Wednesday, April 24, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pendapat Ulama Maturidi Terkait Alam Baharu

 

Sebagaimana kami sampaikan bahwa ahli sunnah, sepakat terkait dengan baharunya alam raya. Ahli Sunnah di sini bukan hanya dari kalangan Asyari, namun juga dari kalangan Maturidi. Terkait hal ini, bias kita lihat misalnya dalam kitab Umdatul ‘Aqaid atau lebih dikenal dengan kitab ‘Umdatu Aqidati Ahli ssunnah Wal Jamaah karya Imam Abu Barakat an-Nasafi al-Maturidi. Buku ini salah satu karya tauhid terdepan di kalangan penganut madzhab Ahli Sunnah dari kalangan Maturidi. Berikut kami sampaikan cuplikan dari kitab tersebut:

Pasal Tentang Baharunya Alam Raya

Alam raya merupakan benda ciptaan. Pendapat ini berbeda dengan kalangan Dahriyah. Alam merupakan nama segala sesuatu selain Allah. Alam raya sebagai ciptaan, bisa jadi ia bisa independen yaitu yang disebut dengan al-ain (benda) atau keberadaannya membutuhkan yang lain. Ia adalah al-a’rad (sifat). Sesuatu yang independen tersebut, bisa jadi terdiri dari kumpulan atom, yaitu benda, atau merupakan sesuatu terkecil, yaitu atom. A’rad (sifat atom) sendiri sifatnya baharu. Hal ini bisa dilihat, di antaranya secara inderawi. Baharunya atom tadi, juga bias dilihat dari sisi lain, yaitu bahwa ia menerma kemusnahan. Segala sesuatu yang mungkin musnah, merupakan ciptaan yang sifatnya baharu.

Benda-benda selalu mempunyai sifat benda, dibuktikan bahwa benda ada dua kemungkinan, gerak atau diam. Jika ia bergerak, bearti ia berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Jika tidak bergerak, bearti ia tetap di ruang tertentu, namun tetap melewati waktu tertentu. Sementara jika benda bergerak, bearti ia akan melewati ruang dan waktu yang berbeda. Sesuatu yang berada dalam perubahan ruang waktu tersebut, menandakan bahwa ia merupakan ciptaan.

Sesuatu yang baharu, tentu memerlukan permulaan. Sesuatu yang wujudnya dimulai pada masa tertentu dari ketiadaan, mustahil muncul dengan sendirinya. Artinya bahwa benda tersebut, ada dua kemungkinan, bias jadi akan wujud atau tidak wujud sama sekali. Jika ia ternyata wujud, dan bukan berada dalam ketiadaan, bearti membuktikan bahwa ia ciptaan.

Pencipta benda tadi, sifatnya harus wajibul wujud, artinya keberadaan Sang Pencipta memang suatu keharusan dan keniscayaan. Karena jika keberadaan Sang Pencipta sifatnya imkan, maka Sang Pencipta bias jadi ada bias jadi tidak ada. Tidak mungkin sang pencipta berada dalam dua kemungkinan itu, ada atau tidak ada. Jika sang pencipta tidak ada, tentu wujud-wujud yang lain yang sifatnya imnkan, tidak akan pernah ada. Jika Sang Pencipta wujudnya bersifat imkan, artinya ada yang mewujudkan Sang Pencipta. Jika demikian, wujudnya Sang Pencipta tadi, juga membutuhkan zat lain untuk mewujudkannya. Hal ini akan terus terjadi secara berantai dan tentu mustahil. Maka yang masuk akal adalah adanya Wajibul Wujud, Tuhan Sang Pencipta yang keberadaannya pasti ada tanpa membutuhkan yang lain.

Comments

comments

 border=
 border=