Thursday, April 26, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pesantren Muhammadiyah dan Kitab Kuning, Ada Apa?

muallimin2

 

Barangkali bukan kali ini saja saya menyampaikan bahwa turas Islam menyimpan permata ilmu luar biasa. Para ulama besar di dunia Islam, baik yang beraliran kiri maupun kanan, seperti Dr. Yusuf Qaradhawi, Dr. Ramadhan Al-Buthi, Syaih Muhammad al-Ghazali, Dr. Hasan Hanafi, Arkoun, Dr. Abid al-Jabiri dan lain-lain, semuanya menguasai turas Islam. Jadi, jika ingin menjadi ulama besar, baik di bidang fikih, ushul fikih, tafisr, hadis, ulumul hadis, filsafat dan pemikiran Islam, tasawuf, dan lain sebagainya, mau tidak mau harus kembali kepada turas Islam. Di Indonesia sendiri, turas Islam lebih dikenal dengan istilah kitab kuning.

 

 

Ulama Nusantara yang punya pengaruh besar di dunia Islam, seperti al-Termasi, imam Nawawi al-Bantani,  Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi, Syeikh Sayyid Utsman Betawi, Syeikh Muhammad Khalil Al-Maduridan lain sebagainya, semua berangkat dari kitab kunging. Mereka-mereka ini bahkan mampu memberikan syarah dan mengarang kitab sendiri yang berpijak dari penguasaan mereka tersebut dari kitab kuning.

 

Di Muhammadiyah sendiri, kitab kuning menjadi sesuatu yang sangat penting, terutama bagi para ulama Tarjih. Kembali ke Quran Sunnah tidak akan pernah lepas dari kajian kitab kuning. Berbagai produk Tarjih, seperti HPT dan Fatwa Tarjih, tidak lepas dari kitab kuning, meski litelatur rujukan tidak dituliskan secara formal.

 

Di sinijelas sekali mengenai urgensi kitab kuning bagi para penuntut ilmu Islam. Anehnya kitab kuning kurang familier di lingkungan Pesantren Muhammadiyah. Padahal pesantren merupakan basic kaderisasi ulama Muhammadiyah. Jika mereka mengkaji kitab kuning, itu hanya terkait dengan diktat wajib saja. Jika ada kajian tambahan, prosentasinya juga sangat sedikit dan ala kadarnya.

 

Jarang Pesantren Muhammadiyah yang mengajarkan alfiyah Ibnu Malik, mengkhatamkan kitab-kitab madzhab, tashawuf, kalam, kajian kitab-kitab tafsir atau kitab-kitab hadis hingga mengkhatamkan sekian kitab tafsir atau sekian kitab hadis, sekian ulumul Quran karya ulama klasik, dan lain sebagainya. Santri hampir tidak diajarkan system tarjih (bahsul masail) dengan merujuk langsung ke kitab-kitab kuning, baik yang terkait dengan kitab-kitab hadis atau lainnya.

 

 

Akhirnya, lulusan pesantren Muhammadiyah lemah dalam keilmuan Islamnya. Nahwu sharaf yang merupakan basic terpenting dari bahasa Arab pun, tidak dikuasai dengan baik. Jangankan perbedaan pandangan ulama lughah, mengi’rab saja kadang masih kebingungan.

 

Saya sendiri tidak tau, mengapa pesantren Muhammadiyah tidak dibiasakan bersentuhan dengan kitab kuning. Apakah karena takut di cap bukan Muhammadiyah, ataukah karena sudah merasa sebagai pesantren modern.

 

Pengalaman saya di al-Azhar, kembali kepada kitab kuning dan menguasai buku-buku karya ulama klasik, menjadi satu keniscayaan bagi siapapun yang ingin menjadi ulama besar. Tanpa itu, rasa-rasanya mustahil. Jika pesantren Muhammadiyah benar ingin mencetak kader ulama yang mumpuni, maka pengajaran kitab kuning di lingkungan pesantren harus mendapatkan porsi yang lebih besar. Membiasakan santri berinteraksi dengan kitab kuning menjadi satu keniscayaan. Wallahu alam.

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open