidak, antara benar atau salah. Ragu-ragu terkait dua hal yang saling bertentangan. Kadang seseorang ketika ingin menentukan pilihan, merasa bimbang apakah akan memilih yang ini ataukah yang itu. Kebingunan itu muncul karena sifat ragu-ragu tersebut.

Dalam hukum syariat, praduga dibagi menjadi tiga. Pertama praduga terkait dengan persoalan akidah, kedua praduga terkait dengan persoalan fikih dan ketiga praduga terkait dengan persoalan akhlak.

Terkait dengan persoalan akidah, para ulama kalam baik dari kalangan ahli sunnah, khawarij, syiah, muktazilah dan lainnya berpendapat bahwa ia sifatnya yakin dan tidak boleh berdasarkan kepada pengetahuan yang sifatnya praduga. Persoalan akidah adalah persoalan yang sangat penting dan fital. Iya menyangkut keyakinan manusia terhadap Tuhan sang pencipta alam. Ia sangat menentukan keberlangsungan kehidupan dia baik di dunia dan akhirat.

Oleh karena akidah terkait dengan persoalan yang sangat fital, maka ia tidak boleh dibangun di atas keyakinan yang sifatnya prasangka saja. Ia harus didasari dari keyakinan yang kuat. Oleh karena itu, para ulama kalam seperti imam Haramain, imam ar-Razi dan lainnya dengan mendefinisikan iman sebagai berikut:

الإيمان  بالتصديق الجازم المطابق للواقع عن دليل

Iman adalah kepercayaan secara pasti yang sesuai dengan realita disertai dengan bukti.

Banyak sekali ayat al-Quran terkait keimanan ini. Di antaranya firman Allah berikut ini:

Firman Allah Ta’ala :

قُولُوا ءَامَنَّا بِاللهِ وَمَآأُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآأُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَاْلأَسْبَاطِ وَمَآأُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَآأُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وِنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ {136}

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah:136)


( إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا 
وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ )الأعراف/ 54.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raf: 54)

Jadi ketika kita beriman dan percaya kepada Allah sebagai Tuhan kita, maka kepercayaan itu harus sampai derajat yakin dan tunduk sepenuh hati. Tidak diperbolehkan beriman kepada Allah, namun dalam keraguan, misal ia beribadah, namun masih meragukan Allah ada atau tidak. Para ulama kalam bahkan berpendapat bahwa mereka yang menganggap Tuhan sekadar prasangka saja, dianggap kafir.

{يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ}  

Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. (QS;3;154)

 

Adapun ungkapan المطابق للواقع عن دليل (yang sesuai dengan realita disertai dengan bukti), maksudnya adalah percaya kepada Tuhan sesuai dengan pokoknya. Tuhan adalah satu, maknanya mutabiqan lil waqi, atau sesuai dengan kebenaran yang nyata. Jika seseorang percaya dengan pasti adanya Tuhan, dia pun berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, namun Tuhan dia adalah para dewa, atau Tuhan Tiga (trinitas), maka keyakinannya tersebut dianggap batal. Hal ini, keyakinan dia tersebut tidak sesuai dengan realita.

Adapun عن دليل (disertai dengan bukti), maknanya adalah bahwa keyakinan kita, bukan sekadar taklid buta. Kita percaya dengan keberadaan Tuhan Sang Maha Kuasa, bukan karena ikut orang tua, nenek moyang atau masyarakat di mana kita tinggal, namun keyakinan yang berdasarkan pada bukti. Keberadaan diri kita, manusia, gunung-gunung, lautan, alam raya seisinya dan lain sebagainya, menjadi bukti ril mengenai adanya Tuhan.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

Artinya: “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” 

 

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Artinya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah, yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka.” (QS.Saad | ayat: 27)

 

أَفَلاَ يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ()  وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ()وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ()وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ  ()فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ ()لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ ()إِلاَّ مَن تَوَلَّى وَكَفَرَ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,  18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? 19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? 20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? 21. Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. 22. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, 23. tetapi orang yang berpaling dan kafir,

 

Dengan keyakinan ini, ia akan mengorbankan apapuin, termasuk jiwanya guna mempertahankan keyakinan yang sudah terpatri dalam hatinya. Dalil, bagi ulama kalam sering disebut dengan nazhar, sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya.

Oleh karena keimanan adalah urusan prinsipil dan harus dilandasi oleh keyakinan dan bukan praduga, maka dalil dan argumen yang harus digunakan adalah dalil yang juga sifatnya pasti atau qat’iy. Dalam ushul fikih, dalil yang datangnya pasti benar, disebut dengan qat’iyul wurud. Dalil yang masuk dalam bagian dari dalil qat’iyyul wurud adalah al-Quran dan hadis mutawatir. Inilah mengapa para ulama kalam seperti imam Haramain, Imam Ghazali, imam ar-Razi, imam Baidhawi dan lain sebagainya menyatakan bahwa untuk urusan akidah, hanya menerima berita yang qat’i, yaitu berita yang berasal dari ayat al-Quran atau hadis mutawatir.

Ini artinya bahwa hadis ahad tidak bisa diterima dalam urusan akidah, karena sifatnya praduga (dzan). Berhubung derajatnya dzan, ia bisa benar dan bisa salah. Urusan akidah, harus benar. Tidak bisa urusan akidah masih ada kemungkinan salah. Jika masih ada kemungkinan salah, yang artinya belum sesuai dengan definisi di atas, yaitu “kepercayaan secara pasti”. Jika ada hadis ahad berbicara terkait dengan akidah, maka sifatnya sebagai  bayan terhadap nas yang qat’iy dan tidak bisa berdiri sendiri secara independen.

 

Kedua, terkait dengan urusan fikih. Dalam kitab waraqat karya imam Haramain dan kitab Alluma karya imam Syairazi dikatakan bahwa fikih terkait erat dengan urusan ijtihadiyah. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa urusan ijtihadiyah, artinya interaksi dengan nas yang sifatnya dzan atau nas yang kebenarannya masih bersifat praduga. Tidak ada ruang ijtihad dalam nas yang sifatnya qat’i. Jika demikian, bearti tidak ada hukum fikih dalam nas qat’iy. Oleh karenanya, dalam kaedah ushul dikatakan:

لا اجتهاد مع النص

Tidak boleh berijtihad terhadap persoalan yang sudah disebutkan oleh nas, maksudnya adalah nas qat’i.

Hanya jika kita buka kitab-kitab fikih, kita akan menemukan persoalan yang sifatnya sudah qat’i, dimasukkan ke dalam persoalan fikih. Menurut Imam Haramain dan imam Syairazi, memasukkan persoalan yang sesungguhnya bukan ranah ijtihad ke dalam persoalan fikih, sekadar untuk mempermudah bahasan. Bisa jadi, persoalan furu lainnya, bermula dari persoalan pokok yang sifatnya qat’i. Jika ia tidak dimasukkan dalam bab fikih, maka persoalan furu tadi menjadi sulit dipahami. Semisal, shalat wajib adalah persoalan yang bersifat qat’i. Ia bukan fikih. Namun shalat harus dimasukkan ke dalam bab fikih, guna menerangkan persoalan cabang dari pokok yang sifatnya qat’iy itu. Persoalan cabang dalamshalat semisal bacaan doa iftitah, bacaan fatihah, posisi qunut, dan lain sebagainya. Tanpa memasukkan shalat terlebih dahulu, tentu penulis fikih akan kerepotan tatkala berbicara persoalan cabang salat tersebut.

Persoalan fikih, dibangun dari nas yang zhanni yang sifatnya praduga.  Karena ia sifatnya praduga, maka bisa jadi seseorang mempunyai praduga berbeda dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, semisal nas yang mempunyai makna ganda, perbedaan dalam memandang nas baik secara mutlak, muqayyad, mujmal, mufasssar, majaz, hakikat dan lain sebagainya. Hal-hal tadi, bisa menibulkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Atau bisa jadi persoalan terdapat pada realitas seseorang, sehingga maslahat antara satu orang dengan orang lain berbeda, atau maslahat suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya berbeda. Perbedaan tadi, juga berimplikasi kepada perbedaan dalam menggali hukum fikih. Atau muncul persoalan lain, yang secara sharih belum ada nas yang mengatur. Tenti ini butuh ijtihad guna memberikan solusi hukum yang sesuai.

Belum lagi ditambah dengan perbedaan rumusan dan cara pandang atas metodologi ijtihad. Rumusan ushul fikih syafii, ada berbeda dengan Hanafi, berbeda dengan Hambali, berbeda dengan Jakfari, Zaidi dan lain sebagainya. Rumusan itu, juga akan berimplikasi pada persoalan furu fikih.

Para fuqaha menyadari bahwa soal fikih memang dibangun atas dalil zhanni yang sifatnya prasangka. Oleh karena itu, para ulama selalu berlapang dada untuk menerima kebenaran. Imam Syafii sendiri pernah menyatakan, bahwa “pendapat saya benar, namun masih ada kemungkinan salah, sementara pendapat ulama lain salah, namun masih ada kemungkinan benar”. Jadi dalam urusan fikih, masih ada ruang “kemungkinan”.

Meski fikih dibangun atas persoalan yang sifatnya praduga, tidak bearti semua orang boleh melakukan proses ijtihad. Ijtihad bukanlah persoalan sepele. Ia terkait erat dengan kebersesuaian hukum kepada al-Quran dan sunnah nabi. Sementara itu, tidak semua orang bisa memahami al-Quran dan sunnah secara benar. Maka, para ulama meletakkan standar metodologi ijtihad. Hanya orang-orang yang sudah menguasai piranti ijtihad, yang boleh berijtihad. Jika tiap orang boleh berijtihad dengan alasan urusan fikih sifatnya praduga, maka hukum fikih bisa rusak. Bisa jadi ia akan mementahkan hukum Islam dan berijtihad terhadap persoalan yang sifatnya qat’i. Ini sangat mungkin terjadi, karena ketidaktahuan dia, bahwa fikih hanya terkait dalil zhanni saja, dan bukan dalil qat’i.

Jika ada orang yang berpendapat bawha haji boleh dilaksanakan kapan saja dengan alasan demi kemaslahatan hamba, hukum waris harus disesuaikan dengan realitas kontemporer, pajak statusnya sama dengan zakat, hukum hudud dan qisas perlu ditinjau ulang karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat modern, hukum poligami tidak berlaku, atau lebih jauh dari itu, mengusulkan agar ayat qat’iyat dikaji ulang seperti yang disampaikan oleh Amin Abdullah dalam buku Fikih Kebinekaan, pendapat demikian muncul karena pelakunya belum mengetahui hukum fikih.

Karena persoalan fikih sifatnya ijtihadi dan bukan terkait dengan persoalan qat’iyat, maka setiap kita hendaknya tidak boleh saling salah menyalahkan. Biarkan perbedaan tetap ada, toh semuanya berlandaskan kepada dalil. Hanya interpretasi dari dalil saja yang berbeda. Silahkan yang hendak melaksanakan yasinan, tahlilan, menzahirkan bacaan niat, qunut subuh, shalat tarawih 23 rekaat, adzan jumat dua kali dan persoalan furu lainnya. Silahkan juga bagi yang merajihkan pendapat lain dengan tidak yasinan, tahlilan, ndibaan dan lain sebagainya.

Hal penting yang harus digarisbawahi adalah pemisahan dan pembedaan persoalan akidah dan fikih. Akidah sifatnya pasti dan yakin, sementara fikih sifatnya ijtihadi dan praduga. Berbeda dalam urusan akidah hukumnya kafir, sementara berbeda dalam urusan fikih sifatnya toleran. Tidak mampu membedakan antara urusan akidah dan fikih, akan menimbulkan persoalan besar. Misalnya tawasul, baik dengan orang shalih, orang yang telah meninggal, dengan amal shalih, dengan asmaul husa dan lain sebagainya, atau tabarukan dengan syaih dan lainnya, para ulama, termasuk dari kalangan NU maupun Muhammadiyah, memasukkan persoalan tersebut ke dalam ranah fikih dan bukan akidah. Oleh karena ia persoalan fikih, maka perbedaan pendapat dibolehkan.

Beda jika persoalan tadi dinggap persoalan akidah, maka tidak ada lagi toleransi. Pelaku tawasulan dan tabarukan langsung dihukum kafir dan musyrik. Padahal dalam hukum syariat, kafir dan musyrik mempunyai implikasi terhadap hukum fikih. Jika seseorang dianggap kafir dan musyrik, secara otomatis ia telah murtad dan keluar dari Islam. Hukum orang murtad harus di istitabah yaitu memohon kepada pelaku untuk bertaubat. Ia diberi selang beberapa hari untuk berfikir ulang dan bertaubat. Jika tidak, maka ia bisa dihukum mati. Ia bisa dibunuh.

Bukan hanya itu, anaknya dan juga ahli waris lain juga tidak dapat waris dari ayahnya yang musyrik.  Istrinya, harus diceraikan secara paksa. Haram hukumnya seorang muslimah menikahi laki-laki yang musyrik.

Apa yang terjadi di Timur Tengah, seperti di kawasan Sinai Mesir, Suria, Irak dan lain sebagainya, dengan banyaknya ledakan di pekuburan para shalihin, dan pembunuhan terhadap para pengikut thariqat, sesungguhnya akibat dari kesalahan dalam memasukkan persoalan fikih ke dalam persoalan akidah. Mereka menganggap bahwa para pengikut sufi telah keluar dari Islam. Oleh karenanya, mereka halal dibunuh. Pembantaian dan pembunuhan sangat mengerikan, akibat kerancuan dalam memasukkan persoalan ke fikih atau akidah.

Ketiga terkait dengan akhlak. Akhlak bisa berhubungan dengan Allah, diri sendiri, orang lain atau alam raya.  Dzan atau praduga kepada hal-hal tersebut dibagi menjadi dua, pertama zhan yang baik dan kedua zhan yang buruk. Terkait hal-hal di atas, kita diperintahkan untuk praduga baik, bukan berprasangka buruk.

Allah swt memerintahkan kita, agar selalu berprasangka baik, baik kepada Allah, diri sendiri atau kepada orang lain. Terkait kepada Allah, dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan sebagaimana berikut ini:

والذي لا إله غيره ما أعطي عبد مؤمن شيئا خيرا من حسن الظن بالله عز و جل والذي لا إله غيره لا يحسن عبد بالله عز و جل الظن إلا أعطاه الله عز و جل ظنه ذلك بأن الخير في يده

 

Artinya: Demi Dzat yang tiada Tuhan selainNya, tidak ada anugerah yang paling besar yang diberikan kepada seorang hamba selain baik sangka kepada Allah. Demi Dzat yang tiada Tuhan selainNya, tidak seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan berbaik sangka kepadanya. Hal itu karena segala kebaikan ada di tanganNya.

إن حسن الظن بالله من حسن العبادة

Artinya: Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah (HR. Abu Daud)

أنا عند ظن عبدي بي فليظن ظان ما شاء

Artinya: Aku menuruti prasangka hambaku terhadapKu, maka silahkan untuk berprasangka sesuai apa yang dikehendaki.

أنا عند ظن عبدي بي فإن ظن بي خيرا فله الخير فلا تظنوا بالله إلا خيرا

Artinya: Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, jika Ia berprasangka baik terhadapKu, maka baginya kebaikan, maka jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan.

أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حيث يذكرني

Artinya: Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya selagi Ia mengingatKu.

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز و جل

Artinya: Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah.

 

Berprasangka baik kepada Allah, menumbuhkan sikap percaya diri dan selalu berpikiran positif. Orang yang selalu berpikiran positif, hidup akan lebih tenang dan enerjik. Ia tidak gampang putus asa, meski dalam kondisi gagal sekalipun. Sifat optimis dengan berprasangka baik kepada Allah, menjadi modal utama seseorang dalam menghadapi kehidupan dan dalam membangun peradaban.

Sebaliknya, berprasangka buruk hanya akan menimbulkan kepesimisan. Orang yang selalu pesimis, hidup tidak bergairah. Ia memenjarakan diri sendiri di alam raya yang sangat luas. Akibatnya hidup tidak produktif. Ia bisa lalai dalam menjalankan amanat Tuhan di muka bumi, yaitu menjadi khalifatullah yang tugas utamanya adalah membangun peradaban.

Bukan hanya dengan Allah, kita juga harus berprasangka baik kepada diri sendiri. Ini artinya, kita akan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kesyukuran, selain sebagai bentuk tunduk kita kepada Allah, juga akan berimplikasi kepada ketenangan. Orang yang tenang, cenderung lebih bijak dalam pengambilan keputusan. Maka, ia akan mencari solusi persoalan hidupnya dengan berfikiran logis dan pandangan jernih.

Kita juga diperintahkan untuk berprasangka baik kepada orang lain, yang akan menimbulkan ketenangan dan kedamaian batin. Secara psikis, orang yang batinnya tentang, hidup lebih damai dan bahagia. Kebahagian, sesungguhnya adalah harta tak ternilai yang diberikan Allah kepada manusia. Tumpukan emas permata, kemewahan rumah dan kendaraan, akan menjadi candu dan racun, manakala hidupnya kemrungsung dan hatinya gundah. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, hanya karena prasangka tak baik kepada orang lain. Ia memikirkan persoalan yang sesungguhnya bukan menjadi hak dia. Ia selalu melihat tetangga dan saudara dari sudut pikiran negatif. Oleh karena itu, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Rasulullah saw bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain.
Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan.

Demikianlah kiranya prasangka, baik dalam urusan akidah, fikih maupun akhlak. Meski menggunakan kata yang sama, yaitu prasangka, namun mempunyai hukum yang berbeda-beda. Para ulama telah membuat spesialisasi keilmuan, bukan tanpa sebab. Spesialisasi keilmuan, mempunyai pengaruh terhadap hukum yang berlaku bagi kehidupan umat manusia.

 

Comments

comments

 border=
 border=