Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Posisi Ijtihad Dengan Akal Dalam Nash Zhâhir

fsah
Nash zhâhir wajib diamalkan karena ia adalah hujjah. Nash zhâhir merupakan makna yang diambil dari lafazh secara langsung dari shîghah lafazh (susunan bahasa). Makna yang diambil dapat dikatakan sebagai maksud musyarri’ (Allah). Ia hanya dapat ditakwilkan jika terdapat dalil yang jelas dan pasti.

 

Ijtihad dengan akal dalam nash zhâhir berkisar dalam beberapa hal sebagai berikut:

  1. Makna zhâhir adalah bukan makna utama yang dimaksudkan oleh musyarri’ (Allah), namun makna kedua. Untuk mengetahui hal itu dapat merujuk pada susunan nash atau dari sebab turunnya ayat (asbâbu al-nuzûl), atau sebab turunnya sunnah (asbâbu’l wurud). Artinya konteks sejarah atas turunnya suatu nash, dan juga bentuk susunan bahasa dalam nash tersebut sangat mempengaruhi terhadap makna nash.
  2. Mencari dalil -jika memang ada- yang dapat memberikan takwilan terhadap nash. Dalil tersebut dapat menentukan makna yang dimaksud oleh syariat sebagaimana dapat dipahami dari zhâhir Jika kemudian terdapat dalil, maka dapat diketahui bahwa sesungguhnya makna zhâhir bukan makna yang dimaksud nash. Namun demikian, ketika dalil tersebut belum dapat diketahui, kita tetap dituntut untuk mengamalkan makna nash tersebut secara zhahir.
  3. Menentukan makna al-zhâhir dapat membantu mujtahid menghilangkan benturan (ta’ârudh) antar nash sesuai dengan landasan dan kaidah seperti yang telah ditetapkan ulama ushul ketika membagi tingkatan kejelasan makna nash. [1]

 

[1] Dr. Fathi Addarini, op. cit., hal. 47 – 48

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open