Thursday, December 3, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pengajian Ranting Sepi; Ternyata Muhammadiyah Krisi Dai

dsa

 

Di beberapa tulisan saya sebelumnya, berkali-kali saya mewacanakan untuk menghidupkan halaqah ilmiyah di setiap ranting Muhammadiyah. Bahkan sebelumnya saya juga menyampaikan bahwa syarat didiriannya sebuah ranting Muhammadiyah adalah keberadaan pengajian ranting.

 

Namun kenyataannya, banyak ranting Muhamamdiyah sepi pengajian. Padahal di ranting itu kadang sudah berdiri Masjid Muhammadiyah. Semestinya, masjid itu ramai dengan jamaah Muhammadiyah. Masjid ramai dengan pengajian Muhammadiyah, aktivitas IMM, Aisyiyah, NA, Pemuda Muhammadiyah dan lain sebagainya. Jika setiap ortom di Muhammadiyah mempunyai jadwal aktivitas mingguan di masjid, dijamin setiap hari akan ada jadwal kegiatan dan halaqah ilmiyah di Muhammadiyah.

 

Jika masjid ramai dengan berbagai aktivitas keislaman, yang dapat mengambil manfaat dari masjid itu bukan hanya orang-orang Muhammadiyah, namun seluruh umat Islam. Benar memang secara wakaf, masjid dikolola oleh Muhammadiyah. Namun manfaat masjid tidak hanya untuk anggota Muhammadiyah saja. Siapapun orangnya, akan berbondong-bondong untuk menimba ilmu di dalam masjid sera ikut berpartisipasi aktif dalam menggerakkan dakwah Islam.

 

Sayangnya, itu tidak terjadi. Pengajian di ranting banyak yang mati. Pada akhirnya, banyak masjid yang beralih tangan. Bisa saja bukan dengan cara penyerobotan, namun dari sisi aktivitas kegiatan, sudah tidak menggambarkan lagi sebagai masjid Muhammadiyah. Pelan tapi pasti, pengelola masjid bukan lagi dari para aktivis Muhammadiyah. Aktivitas masjid tidak lagi berbau Muhammadiyah, namun menjadi sentral kegiatan aktivis non Muhammadiyah.

 

Mengapa pengajian ranting kosong? Dari beberapa pertanyaan yang saya lontarkan ke rekan-rekan aktivis, ternyata kebanyakan karena tidak adanya ustaz pengampu. Tidak ada kyai kampung yang bisa membina jamaah.

 

Jadi ternyata, Muhamadiyah tidak hanya krisis ulama, namun juga krisis dai. Sungguh sangat memprihatinkan sekali. Bukankah Muhammadiyah ini gerakan Islam yang beramar makruf dan nahi munkar? Bukankah gerakan ini mempunyai motto kembali kepada Quran dan sunnah? Bagaimana bisa kembali ke Quran sunnah jika untuk dai saja, Muhammadiyah mengalami krisis?

 

Ini sudah sangat menghawatirkan. Selama ini Muhammadiyah terlalu fokus pada sekolahan dan universitas, namun tidak mengimbangi secara maksimal dengan pendidikan keagamaan. Banyaknya sekolahan dan universitas Muhammadiyah, ternyata tidak berbanding lurus dengan kaderisasi dai yang bisa membimbing umat. Jangankan pengiriman dai ke daerah terpencil, di perkotaan saja mencari dai Muhammadiyah susahnya minta ampun.

 

Muhamamdiyah sudah waktunya secara massif untuk bergerak menanggulangi krisis dai. Jika tidak, perbagai amal usaha Muhammadiyah akan sirna. Ruh Muhammadiyah akan terlepas. Berbagai AUM itu memang masih bernama Muhamamdiyah, namun tidak menutup kemungkinan kelak ruh kemuhammadiyahan akan hilang. Maka yang rugi adalah persyarikatan secara keseluruhan. Wallau alam.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

18 + four =

*