Thursday, December 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Perbedaan Maqashid Syariah dan Ijtihad Semantik Dari Sisi Epistem

Selain perbedaan dari sisi teks dan konteks, antara ijtihad semantik dan ijtihad maqashidi juga mempunyai perbedaan dari sisi epistem. Jika semantik menggunakan epistem bayan, maka maqashid menggunakan epistem burhan. Yang dimaksudkan dengan epistem bayan adalah bahwa sumber ilmu pengetahuan atau rumusan kaedah yang muncul, bertitik tolak dari bahasa dengan berbagai cabangnya. Bahasa adalah titik sentral ilmu pengetahuan. Dengan bahasa tadi, berbagai informasi dapat dijadikan sebagai titik tolak pengembangan ilmu pengetahuan. Di antara ciri-cirinya adalah menjadikan logika dan filsafat bahasa sebagai tumpuhan dan interpretasi dalam struktur pemikiran, memandang sesuatu secara partikular (juziyat), menggunakan kiyas bayan dengan syarat utama asal, cabang, hukum dan ilat. Kesimpulan hukum yang dihasilkan bersifat zanni, karena bertumpu pada illat yang zanni. Sementara itu, ilmu maqashid bertumpu pada episteme burhan. Pendekatan burhan bertolak dari logika Aristetolian, dengan konsep kiyas Aresto, sistem kajian deduktif dan indulktif. Kiyas Aristo juga mempunyai 4 syarat, yaitu mukadimah sughra, mukadimah kubra, rabit dan natijah. Mukadimah sughra harus berasal dari premis yang benar dan perkara yang bersifat aksiomatis. Oleh karenanya hasilnya bersifat qat’iy. Ciri-cirinya, ia rasional, bertumpu pada premis yang benar, melihat persoalan dari global menuju partikular, lebih mementingkan makna dan penelitian empiris (istiqra). Epistem burhan biasa dipakai oleh filsuf, saintifik, dan sebagian kalangan ulama ushul fikih Memang maqashid syariah tidak menggunakan mcel kiyas Aresto yang bertumpu pada premis mayor minor. Namun ia bertitik tolak dari sisi makna. Selain itu, maqashid syariat memulai persoalan dari yang paling globa, lalu dari persoalan global itu, perlahan-lahan dispesifikasikan sesuai dengan tema bahasan. Maqashid syariah memulai kajian dari persoalan yang sangat umum, menuju persoaan yang khusus. Maqashid syariah juga berpijak dari makna yang sifatnya qat’I sehingga diharapkan hasilnya pun sifatnya qat’i. Ada pula titik temu antara ilmu maqashid dengan mantk Aresto. Jika dalam ilmu mantik ada istilah kuliyatul khamsah, maka imam Syathibi sebagai bapak imu maqasid, dalam kitab Muwafaqat menggunakan istilah kuliyatul khamsah. Kuliyatul khamsah baik pada mantik aresto maupun pada ilmu maqashid, sama-sama digunkan untuk memberikan klasifikasi atas suatu perkara agar mudah diidentifikasi. Contoh praktis terkait perbedaan episteme dari ijtihad semantic dan maqashidi, dapat dilihat dari sampel berikut ini: واقموا الصلاة Kalimat di atas terdiri dari lafal واقموا dan الصلاة. Para ulama lantas melihat bahwa lafal واقموا merupakan fiil amr (kata perintah) untuk banyak orang. Dalam bahasa arab, fiil amr mengandung arti wajib, atau sesuatu yang harus dilakukan. Apalagi jika fiil amr itu terdapat indicator (qarinah) yang menunjukkan bahwa mereka yang tidak melaksanakan suatu perintah, maka akan mendapatkan siksa atau murka. Kecuali jika fiil amr tersebut terdapat indikasi lain, jika tidak dilakukan tidak mengapa. Maka ia sekadar anjuran saja. Dari penelitian terkait fiil amr di atas, lantas para mujtahid membaca teks tadi, kemudian mengambil satu kaeda yaitu: الامر يفيد الوجوب الا اذا صرفته قرينة Kata perintah menunjukkan makna wajib kecuali ada indikasi lain. Jadi, dalam itihad semantic melihat kewajiban shalat sebagai perkara particular dan independen. Karena memang secara teks bahasa, tidak lebih dari itu. Prinsipnya, shalat adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Ilmu maqashid juga melihat bawha shalat hukumnya wajib dengan melihat dari sisi makna teks di atas. Bedanya adalah bawa ilmu maqashid bukan sekadar melihat kewajiban saja secara partikular. Ia masuk dalam persoalan yang lebih umum dan substansi yaitu hifz ad-din atau menjaga agama. Ia satu dari sekian ibadah yang harus dikerjakan oleh setiap insan muslim untuk menjaga agar agama selalu eksis. Bila shalat tidak dikerjakan, maka ada yang timpang dalam urusan agama. Selain itu, meninggalkan shalat juga akan menimbulkan mudarat kepada dirinya baik di duniia maupun akhirat. Contoh lainnya sebagai berikut: Firman Allah: وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu” [al-Maidah/5: 5] Perhatikan lafal berikut: Secara sharih, Allah menghalalkan umat Islam menikahi Kitabiyyah yg muhshanat dari kalangan ahli kitab baik Yahudi ataupun Nasrani. Apalagi di ayat di atas secara jelas menggunakan kata حِلٌّ Jika kita menggunakan ijtihad semantic maka hokum menikahi wanita yhudi dan nasrani yg muhsanat adalah boleh. Fatwa ini berlaku di berbagai negara baik Timur Tengah, Eropa maupun Amerika. Namun apakah hukum ini berlaku di Indonesia? Ternyata tidak. Para ulama besar di Indonesia mengharamkan laki-laki muslim menikahi wnaita nasrani apalagi yahudi. Mengapa? Kita lihat ciri khas ijtihad maqashidi: Bergerak dari konteks, lalu teks lalu kesimpulan hokum. Konteks di Indonesia, ternyata berbeda dengan konteks di timur tengah, eropa atau amerika. Di Indonesia, terjadi kristenisasi luar biasa. Salah satu sarana kristenisasi adalah dengan melakukan nikah beda agama. Jadi pernikahan ini, kebanyakan sekadar jebakan agar pasangan pindah ke agama lain. Ini bearti membahayakan bagi eksistensi agama suami. Di tambah lagi dengan Kristenisasi yang luar biasa. Umat Kristen melakukan berbagai macam cara untuk memurtadkan umat Islam. Pernikahan ini mencari sarana efektif bagi mereka untuk mengkristenkan umat Islam. Dalam maqashid syariah disebutkan bahwa menjaga agama hukumnya wajib. Segala perbuatan yang kiranya bisa melunturkan keberagamaan harus dicegah. Pernikahan antar agama ini menjadi sarana efektif untuk meluturkan keberagamaan seseorang. Untuk itu ia juga harus dicegah. Selain itu, kita menggunakan kaedah sad- dzariah yaitu menutup pintu kemudaratan. Artinya, pernikahan beda agama sangat berpotensi untuk dijadikan sarana seseorang keluar dari agama Islam. untuk itu pintu menuju ke sana harus ditutup rapat-rapat. Salah satunya dengan mengharamkan pernikahan beda agama ini. Juga kaedah lain, yaitu درء المفاسد مقدم على جلب المصالح Menangkal mafsadah harus didahulukan daripada untuk mendapatkan suatu maslahat. Menikah dengan kitabiyah ini menimbulkan mafsadah bagi eksistensi agama. Sementara agama ini masuk dalam kebutuhan primer syariat atau yang ddisebut dengan adh-dharuriyat. Meski ia mengandung maslahat, namun jika ditimbang antara maslahat dengan mafsadahnya jauh lebih banyak mafsadahnya. Untuk itu, maka pernikahan beda agama ini harus di tutup. Apakah ini tidak menyalahi hokum agama? Apakah merubah fatwa ini diperbolehkan? Jawabnya adalah kaedah berikut, seperti yang dinyatakan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab I’lamul Muwaqqiin: تغير الفتوى واختلافها بحسب تغير الازمنة والامكنة والاحوال والنيات والعوائد Artinya: Perubahan fatwa dan perbedaannya terjadi menurut perubahan zaman, tempat, keadaan, niat dan adat istiadat Melihat kaedah tadi, maka perubahan fatawa ini tidak dianggap menyalahi hokum syariat. Bahkan ia sendiri bagian dari hukum syariat. Hal itu karena hokum syariat selalu melihat maslahat hamba, seperti pernyataan Ibnul Qayyim dalam kitab I’lamul Muwaqqiin mengatakan, “Landasan dan pondasi hukum syariat adalah maslahat hamba baik di dunia maupun di akhirat. Syariat semuanya adil, semuanya rahmah, semuanya mengandung maslahat, dan semuanya mengandung hikmah. Semua persoalan yang keluar dari jalur keadilan menuju kezhaliman, dari rahmah kepada sebaliknya, dari maslahat menuju mafsadat, dan dari hikmah menuju kesia-siaan, maka itu bukan lagi bagian dari syariat, meski itu sudah ditakwil”. Dalam kitabnya, Iz Ibnu Abdussalam dalam kitab Qawaidul Ahkam berkata, “Mendahulukan maslahat yang kemungkinan besar akan didapatkan dari mafsadah yang kemungkinan kecil akan muncul merupakan perbuatan baik yang terpuji. Menutup mafsadah yang kemungkinan besar akan muncul, dari maslahat yang kemungkinan kecil akan muncul itu perbuatan baik dan terpuji” Jadi, inilah yang menjadi alas an mengapa pernikahan dengan wanita Kristen di Indonesia di haramkan

==================================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open