Thursday, December 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

PembukanMushaf di Masa Khalifah Abu Bakar as-Shidik

Al-Quran telah ditulis oleh para sahabat sejak masa Rasulullah saw. Banyak para sahabat yang terkenal sebagai para penulis al-Quran, di antaranya adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Kaab, Abdullah bin Rawahah, Mu’aiqib bin Abi Fathimah ad-Dusi, Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, Abdullah bin Zaid, Muhammad bin Maslamah, Buraidah bin al-Hushaib, Tsabit bin Qais bin Syammas, Hudzaifah bin al-Yaman dan masih banyak lagi. Mereka akan menulis al-Quran kapan dan di mana wahyu turun. Penulisannya pun belum menggunakan kertas, namun masih berserakan dengan berbagai macam media. Ada yang dituis di atas pelepah kurma, batu, tulang dan lain sebagainya. Penulisan mushaf al-Quran ini sejak awal memang sudah menjadi perintah langsung dari Rasulullah saw seperti sabda beliau berikut ini:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian menulis dariku, barangsiapa menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus, dan ceritakanlah dariku dan tidak ada dosa. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku -Hammam berkata: Aku kira ia (Zaid) berkata: dengan sengaja, maka henkdaklah menyiapkan tempatnya dari neraka.” [Muslim]

Sabda beliau “Selain al-Quran”, menunjukkan bahwa penulisan al-Quran sudah dimulai dan diperintahkan oleh Rasulullah saw. Hadis di atas sekaligus mematahkan pandangan kaum orientaslis yang menyatakan bahwa al-Quran ditulis di abda ke-2 hijriyah.

Setelah Rasulullah wafat, umat islam banyak yang murtad dan kembali ke agama nenek moyang. Ada pula yang enggan membayar zakat dan menentang kekhalifahan Abu Bakar as-Shidik. Wilayah Islam lepas dan memisahkan diri dari Negara Madinah. Bahkan dikatakan wilayah Islam hanya tinggal mekkah dan madinah saja.

Abu Bakar setelah diangkat menjadi khalifah, upaya yang pertama dikalukan adalah menyatukan kembali barisan umat Islam yang bercerai berai. Beliau melakukan berbagai pertempuran dengan para pemberontak, seperti Musailamah al-Kadzab yang mengaku sebagai nabi baru.

Dalam medan pertempuran, ada satu peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu peristiwa perang Hamamah yang terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Dalam pertempuran melawan kaum murtaddin tersebut, banyak kaum muslimin dari para qura’ (penghafal al-Quran) yang meninggal dunia. Konon jumlah mereka yang syahid mencapai 70 Qura.

Melihat kondisi seperti ini, para sahabat merasa risau. Umar bin Khatab melihat ada bahaya yang mengancam umat Islam, yaitu keterputusan dengan al-Quran. Umar khawatir bahwa umat Islam setelah generasi sahabat, tidak memiliki pegangan al-Quran.

Maka Umar menghadap khalifah Abu Bakar as-Shidiq dan mengusulkan agar dilakukan pembukuan mushaf al-Quran. Pada awalnya Abu Bakar menolak dikarenakan hal itu tidak dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Namun Umar meyakinkan Abu Bakar bahwa pembukuan mushaf al-Quran adalah sesuatu perbuatan yang sangat penting, meski tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.. Pada akhirnya, Abu Bakar menerima.

Abu Bakar membentuk tim untuk pembukuan mushaf tersebut. Titunjukklah Zaid Bin Tsabit sebagai ketua tim. Pada awalnya Zaid bin Tsabit menolaknya dengan alasan yang sama, yaitu perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar, beliau menerima.

Tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit lantas mulai bekerja dengan penuh kehati-hatian. Beliau mengumpulkan semua tulisan yang berserakan. Untuk menjamin keontetikan al-Quran, beliau menerima tulisan, juga mengecek dengan bacaan para sahabat. Selain itu, juga meminta saksi tentang kebenaran bacaan dan teks al-Quran tersebut.

Terkait pembukuan al-Quran, berikut hadis yang dapat dijadikan pijakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ أَبُو ثَابِتٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ بَعَثَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ لِمَقْتَلِ أَهْلِ الْيَمَامَةِ وَعِنْدَهُ عُمَرُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ فِي الْمَوَاطِنِ كُلِّهَا فَيَذْهَبَ قُرْآنٌ كَثِيرٌ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِي ذَلِكَ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ عُمَرَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَإِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ قَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ قَالَ زَيْدٌ فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفَنِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ بِأَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا كَلَّفَنِي مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلَانِ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ يَحُثُّ مُرَاجَعَتِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ اللَّهُ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَيَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الْعُسُبِ وَالرِّقَاعِ وَاللِّخَافِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ فَوَجَدْتُ فِي آخِرِ سُورَةِ التَّوْبَةِ { لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ } إِلَى آخِرِهَا مَعَ خُزَيْمَةَ أَوْ أَبِي خُزَيْمَةَ فَأَلْحَقْتُهَا فِي سُورَتِهَا وَكَانَتْ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَيَاتَهُ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَيَاتَهُ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ اللِّخَافُ يَعْنِي الْخَزَفَ
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ubaidullah] Abu Tsabit, telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin sa’d] dari [Ibnu Syihab] dari [Ubaid bin Sibaq] dari [Zaid bin tsabit] mengatakan, Abu bakar mengutus seseorang menemuiku karena banyaknya korban yang gugur pada perang Yamamah, ketika itu Abu bakar bersama Umar. Abu Bakar berkata; ‘Umar mendatangiku dan mengatakan; ‘Korban perang telah meluas pada perang yamamah hingga merenggut qurra` (penghafal) alquran, dan saya khawatir jangan-jangan dengan meninggalnya qurra` alquran di banyak tempat, mengakibatkan sekian banyak ayat quran akan menghilang, dan saya berpendapat jika engkau perintahkan untuk mengumpulkan alquran.’ Maka Saya menjawab; ‘bagaimana aku lakukan sesuatu yang belum pernah Rasulullah lakukan? ‘ Umar kontan mengemukakan pendapatnya; ‘Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan, ‘ Umar tiada henti-hentinya mendorongku untuk melakukan pekerjaan ini, hingga Allah melapangkan dadaku untuk melakukan pekerjaan yang dada Umar telah lebih dahulu dilapangkan terhadapnya, dan aku sependapat dengan pendapat Umar.’ Zaid mengatakan, Abu Bakar berkata; ‘Sungguh engkau adalah laki-laki yang masih muda, cerdas, dan kami sama sekali tidak menyangsikan kemampuanmu, sebab engkau sudah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah. Maka susurilah alquran (yang masih terpencar-pencar) dan kumpulkanlah.’ Maka Zaid menjawab; “Demi Allah, sekiranya Abu bakar menugasiku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak lebih berat bagiku daripada menugasiku untuk menghimpun alquran. Maka aku berkata; ‘Bagaimana mungkin anda berdua melakukan sesuatu yang tidak pernah di lakukan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam? ‘ Abu Bakar menjawab; ‘demi Alllah, pekerjaan ini adalah kebaikan.’ Tiada henti-hentinya Abu Bakar memotivasi pertimbanganku hingga Allah melapangkan dadaku untuk melakukan suatu hal yang Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar untuk melakukannya. Dan aku sependapat dengan keduanya, maka kutelusuri alquran yang terpencar-pencar dan kuhimpun dari pelepah, kulit, tembikar, tulang dan dada para penghapal, dan kutemukan di akhir surat at taubah ayat yang berbunyi; ‘Telah datang kepada kalian seorang rasul dari jenis kamu sendiri,,,, hingga akhir ayat (QS. Attaubah 128) bersama Khuzaimah atau Abu Khuzaemah, sehingga aku masukkan dalam suratnya. Kemudian shuhuf (manuskrip pencatatan asli alquran) ini berada di Abu Bakar ketika hidupnya sampai Allah mewafatkannya, kemudian keberadaan shuhuf ini pada Umar ‘azza wajalla semasa hidupnya sampai Allah mewafatkannya, kemudian pada Hafshah binti Umar.’ Muhammad bin Ubaidullah mengatakan; maksud al likhaf ialah tembikar (tanah liat yang dibakar). (HR. Muslim)

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar beserta para sahabat, berdasarkan pada pertimbangan maslahat. Mereka menyadari bahwa perbuatan pembukuan mushaf belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Hanya saja, jika hal ini tidak dilakukan, akan muncul mudarat yang jauh lebih berbahaya. Umat Islam pasca generasi sahabat, bisa saja kehilangan pegangan. Tentu ini harus diatasi dengan pengumpulan mushaf tersebut.

Apa yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar merupakan upaya untuk menjaga agama agar tidak punah. Dalam maqashid syariah, disebut dengan hifzuddin min janibil adam (melindungi agama agar tidak punah). Ia masuk dalam ad-Dharuriyatul Khamsah.

 

==================================

Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open