Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Epistemologi Islam Klasik Harus Dirubah?

downloadfdsahg

Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke-30. Di halaman 104-105, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut:

 

Perspektif epistemologi keilmuan Islam Kontemporer

 

Ke depan, karena perubahan sosial tadi, maka mau tidak mau berdampak pada perlunya perubahan mindset umat melalui perubahan orientasi epistemologi dari Islam klasik ke kontemporer. Adapun tawaran epistemologi keilmuan kontemporer yang patut menjadi perhatian adalah serikut:

Pertama, dari orientasi ilahiyyah-teologis semata menjadi diperkaya dengan dimensi insaniyah-humanistik dan alamiyyah-kosmologis. Dengan istilah lain, dari hablun minallah semata, diperkaya dengan hablun minannas dan min al-alam. Kedua, epistemologi keislaman mendatang harus lebih operatif-burhani (rasional empiris) sebagaimana pernah diintroduksi oleh Ibnu Taimiyah sesuai konteks zamannya (al haqiqah fil a’yan la fi al adzhan). Perlu rekonstruksi ulang konsep keilmuan atau kuliah teologi Islam (akidah) dan etika Islam (akhlak) yang lebih bernuansa sosial, ketimbang semata-mata normatis-sosial. Dari nuansa metafisis ke empiris-saintifik.

 

Mari kita lihat:

Pertama, dari orientasi ilahiyyah-teologis semata menjadi diperkaya dengan dimensi insaniyah-humanistik dan alamiyyah-kosmologis.

 

Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa orientasi pemikiran Islam memang ilahiyyah-teologis. Semua ilmuan muslim, termauk para saintis selalu menjadikan al-Quran sebagai basic epistemologi. Bisa dikatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban al-Quran. Sebelum Islam datang, Jazirah Arab (baca: Mekah Madinah) tidak diperhitungkan dalam percaturan politik global. Secara keilmuan, pun sangat jauh dibandingkan dengan peradaban bangsa lain.

 

 

Namun sejak Islam datang, kondisi berubah 180 derajat. Islam datang mebawa ilmu pengetahuan. Risalah al-Quran menganjurkan umat Islam untuk selalu menuntut ilmu. Bahkan ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah perintah membaca, iqra. Membaca merupakan titik awal dari upaya mencari ilmu pengetahuan.

 

Semangat iqra ini, menjadikan umat Islam tidak eksklusif. Umat Islam menjadi bangsa yang terbuka dan mau menerima ilmu pengetahuan dari bangsa lain. Ini dibuktikan dengan penerjemahan buku besar-besaran dari berbagai peradaban dunia, baik Yunani, Romawi, Persia atau India. Umat Islam juga tidak segan untuk mengadopsi teknologi bangsa lain untuk dikembangkan di dunia Islam, seperti konsep zait Yunani (Minyak Yunan) yang kemudian dikembangkan menjadi granat di Masa Shalahuudin al-Ayyubi, lalu dikembangkan lagi menjadi meriam di masa khilafah Usmaniyah, atau petasan China yang dikembangkan menjadi roket di masa Shalahuddin al-Ayyubi. Sebagaimana umat Islam juga mengambil tegnologi pembuatan kertas dari China di masa dinasti bani Umayyah.

 

 

Meksi umat Islam pada waktu itu maju secara tegnologi, namun tidak melepaskan identitasnya sebagai ilmuan muslim, yaitu kesadaran penuh mengenai sumber ilmu yang datang dari Allah. Mereka tetap berkeyakinan bahwa ilmu terikat dengan tata nilai yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah nabi. Ilmu tidak sekuler dengan memisahkan nilai ketuhanan dalam setiap penelitian ilmiah. Ilmu dalam Islam tidak materialistik dan seadar percaya dengan penemuan ilmiah. Ilmu tetap berada dalam koridor metafisika dan terkait dengan Dzat Pemberi Ilmu.

 

Karena ilmu selalu mengaitkan dengan nilai ketuhanan, maka ilmu tidak menjadi ilmu yang positifistik dan sekadar percaya pada hal-hal materi. ilmu tidak akan berkemnag menjadi sekuler dengan memisahkan Tuhan dari materi keilmuan. Ilmu bukan untuk ilmu, tapi dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah.

 

Paham materialistik akan menjurus kepada sikap menafikan Tuhan dan campur tangan Tuhan di alam raya. Bahkan lebih ekstrim lagi, menjadi manusia atheis dengan menganggap bahwa Tuhan telah mati. Ilmuan seperti ini akan mentuhankan ilmunya sendiri. Ia menjadi manusia sombong dan angkuh. Tidak heran jika kemudian ilmu tidak digunakan untuk kemaslahatan manusia, namun untuk menghancurleburkan umat manusia.

 

Sikap materialistik dan positifistik tidak akan terjadi pada ilmuan muslim. Para saintis muslim sadar bahwa ilmu datang dari Allah yang dianugerahkan kepada umat manusia. Ilmu Allah yang sedikit itu, akan ia manfaatkan sebagik mungkin sesuai dengan amanah Allah untuk membangun peradaban manusia di muka bumi.

 

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al Israa (17) : 85)

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.

 

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” QS al-Baqaroh: 30.

 

Apakah dengan epistemologi yang berbasik kepada al-Quran, kemudian peradaban Islam tidak humanisme? Ternyata tidak. Justru dengan menjadikan al-Quran sebagai basic epistemologi, peradaban Islam sangat manusiawi dan memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Contoh rilnya dalam sejarah Islam telah kami singgung sebelumnya dengan menyampaikan sekelumit tentang peradaban Islam. Saya mengambil dua contoh praktis, yaitu terkait dengan pengembangan wakaf dan sistem pemerintahan Islam yang membentuk wilayatul madzalim sebagai upaya mencegah korupsi. Saya juga sebutkan mengenai sikap umat Islam dalam berinteraksi dengan budak. Di antaranya adalah bahwa budak dalam Islam, posisinya bukan seperti pembantu. Ia dianggap bagian dari keluarga sendiri. Ia berhak untuk makan, minum dan berpakaian seperti tuannya. Ia punya kewajiban untuk istirahat dan tidak boleh dipekerjakan sekehendak hati. Ia adalah manusia terhormat layaknya manusia merdeka. Sikap umat Islam tersebut mengikuti sabda Rasulullah saw. seperti hadis nabi berikut:

 

إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

 

”Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara yang ada dibawah kekuasaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka. (HR. Bukhari)

Umat Islam bukan sekadar memahami hadis nabi, namun juga membumikan dalam realitas sosial. Budak disekolahkan hingga menjadi ulama besar, menjadi orang besar, mempunyai pengaruh di pemerintahan dan militer bahkan hingga menduduki kepala negara seperti yang terjadi masa Mamalik di Mesir. Waktu itu, negara dipimpin oleh para budak dan peradaban Islam berkembang sangat pesat. Pemerintahan budak terseubt tidak berlangsung satu dua tahun, namun lebih dari dua abad (1250 M- 1517 M).

 

 

Peradaban Islam sangat menghormati para musafir. Di jalan-jalan, mereka menaruh kendi-kendi yang disusun rapi dengan diisi air sebagai minunuman bagi orang yang kehausan di jalan. Jika air habis, akan ada sukarelawan yang bertugas mengisi air kembali. Kendi-kendi peninggalan peradaban Islam ini, masih sering kita temukan di Cairo. Masyarakat Mesir masih mewarisi budaya peninggalan umat Islam terdahulu dengan mersedekah air kepada orang yang kehausan di jalanan.

 

 

Bukan hanya dengan manusia, dengan hewan pun umat Islam sangat toleran. Dalam sejarah Islam, ada yang mewakafkan tanahnya untuk ditanami rumput, sekadar untuk memberi makan kuda para musafir. Tentu ini akan sangat membantu, apalagi di Arab jalannya umumnya padang pasir yang tidak ada tetumbuhan. Sedekah rumuput menjadi sesuatu yang sangat berharga.

 

Bukti sejarah seperti ini, apakah tidak dianggap manusiawi? Peradaban manakah yang berinteraksi dengan budak seperti dalam peradaban Islam? Peradaban manakah yang memikirkan bintangan seperti dalam peradaban Islam?

 

Umat Islam juga punya sandaran pemikiran terkait interaksi dengan alam raya. Hal ini bisa dibuka dalam cerita filsafat yang sangat ternama, yaitu buku Hay ibnu Yaqzhan yang ditulis oleh Ibnu Tufail seorang filsuf asal Andalusia. Di antara petikan cerita dalam buku tersebut adalah bahwa pada suatu hari, Hay Ibnu Yaqzhan pergi ke sungai. Lalu melihat sungai mampet karena ada sampah. Maka ia singkirkan sampah itu agar aliran sungai bisa mengalir sesuai dengan jalurnya. Lalu ia melihat pohon yang rindang menutupi pohon kecil sehingga pohon kecil itu tidak terkena sinar matahari. Ia singkap daun pohon yang rindang itu, supaya pohon yang lebih kecil dapat terkena pancaran sinar matahai. Pemikiran filsafat seperti ini, terinspirasi dari teks al-Quran. Karena al-Quran yang memerintahkan kita untuk membangun peradaban dengan baik dan tidak merusak alam raya seperti firman Allah berikut ini:

 

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Kementrian AgamaDan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

 

 

Dari sana terlihat dengan jelas bahwa sesungguhnya peradaban Islam sangat seimbang. Peradaban Islam memperhatikan system interaksi dengan Allah Sang Pencipta, dengan sesame umat manusia, dengan binatang dan bahkan dengan alam raya. Maka eksploitasi dan memanfaatkan sumber daya alam yang berakibat merusak ekosistem serta menimbulkan kerugian alam, dilarang oleh Islam. Penggunaakn sumberdaya alam harus sesuai dengan nilai-dan norma yang telah digariskan Allah dalam kitab suci.

 

para ulama islam klasik menjadikan al-Quran sebagai basic epistemology sehingga keilmuan Islam bersifat ilahiyyah. Ia sangat humanistic karena karakter al-Quran sangat memperhatikan nilai kemanusiaan. Bahkan dengan menjadikan al-Quran sebagai basic epistemology, umat Islam mampu membangun peradaban besar secara seimbang antara sifat ketuhanan, kemanusiaan bahkan keterkaitan dengan system interaksi dengan alam.

 

Jadi yang dibutuhkan sekarang bukan merubah epistemology pemikiran Islam klasik, karena ia sudah terbukti mampu membangun peradaban besar yang diakui dunia. Namun yang dibutuhkan umat Islam saat ini adalah revitalisasi pemikiran Islam klasik sehingga kita tidak mudah terpengaruh dengan peradaban Barat yang materialistic dan positifisktik. Karena jika kita merubah basic epistemology dari al-Quran kepada materialis, yang terancam bukan saja akidah umat Islam, tapi juga mudara yang akan ditimbulkan bagi umat manusia seluruhnya.

 

 

Peradaban Barat terbukti gagal memimpin dunia. Peradaban Barat yang mentuhankan materi justru menghancurkan alam raya demi memuaskan nafsu serakah mereka. Lihat saja apa yang terjadi di Irak, Afganistan, Suria, negara-negara Afrika dan lain sebagainya. Barat yang mentuhankan materi rela membunuh jutaan umat manusia demi mendapatkan kepuasa materi. bom atom diledakkan di Herosima dan Nagasaki, dan ribuan umat manusia beserta kerusakan alam, hancur dengan seketika. Mereka melakukan itu semua tanpa ada rasa bersalah sama seklai. Namun merayakan kemenangan dengan mengorbankan segalannya, manusia, hewan dan alam sekitarnya.

 

Ilmu pengetahuan modern bukan menjadikan manusia bahagia, namun justru meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan menghancurkan umat manusia. Pada akhrinya terjadi krisis kemanusiaan di seluruh dunia. Negara-negara yang mengaku sebagai negara makmur, namun tingkat bunuh diri sangat tinggi, seperti Jepanng dan Finlandia. Apakah peradaban seperti ini yang ingin kita bangun? Di manakah sisi humanitas dan alamiyah peradaban Barat?

 

 

Peradaban Islam klasik yang dituding terlalu ilahiyyah, ternyata lebih humanism dan alamiyah. Mari kembali kepada al-Quran sebagai basic epistemology. Mari kita contoh para ilmuan muslim klasik yang telah telah memberikan contoh baik dalam membangun peradaban dunia menuju kehidupan bahagia baik di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 − 10 =

*