Tuesday, November 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pengertian Ilmu

Seri Syarah HPT Bab Iman. Artikel ke-34 Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini: اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ. Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar. Yang harus digarisbawahi adalah ungkapan berikut: وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا Jika kita membuka kitab-kitab ilmu kalam, kita akan menemukan bahwa bab ilmu, umumnya masuk dalam bab-bab awal. Hal ini karena ilmu pengetahuan merupakan titik terpenting seseorang memahami sesuatu. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mengetahui apapun. Sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain di muka bumi ini adalah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pula, manusai dapat mengemban amanat besar, yaitu menjadi khalifah di muka bumi. Ilmu masuk bab awal, juga sebagai respon ulama kalam terhadap pandangan para filsuf Yunan dari kalangan kaum sopis yang meragukan adanya ilmu pengetahuan. Para ulama kalam ingin menunjukkan dan membuktikan bahwa pengetahuan memang ada dan manusia sangat mungkin mendapatkan ilmu pengetahuan. Apakah ilmu itu? Abu Bakar al-Baqilani, salah satu ulama kalam dari madzhab Asyari, dalam kitab al-Inshaf menyatakan sebagai berikut: معرفة المعلوم على ما هو به، فكل علم معرفة، وكل معرفة علم Megetah sesuatu serti aslinya. Semua ilmu adalah pengetahun dan semua pengetahuan adalah. Di sini, AbuBakar al-Baqilani tidak membedakanantara ilmu dengan pengetahuan. Keduanya adalah satu entitas yang sama. Jika disebut ilmu, maksudnya adalah pengetahuan dan demikian juga sebaliknya. Ibnu Furak, salah seorang murid dari Imam Abu Hasan al-Asyari, sepertiyang dinukil oleh Imam Baqilani dalam kitab at-Taqrib wa al-Irsyad menyatakan sebagai berikut: لأن حقيقة معنى العلم ما به يعلم به العالم المعلوم، فلو كان نفس القديم سبحانه نفسا بها يعلم المعلومات وجب أن تكون علما وفي معناه. Bahwa hakekat makna ilmu adalah sesuatu yang dapat diketahui seseorang. Jika Allah yang qadim dianggap mengetahui berbagai pengetahuan, maka Allah juga harus disifati dengan Alim atau kata yang sepadan dengannya. Imam Ghazali dalam kitab al-Mustasfa fi Ilmil Ushul mengatakan sebagai berikut: ، فالعلم عبارة عن أخذ العقل صور المعقولات وهيآتها في نفسه وانطباعها فيه، Ilmu adalah gambaran sesuatu pada akal manusia sehingga gambaran sesuatu tersebut tertanam kuat dalam dirinya. Dari berbagai uraian di atas, para ulama kalam sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan ilmu adalah mengetahui sesuatu, sama persis dengan sesuatu aslinya. Pengetahuan sendiri, letaknya dalam akal manusia, sementara akal adalah sesuatu yang sifatnya abstrak. Jadi, ilmu pengetahuan juga bersifat abstrak yang terdapat pada otak manusia. Ilmu dapat dibagi menjadi dua, yaitu ilmu qadim dan ilmu hadis (baharu). Ilmu qadim maksudnya adalah ilmu yang sifatnya qadim tanpa bermula dan azal. Ilamu tersebut sifatnya mengetahui segala sesuatu, baik yang belum terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Ia menjadi sifat dari Tuhan yang qadim. Ia adalah ilmu Allah. Sementara yang kedua, yaitu ilmu hadis (baharu). Maksudnya adalah ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk-Nya. Ilmu tersebut dikatakan hadis karena ia bermula dan berahir. Ilmu hadis sifatnya sangat terbatas. Ilmu hadis menjadi sifat bagi makhluk selain Allah seperti manusia, jin dan para malaikat. Terkait dengan ilmu makhluk, para ulama kalam membagi menjadi dua, yaitu ilmu dharuri dan ilmu nazhari. Ilmu dharuri adalah pengetahuan atas sesuatu secara langsung tanpa butuh proses berfikir lama. Contoh, api panas. Pengetahuan seseorang mengenai panasnya api, tidak butuh waktu lama. Demikian juga pengetahuan seseorang terhadap dinginnya es, langit di atas, dan bumi dibawah yang tidak butuh waktu lama untuk berfikir. Jika ada seseorang tidak mengetahui ilmu dharuri, atau tidak mengetahui sebagian dari ilmu dharuri, menurut Imam Amidi, dia dianggap tidak berakal, seperti halnya seseorang yang tidak mengetahui bahwa api sifatnya panas, atau es sifatnya dingin, atau langit di atas dan bumni di bawah. Ia tidak mempunyai sebagian dari ilmu dharuri Sementara yang kedua adalah ilmu nazhari, yaitu ilmu pengetahuan yang membutuhkan pemikiran. Oleh karena ia butuh proses berfikir, maka tidak semua orang dapat mengetahui ilmu tersebut. Contohnya adalah matematika, kedokteran, sturktur bahasa, detail persoalan fikih, tafsir dan lain sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut tidak diketaui oleh semua orang. Hanya mereka yang mau belajar yang akan mendapatkan ilmu-ilmu tersebut. Ilmu nazhari ini, juga sering disebut dengan ilmu istidlali. Terkait dengan pembagian ilmu menjadi dharuri dan nazhari ini, Qadhi Abu Bakar al-Baqilani dalam kitab al-Inshaf mengatakan sebagai berikut: العلوم تنقسم قسمين: قسم منهما: علم الله سبحانه، وهو صفته لذاته، وليس بعلم ضرورة ولا استدلال، قال الله تعالى: {أنزله بعلمه}[النساء:165]، وقال:{وما تحمل من أنثى ولا تضع إلا بعلمه}[فاطر:11]،وقال: {فاعلموا أنما أنزل بعلم اللّه}[هود:14]، فأثبت العلم لنفسه، ونص على أنه صفة له في نص كتابه. Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu ilmu Allah yang merupakan sifat atas dzat-Nya. Ia tidak terkait dengan ilmu dharuri atau istidlali. Firman Allah, “Allah menurunkannya dengan Ilmunya (QS. An-Nisa: 165). Allah juga berfirman, “Dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. (QS. Fathir: 11) , Firman Allah, “Ketahuilah bahwa)al-Quran) itu diturunkan dengan pengetahuan-Nya (Hud: 14). Di sini Allah mengukuhkan mengenai ilmu-Nya dan dinyatakan bahwa ilmu Allah tersebut merupakan sifat-Nya. والقسم الآخر: علم الخلق. وهو ينقسم قسمين: فقسم منه علم اضطرار، والآخر علم نظر واستدلال: فالضروري ما لزم أنفس الخلق لزوماً لا يمكنهم دفعه والشك في معلومه؛ نحو العلم بما أدركته الحواس الخمس، وما ابتدي في النفس من الضرورات. والنظري: منهما: ما احتيج في حصوله إلى الفكر والروية، وكان طريقه النظر والحجة. ومن حكمه جواز الرجوع عنه والشك في متعلقه Yang kedua adalah ilmu makhluk yang dibagi menjadi dua, yaitu ilmu dharuri dan ilmu nazhari istidlali. Ilmu dharuri adalah ilmu yang diketahui oleh seseorang secara pasti tanpa ada keraguan atas sesuatu itu. Contohnya adalah ilmu yang dapat diketahui oleh panca indera yang lima, atau sesuatu yang diketahui dalam diri seseorang secara aksiomatis. Ilmu nazhari adalah ilmu yang didapat dengan cara proses berfikir. Ia menjadi sarana untuk berargumen. Ciri-ciri ilmu ini bahwa ia boleh dikoreksi. Ia juga bisa ragu terhadap eksistensi ilmu tersebut.

 

Imam Juwaini menyatakansebagai berikut:

العلم ينقسم إلى القديم والحادث فالعلم القديم صفة الباري تعالى القائم بذاته، المتعلق بالمعلومات غير المتناهية، الموجب للرب سبحانه وتعالى حكم الإحاطة المتقدس عن كونه ضروريا أو كسبيا، والعلم الحادث ينقسم إلى الضروري والبديهي والكسبي فالضروري هو العلم الحادث غير المقدور للعبد مع الاقتران بضرر أو حاجة والبديهي كالضروري غير أنه لا يقترن بضرر ولا حاجة وقد يسمى كل واحد من هذين القسمين باسم الثاني،

ومن حكم الضروري في مستقر العادة أن يتوالى فلا يتأتى الانفكاك عنه والتشكك فيه، وذلك كالعلم بالمدركات وعلم المرء بنفسه والعلم باستحالة اجتماع المتضادات ونحوها والعلم الكسبي هو العلم الحادث المقدور بالقدرة الحادثة …»[13].

 

Ilmu terbagi menjadi dua, qadim dan hadis. Ilmu qadim adalah sifat allah yang menyertai dzar, yang terkait dengan pengetahuan tanpa batas , yang harus ada pada diri Tuhan dan sifatnya pengetahuan menyeluruh, bukan terkait dengan ilmu dharuri atau hasbi. Kedua adalah ilmu hadis, yaitu dibagi menjadi dharuri, badihi, dan kasbi. Dharuri adalah ilmu hadis (baharu) yang diterima oleh hamba tanpa usaha, karena kebutuhan tertentu. Kedua, ilmu badihi, yaitu seperti ilmu dharuri hanya saja, ia tidak terikat dengan kebutuhan. Kedua ilmu itu, sering disebut dengan ilmu dharuri saja. Ilmu dharuri sifatnya pasti dan tidak meragukan, seperti pengetahuan yang muncul dari panca indera, pengetahuan seseorang tentang wujud dirinya dan pengetahuan bahwa mustahil ada dua hal yagn saling bertentangan menyatu. Kedua ilmu hasbi, yaitu ilmu hadis yang terkait dengan kemampuan makhluk yang sifatnya hadis.

 

===================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open