Monday, September 21, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Perbedaan antara Nabi dan Rasul (Bagian 2)

Para ulama berselisih pendapat dalam mendefinisikan nabi dan rasul. Sebagian menyamakan antara nabi dan rasul, yaitu para utusan Allah yng diberikan wahyu kepadanya untuk disampaikan kepada umatnya. Sebagian ulama membedakan antara nabi dan rasul. Nabi adalah utusan Allah yang mendapatkan Wahyu namun tidak membawa ajaran baru.iaembawa ajaran untuk menguatkan ajaran rasul sebelumnya. Sementara rasul merupakan utusan Allah yang mendapatkan wahyu dan ajaran baru serta diperintahkan untuk disampaikan kepada umatnya. Jadi setiap rasul pasti nabi namun tidak semua nabi itu rasul.
Kenabian sendiri merupakan anugerah dan pilihan dari Allah. Ia menjadi kehendak mutlak Allah untuk memilih hambaNya sebagai utusanNya. Jadi kenabian bukan muktasabah, yaitu sesuatu yang dihasilkan dari usaha dan upaya.
Dengan begitu, kenabian tidak dapat dicapai dengan ketinggian ilmu, ibadah dan ketaatan. Kenabian juga tidak dapat dicapai dengan semedi, mengosongkan perut, meditasi dan yang lainnya. Namun kenabian merupakan anugerah Ilahi semata, dan pilihan dari Allah, sebagaimana firmanNya:
اللهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Al Hajj:75] . وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. [Al Baqarah:105].

Nabi menjadi perantara manusia yang akan menyampaikan pesan Ketuhanan kepada umat manusia. Tugas seorang nabi sangatlah berat. Tidak semua orang mampu mengemban tugas mulia tersebut. Maka hanya manusia pilihan Allah dan sudah disiapkan olehnya yang akan mengemban tugas mulia ini.
Berat dari amanah yang diemban dan juga ketika menyampaikan risalah kepada umat manusia. Tidak semua orang akan menerima terhadap risalah kenabian. Banyak penentangan di sana sini, pelecehan, permusuhan, pengusiran, peperangan dan bahkan pembunuhan. Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut:

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
“Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian bersikap sombong; kemudian beberapa orang (diantara nabi itu) kalian dustakan dan beberapa nabi (yang lain) kalian bunuh? (QS. al-Baqarah: 87)
Di ayat lain, Allah juga berfirman menceritakan bahwa Yahudi itu membunuh beberapa nabi dan orang-orang soleh yang mendakwahkan kebenaran,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memamg tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. (QS. Ali Imran: 21)
Hanya saja dalam al-Quran tidak disebutkan siapa saja nabi yang dibunuh, dan berapa jumlahnya.
Sebagian ahli tafsir seperti al-Baidhawi menyebutkan beberapa nama nabi yang dibunuh Bani Israil, yaitu:
فإنهم قتلوا اشعياء وزكريا ويحيى وغيرهم بغير الحق عندهم إذ لم يروا منهم ما يعتقدون به جواز قتلهم وإنما حملهم على ذلك اتباع الهوى وحب الدنيا
Mereka membunuh Isaia, Zakariya, Yahya dan yang nabi-nabi lainnya yang mereka tahu itu tidak dibenarkan. Karena mereka tidak memiliki keyakinan bolehnya membunuh para nabi. Namun mereka lakukan itu karena mengikuti hawa nafsu dan cinta dunia (Tafsir al-Baidhawi, hlm. 331)

Jadi nubuwah merupakan perantara dari Allah kepada umat manusia, serta ajakan Allah kepada makhlukNya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Memindahkan makhlukNya dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat.
Kenabian merupakan nikmat luar biasa dari Allah kepada hambaNya dan anugerah Ilahi kepada mereka. Dengan adanya para nabi, manusia mengenal sang pencipta, mengetahui hak dan kewajiban yang harus dilakukan. Nabi memberikan tuntunan kebenaran, agar kita bisa berinteraksi secara benar dengan sang pencipta, dengan sesama manusia, dengan alam ciptaannya dan makhluk lain di dunia. Para nabi di utus sebagai Rahmat bagi umat manusia. Firman Allah berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiyâ’/21:107].

Demikianlah, kenabian adalah Mempunyai posisi, kedudukan dan martabat yang tinggi, yang Allah khususkan kepada para nabi, semata-mata karena keutamaanNya. Dari sini maka Allah mempersiapkan dan memudahkan mereka mengembannya. Dengan keutamaan dan rahmatNya tanpa bersusah payah, Allah menjaga mereka dari pengaruh syetan dan menjaganya dari kesyirikan
. أُوْلَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَاءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُ الرَّحْمَـنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayt-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. [Maryam:58].
Allah berfirman kepada Musa:

: قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَآءَاتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
Allah berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. [Al A’raf:144] . Demikian juga Allah menceritakan pernyataan Nabi Ya’qub kepada anaknya
: وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ اْلأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَآأَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Dan demikianlah Rabb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkanNya kepadamu sebagian dari tabir mimpi-mimpi dan disempurnakanNya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Yusuf:6].

Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan, bahwa kenabian bukanlah sesuatu yang dapat diraih dengan latihan dan pencarian dan angan-angan. Oleh karena itu, ketika kaum musyrikin berkata
: وَقَالُوا لَوْلاَ نُزِّلَ هَذَا الْقُرْءَانُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif) ini?” [Az Zukhruf:31] Maka Allah menjawab dengan firmanNya
: أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمُت رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجَمْعَوُنَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Az Zukhruf:32].

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × four =

*