Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Periodisasi Sejarah Yang Keliru

290px-Reconquista-rendicion-granada

 

 

Seri Counter Buku FIkih Kebinekaan. Artikel ke 17.

Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tulisan Hamim Ilyas yang menyalahkan agama, lalu tafsir al-Quran sebagai penyebab kemunduran umat. Hal itu mernutunya karena agama dan tafsir tidak memberikan inspirasi kejayaan. Dalam paragraf berikut ini, Hamim Ilyas kembali mengungkapkan pendapat yang cukup kontraversi. Berikut petikannya:

 

Tafsir agama yang dianut umat selama ini, sesuai tradisi yang diwarisi dari abad tengah, dikembangkan dalam ilmu-ilmu agama Islam; ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu kalam akidah dan ilmu tasawuf. Pengembangan tafir dalam ilmu-ilmu tersebut dominan dengan kerangka departementalis objek tiga ilmu terakhir; hukum, akidah dan spiritual. Penggunaan kerangka iin membuat mereka tidak memiliki wawasan kehidupan yang menyeluruh. Akibatnya mereka tidak mampu menyelenggarakan bidang-bidang kehidupan (sosial, ekonomi, politik dan lain-lain) dengan baik. Hal ini wajar karena wawasan penyelenggaraan saja mereka tidak punya, apalagi keterampilan menyelenggarakannya. (fikih kebhinekaan:84)

 

Menurut beliau, tafsir abad tengah sekadar dalam ranah berikut; ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu kalam akidah dan ilmu tasawuf. Kemudian, dari ketiga model tafsir tadi, dipadatkan menjadi tiga kajian, yaitu hukum, akidah dan spiritual, baru kemudian memberikan tudingan bahwa pengkaji tafsir abad tengah tidak memiliki wawasan keidupan yang menyeluruh. Dan tudingan ke empat adalah umat tidak mampu menyelenggarakan bidang kehidupan dengan baik. Benarkah demikian? Mari kita lihat:

 

Sebelum menanggapi papran di atas, terlebih dulu saya akan menanggapi system periodisasi sejarah Islam yang menurut saya sanagt problematik. Sebelumnya, penulis menggunakan istilah pra-industri dan industry. Perhatian paragraph sebelumnya:

Tiada inspirasi kejayaan dari agama bagi umatnya secara struktural disebabkan oleh tafsir agama yang tidak relevan dengan zaman yang mereka jalani. Umat sekarnag hidup pada zaman industry, tapi kultur mereka masih kultur pra-industri. Kultur pra-industri ini di antaranya terbentuk dari tafisr agama yang mereka anut (Fikih Kebinekaan: 84)

 

Setelah itu, penulis menggunakan istilah abad tengah. Secara pribadi, saya kurang sreg dengan model pembagian serajah Islam seperti ini. Abad tengah, pra industry dan industry adalah fase sejarah Barat. Di dunia Islam, tidak ada fase-fase model seperti ini.

 

Abad tengah di Barat idekntik dengan abad kebodohan, kegelapan dan keterbelakangan. Di waktu yang sama, dunia Islam sedang berada di pucuk peradaban. Banyak para intelektual muslim besar muncul di abad ini, seperti Ar-Razi, Ibnu Haitsam, al-Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Jabir ibnu Hayyan dan banyak lagi.

 

Kemudian fase pra Industri dan kemudian abad industry. Ini juga fase-fase sejarah Barat. Dalam semua litelatur sejarah Islam, tidak pernah menyebutkan dengan fase pra-industri dan industry. Lagi-lagi, ini adalah periodisasi sejarah Barat.

 

Melihat sejarah Islam dengan kacamata Barat, akan merancukan sejarah Islam itu sendiri. Abad keemasan Islam, karena ditulis dengan abad pertengahan, kesannya menjadi abad yang penuh dengan kegelapan dan kemudnuran. Jadi, kondisi umat Islam yang secara realita berbeda dengan Barat, disamakan begitu saja.

 

Dan ini terbukti dengan pernyataan beliau yang membagi keilmua Islam sebatas beberapa cabang ilmu saja. Umat Islam dianggap tidak memiliki wawasan menyeluruh dan tidak mampu menjalankan kehidupan dengan baik.

 

Apakah penulis lupa dengan keemasan Abbasiyah, kejayaan Muslim di Andalus dan juga saqaliyah? Bukankah umat Islam sangat rapi dalam bidang administrasi, keuangan, system politik, sistem industri, pertahanan, dan lain sebagainya? Apakah semua fakta sejarah itu harus dihapuskan karena jika dinampakkan, dapat menafikan kajian sejarah melalui periodisasi Barat tadi?

 

Ketika kita bicara tentang pemikiran Islam dan fase perkembangan intelektual Islam, namun menggunakan kacamata Barat dan frame sejarah Barat, maka semuanya menjadi rancu. Bukan hanya sejarahnya yang rancu, dalam menilai pemikiran Islam, kehidupan sosial kemasyarakatan, sistem politik, ekonomi dan sejenisnya, semuanya menjadi kabur. Puncak kejayaan peradaban Islam, sirna seketika dengan kegelapan peradaban Barat itu.

 

Bukti lain bahwa penggunakan fase periodisasi sejarah Barat akan rancu manakala diterapkan kepada sejarah lain, bisa dibuktikan dengan penerapan periodisasi tersebut di sejarah Nasional Indonesia. coba kita tanyakan, kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai, Mataram, itu masuk periode apa? Mengapa para sejarawan umumnya tidak menggunakan periodisasi sejarah Barat untuk mengkaji sejarah Nusantara? Karena para sejarawan itu menyadari bahwa pemaksaan ini hanya akan menimbulkan keruwetan.

 

Bagi kita yang terbiasa mengkaji turas Islam, pembagian fase-fase ini akan mengacaukan periodisasi pemikiran Islam. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah Islam tidak pernah ada istilah abad tengah, pra industry dan industry. Penulis nampaknya sangat terpengaruh dengan gaya pemikiran Barat. Bahkan untuk mengkaji pemikiran Islam pun, harus menyewa periodisasi sejarah Barat.

 

Ini menunjukkan bahwa penulis mengalami sikap inferior terhadap peradaban Barat. Jadi penulis melihat Barat sebagai sesuatu yang agung dan superior. Barat sebagai model dalam rujukan peradaban. Bahkan sampai menulis periodisasi sejarah pun, harus menggunakan periodisasi Barat dan memaksakan untuk diterapkan dalam sejarah Islam. (bersambung…)

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × 3 =

*