Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Politik Luar Negeri Amerika untuk Negara-negara Dunia Ketiga

Misteri-Hantu-Gedung-Putih-3

Pasca perang dunia II, politik dunia dibayang-bayangi oleh dua kekuatan besar, blok barat dibawah payung Amerika dan blok timur dibawah payung Uni Soviet. Sejak keruntuhan Uni Soviet, politik dunia dikuasai satu kutub Amerika. Dengan kekuatan militer dan ekonominya, Amerika dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. Amerika berupaya menjadikan negerinya sebagai pusat dan poros peradaban dunia. Negara manapun diwajibkan berputar mengelilingi peradaban Amerika. Tentu saja tidak semua negara menerima. Namun demikian, Amerika mempunyai cara-cara khusus agar mereka dapat tunduk dan patuh mengikuti kehendak politiknya. Setidaknya ada empat cara yang digunaka Amerika, yaitu:

1. Pinjaman.

Negara miskin kadang berpikiran prakmatis, dalam artian punya obsesi untuk membangun negerinya namun hanya dengan menggantungkan uang pinjaman tanpa menimbang dampak negatif. Bagaimanapun juga, para kreditor tidak memberikan pinjaman secara percuma, namun sarat dengan tujuan politis, yaitu menjaring negara ketiga agar tejebak dalam lilitan hutang sehingga jalur politiknya mudah dikendalikan sesuai dengan keinginan kreditor. Ameriak sadar bahwa pinjaman dapan dijadikan sebagai perantara penting untuk mendikte negara yang bersangkutan. Dengan lobi kuat yang dimilikinya baik melalui Bank Dunia ataupun IMF, Amerika dengan mudah dapat mengarahkan negara ketiga sesuai dengan jalur politiknya.

Peru terpaksa meminta pinjaman dari IMF dengan syarat membekukan jaminan sosial, swastanisasi lembaga pemerintah termassuk lembaga sosial seperti rumah sakit, pendidikan dan transportasi.Laporan terakhir Bank Indonesia (BI) menunjukkan, posisi hutang luar negeri total Indonesia pada bulan April 2001 tercatat 139 milyar US Dolar (USD), atau sebesar Rp 1.251 trilyun pada kurs 1 Dolar = Rp 9.000. Hutang itu terdiri dari 72 milyar USD (52%) hutang pemerintah dan 67 milyar USD (48%) hutang swasta. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 148 milyar USD (1999) dan 141 milyar USD (2000). Meskipun menurun, beban pemerintah untuk pembayaran hutang masih sangat berat. Menurut data Departemen Keuangan, fluktuasi pembayaran hutang luar negeri pemerintah adalah Rp 48 trilyun (2001), Rp 108 trilyun (2002), Rp 84 trilyun (2003), dan Rp 71 trilyun (2004). Angka-angka itu hanya untuk pembayaran hutang pemerintah, belum termasuk hutang swasta. Beban hutang dalam negeri juga tidak kalah spektakuler. Sekarang ini angkanya telah mencapai Rp 653 trilyun.

Kegagalan missi pembangunan Bank Dunia sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Menurut Winters pada artikelnya “Down With the World Bank” pada majalah Far Eastern Economic Review, 13 Februari 1997, dari 1.800 proyek Bank Dunia pada 113 negara, sebanyak 37,5% menemui kegagalan. “Karena dititikberatkan pada target pinjaman, bukan hasilnya”.

2. Ancaman

Amerika akan mendukung pemimpin diktator manapun yang loyal kepada politiknya. Dengan cara ini, Amerika dengan mudah dapat menguasai suatu negara tanpa banyak menanggung resiko. Contoh sederhana adalah dukungan Amerika kepada mantan presiden Chili jenderal Penoce. Namun tatkala jenderal Penoce mulai menunjukkan ketidakloyalan, Amerika menekan Penoce sehingga ia lengser dari kursi kepresidenan.

Bentuk ancaman bermacam-macam, seperti ancaman akan diputuskan hubungan diplomatik kepada negara yang bersangkutan, menghentikan bantuan, menghentikan kerjasama ekonomi atau militer, menyebarkan berbagai tuduhan negatif seperti sebagai negara pendukung teroris atau melindungi jaringan teroris internasional, tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, dan terahir ancaman melalui kekuatan militer sebagaimana yang terjadi di Iraq tahun 1991 hingga saat ini, Guatemala pada tahun 1954, Kuba tahun 1961, Republik Domenika tahun 1965. dan Afganistan pasca peristiwa WTC.

3. Pasar bebas.

Pada tahun 1994, 124 negara menandatangani kerjasama ekonomi bersama serta mengganti GATT menjadi WTO. Namun saat ini WTO telah dijadikan alat Amerika untuk mempengaruhi dan menguasai dunia internasional. Kesepakatan GATT memberikan keleluasaan pertukaran barang bagi negara anggota, dengan catatan tidak merugikan kepentingan Ameriaka.

Pasar bebas yang merupakan hasil kesepakatan WTO lebih banyak menguntungan negara-negara Barat terutama Amerika. Negara ketiga hanya dijadika sebagai pasar bagi mereka. Damaknya adalah bahwa negara ketiga secara ekonomi hanya akan menjadi negara kmonsumen. Jelas ini akan semakin berdampak negatif. Kesenjangan ekonomi utara dengan selatan akan semakin melebar. Selama 30 tahun, perbandingan tingkat ekonomi negara utara dengan selatan semakin mengalami peningkatan pesat dari 1:30 menjadi 1:150. Pada tahun 1980, 33% penduduk negara ketiga kekurang gizi, dan 8 tahun kemudian meningkat menjadi 371%. Sungguh prosentase yang sangat fantastis. Pada tahun 1963 untuk membeli 1 traktor pertanian, orang Jamaika membutuhkan 680 ton gula, sementara pada tahun 1968 meningkat menjadi 3500 ton gula. Hasil perkapita negara ketiga dari tahun 1970-1987 menurun 9% sementara ditahun yang sama negara maju mengalami peningkatan sebesar 2,7%. Dengan melihat kondisi seperti ini, masihkan kita menerima mitos pasar bebas?

4.komunikasi.

Jaringan komunikasi adalah cara paling efektif untuk transfer budaya. Saat ini pass media dikuasai Barat khususnya Amerika. Dan ini adalah moment penting bagi Amerika untuk menekspor produk budayanya keseluruh penjuru dunia. Dapat dikatakan bahwa jaringan komunikasi lebih bebahaya dari jalur militer. Dengan alat iani, Amerika dapat merubah opini dunia dangan mudah. Tidak heran jika Dr. Musthofa Abdul Ghani mengaitkan globalisasi sebagai Amerikanisasi yang terikat dengan jaringan ekonomi dan telekomunikasi. Menurutnya globalisasi akan menimbulkan gesekan antar budaya sehingga negara yang kurang memiliki jaringan telekomunikasi, atau basic ekonominya lemah hanya akan menjadi korban globalisasi. Dr. Ali hubaisy menyebutkan bahwa 80% ekonomi negara maju tertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, sementara 80% ekonomi negara berkembang tertumpu pada kapital, hasil alam dan buruh.

Dengan sedikit mengetahui politik luar negeri Amerika, setidaknya negara ketiga semakin waspada. Kita tidak boleh gegabah mengikuti kehendak negara adi daya tersebut. Diakui atau tidak, posisi negara ketiga baik secara politik maupun ekonomi jauh dibawah Amerika. Namun bukan bearti kita kehilangan kehormatan dan identitas, karena hal ini adalah permata paling berharga bagi setiap bangsa. Wallahu a’lam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 − two =

*