Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pemerintah Yang Tidak Menerapkan Hukum Islam, Haruskah Dimakzulkan?

imageshr

Di bebera kajian, baik FB ataupun whats app, sering sekali muncul pertanyaan mengenai sikap kita sebagai seorang muslim tatkala menghadapi pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Islam. Bahkan sebagian dari mereka mempertanyakan mengenai hukum mengangkat senjata untuk melawan pemerintah tidak menerapkan syariat islam.

 

Persoalan ini sesungguhnya sudah ada sejak lama. Dalam kitab-kitab turas sering disebutkan mengenai pendapat para ulama ketika menghadapi pemerintah yang kafir, atau zhalim atau fasik. Bedanya dengan saat ini adalah bahwa pemerintah Islam terhadulu menjadikan quran sunnah sebagai landasan konstitusional. Artinya, pemimpin yang tidak menerapkan quran sunnah bearti dia melanggar konstitusi negara. Sekarang, bagaimana menanggapi pemimpin yang tidak mau menjalankan konstitusi yang sah?

 

Sementara saat ini kita berada di negara yang tidak menerapkan hukum Islam. Kita berada di negara demokrasi, bukan negara yang menganut pemikiran politik islam. Bisa saja sebagian hukum islam terakomodir dalam sistem demokrasi, namun tetap saja sifatnya hanya partikular. Hukum islam dimasukkan sebagai jawaban atas permintaan umat, itupun sangat terbatas. Padahal sesungguhnya hukum islam itu sempurna dan mencakup seluruh kehidupan masyarakat.

 

Lantas bagaimana pandangan para ulama dalam menghadapi pemerintah yang tidak menerapkan hukum Islam? Bolehkan seseorang atau kelompok mengangkat senjata dan memberontak untuk mengambil alih kekuasaan agar dapat berdiri negara Islam dengan menerapkan syariat Islam?

Di sini ada tiga pandangan:

 

  1. Ahlu Sunnah. Menurut pendapat ahlu sunnah bahwa selama ada pemimpin yang sah, rakyat dilarang memberontak. Mereka wajib tunduk dan taat kepada pemerintah. Menurut ulama ahlu sunnah bahwa memberontak mempunyai implikasi negatif yang lebih besar. jika ditimbang antara manfaat dan mudara lebih banyak mudaratnya. Angkat senjata bearti berperang. Dalam kondisi pertempuran, akan banyak terjadi kerusakan baik berupa pemubunuhan (pertumpahan darah), ketidak stabilan politik, ekonomi dan juga sosial. Memberontak bearti perang saudara yang bisa memporak porandakan tatanan pemerintahan. Maka bersabar dan tunduk kepada pemerintah yang ada jauh lebih kecil mudaratnya dibandingkan harus angkat senjata. Meski demikian, para ulama tetap wajib beramar makruf nahi munkar dengan cara yang baik. Para ulama tetap diberi kewajiban untuk menasihati pemerintah agar mau menerapkan hukum Islam.
  2. Menurut muktazilah, penguasa yang tidak menerapkan syariat Islam harus dimakzulkan. Hanya saja mereka mempunyai syarat agar penguasa bisa dimakzulkan, yaitu 1). Pemakzulan tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar. 2) Sudah disiapkan pemimpin lain yang yang bisa diterima dan bisa menerapkan syariat Islam secara baik
  3. Menurut khawarij, pemimpin yang tidak menerapkan syariat Islam harus dimakzulkan. Jika ia tidak mau dimakzulkan, maka harus dimakzulkan secara paksa. Jika tidak mau, maka harus angkat senjata melawan pemerintah yang sah, seberapapun kekuatan kelompok Islam.

 

Pertanyaannya, bagaimana pandangan ahlu sunnah terhadap Imam Husain, apakah beliau juga dianggap bughah? Ahli sunnah (salafiyah) mengatakan bahwa Imam Husain tidak bughah (bukan pemberontak), karena belum ada bukti dia memberontak. Menurut mereka bahwa Imam Husain menuju Irak. Di tengah jalan dihadang oleh tentara Yazid. Dikatakan tidak bughah karena Imam Husain belum melakukan pemberontakan kepada Yazid. Ia “baru niat” untuk memberontak.

 

Lalu bagaimana pandangan Ahlu Sunnah terkait perang Jamal dan Shiffin? Para ulama Ahlu Sunnah berpendapat bahwa Perang jamal dan perang Siffin merupakan bagian dari itjihad para sahabat. Mereka tidak menyalahkan satu kelompok sahabat dan membenarkan kelompok lainnya. Mereka cenderung tafwidh (menyerahkan urusannya kepada Allah). Wallahu alam.

 

 

Jika dilihat dari tiga pendapat di atas, saya lebih memilih pendapat ahlu sunnah. Argumentasi yang mereka sampaikan lebih rasional. Jika ada pemerintah yang tidak menerapkan hukum Islam, Ahlu sunnah tetap menginginkan perubahan. Terbukti bahwa amar makruf dan nahi munkar tetap diwajibkan. Hanya saja mereka lebih memilih jalan damai.

 

Sementara itu pendapat kelompo khawarij sangat radikal. Mereka cenderung akan melawan terhadap pemerintah yang dianggap tidak sesuai syariat. Persoalannya, tidak sesuai syariat itu kadang hanya sesuai dengan perspektif mereka saja tanpa melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Contoh sederhana soal cadar, di mana menurut sebagian mereka hukumnya wajib. Maka pemerintah yang tidak mewajibkan cadar bagi perempuan sudah dianggap tidak sesuai syariat. Mereka tidak melihat bahwa persoalan ini masih terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Sikap ekstrim seperti ini justru menimbulkan masalah.

 

Sebagian kelompok Islam kontemporer mengikuti paham khawarij, yaitu bahwa negara yang tidak menerapkan hukum Islam harus dimakzulkan secara paksa. Mereka mengangkat senjata dan melawan pemerintah. Akibatnya adalah perang saudara berkepanjangan. Di sini yang didapatkan bukan penerapan syariah Islam, namun kehancuran nenaga-negara muslim. Apa yang terjadi di berbagai belahan dunia Islam menjadi contoh nyata. Jika negara Islam hancur akibat perang saudara, maka yang senang adalah para musuh Islam, yaitu Yahudi dan Barat.

 

Pendapat muktazilah, meski terkesan rasional, namun sulit diterapkan. Meski secara kalkulasi matematik untuk melawan pemerintah mereka sudah menang di atas kertas, namun siapa yang menjamin bahwa tatkala kudeta atau angkat senjata dilaksanakan akan sesuai dengan kalkulasi awal? Banyak contoh kasus di mana menurut perkiraan, perang hanya akan memakan waktu singkat, atau akan dilakukan kudeta tidak berdarah, namun dalam kenyataannya lain. Lawan ternyata mempunyai kekuatan lebih diluar pertimbangan mereka.

 

Jadi, tetaplah bercita-cita untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah, namun dengan cara yang damai dan sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing tanpa harus mengangkat senjata melawan pemerintah. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

five − 2 =

*