Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pemikiran Keislaman Islam Didominasi Corak Epistemologi Klasik?

dfsahh

Seri counter fikih kebhinekaan, artikel ke-25

Di halaman 103, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut:

Saat ini, berbagai literatur pemikiran keislaman masih didominasi oleh corak epistemologi klasik. Adapun beberapa ciri epistemologi keilmuan klasik tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama, pemikiran Islam klasik, secara epistemologis (metode, rujukan, validitas) masih bercorak teologis-ilahiah-metafisis. Kedua, litelaur Islam klasik-terutama salafy dengan berbagai variannya-masih bersifat normatis-bayani. Umumnya cenderungapologis-polemis. Ketiga, wacana keislaman klasik lebih focus pada moralitas personal, belum beranjak jauh kea wilayah transformasi social. Sebagai contoh, kajian konsep najasah dan thaharah di wilayah transformasi social yang lebih luas, seperti najasah lingkunganhidup, najasah jorupsi, najasah human trafficking, najasah kekerasan dan dimensi humanism lainnya.

Keempat, epistemology keilmuan islam klasikmasih bersifat eksklusif dalam studi keislamannya. Dengan kata lain, Islamic studies belum banyak berdialektika dengan social sciences sebagaimana yang pernah dipelopori Ibnu Khaldun/dkk; atau natural sciences sebagaimana di dalami oleh Ibnu Sina (Avicenna), dan lainnya, dan humanities seperti kajian filsafat, psikologi dan sejenisnya. Jadi, masih monodisiplin, belum multi disiplin.

 

Kelima, khazanah islamklasik masih banyak terkait dengan ruang historis masa lalu. Itulah sebabnya, cerita-cerita kenabian yang didakwahkan dan dikuliahkan, masihbanyak terkait dengan aroma perang senjata yang melimpah dalam berbagai studi keislaman yang lama. Sedangkan kontekstualisasi yang non-fisik- tentu membutuhkan epistemology keilmuan yang baru-terhadap berbagai bentuk najasah social di atas, yang belum begitu banyak ditulis dan didakwahkan, karena di era klasik memang belum menjadi problem social yang urgen. Pada gilirannya, nuansa judgemen, indoktrinasi, penggunaan logika biner black or white dan apologetic, masih begitu kentara mewarnai khazanah teks-teks keislaman klasik, yang sampai kini masih terus dicetak dan diajarkan kepada generasi muslim masa kini. Sebaliknya, teks-teks baru khazanah keilmuan Islam kontemporer sangat minim dielaborasi, diapresiasi, dan disebarluaskan lebih jauh di kalangan umat Islam kontemporer. Secara siyasahpun, epistemology keislamanklasik masih mendominasi, sebagaimana tercantum dalam upaya membangkitkan kembali konsep khilafah, Islamic states dan sejenisnya.

 

Mari kita lihat satu persatu:

Pertama, pemikiran Islam klasik, secara epistemologis (metode, rujukan, validitas) masih bercorak teologis-ilahiah-metafisis.

Jika yang dimaksudkan di sini adalah bahwa pemikiran keislaman selalu berbasik pada nilai-nilai ketuhanan, dengan sandaran atas interpretasi terhadap nas, maka ini benar adanya. Bias dikatakan, bahwa peradaban Islam adalah peradaban nas. Peradaban yang bermula dari pemahaman umat terhadap ajaran agamanya.

 

Jika ditengok dari sejarah, sebelum datangnya Islam, Arab (baca: Mekah Madinah) tidak dikenal dunia. Bangsa arab adalah bangsa pinggiran yang tidak pernah diperhitungkan dalam percaturan politik global. Kehidupan mereka masih bersuku-suku, dan belum ada system pemerintahan yang dapat dapat menyatukan mereka.

 

Lantas datang Nabi Muhammad saw yang membawa risalah kenabian. Nabi Muhammmad saw diutus dengan diberi kitab suci al-Quran. Dengan petunjuk rasulullah, bangsa Arab menjadi bangsa yang tercerahkan.

 

Rasul meninggal, dan mewariskan dua pusaka kepada umat Islam. Dua pusaka itu adalah al-Quran dan sunnah nabi. Umat Islam berusaha untuk selalu berpegang kuat pada dua pusaka tadi untuk menuntun kehidupan mereka di dunia, agar mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.

 

Umat islam bersemangat untuk mendalami al-Quran dan sunnah nabi. Pelan-pelan, ilmu pengetahuan pun lahir di dunia Islam. Muncul ilmu bahasa arab, ulumul hadis, sejarah, ulumul quran, hadis, tafsir dan lain sebagainya. Bukan saja terkait dengan pengetahuan yang sifatnya terkait dengan al-Quran langsung al-Quran dan sunnah nabi. Ilmu pengetahuan lain pun, mulai berkembang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

 

Filsafat, logika, matematika, astronomi, kedokteran, geografi dan lain sebagainya, ikut berkembang. Ilmu-ilmu eksakta, meksi menggunakan studi empiris, namun tidak membuat para ilmuan muslim sekuler atau bahkan melupakan nilai ketuhanan. Berbagai cabang ilmu selalu dikaitkan dengan keagungan Tuhan.

 

Inilah yang membedakan ilmuan muslim dengan ilmuan Barat modern. Ilmu di Barat sekadar untuk ilmu. Bahkan ilmu lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Ilmu menjadi sangat sekuler dan materialistic. Ilmmu bahkan sangat positifistik, hanya percaya atas sesuatu yang dapat dibuktikan secara empiris.

 

Maka Tuhan pun dicampakkan dari ilmu pengetahuan. Muncullah teori seleksi alam ala Darwin, teori kekekalan energy, dialektika materialis dan lain sebagainya. Bahkan Tuhan pun dianggap sudah mati.

 

Maka jika ciri keilmuan Islam secara epistemologis (metode, rujukan, validitas) bercorak teologis-ilahiah-metafisis, itu memang menjadi identitas yang tidak boleh dihilangkan. Mengikuti pemikiran barat yang positifistik, justru menghilangkan identitas pemikiran Islam yang sesungguhnya.

 

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open