Sunday, April 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Pembakaran Hutan, Sebuah Kejahatan kemanusiaan

gsahhj

 

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita mengenai kebakaran hutan yang melanda di berbagai daerah di Tanah Air. Banyak media yang menyatakan bahwa sesungguhnya yang terjadi bukan pembakaran hutan, namun perusahaan tertentu yang sengaja membakar hutan. Tujuannaya untuk  dijadikan sebagai tanah perkebunan. Pembakaran sengaja dilakukan karena dianggap mempunyai nilai paling ekonomis dibandingkan dengan mengerahkan masa untuk membersihkan lahan.

 

Benar bahwa tanah tersebut milik perusahaan. Namun sayangnya mereka sama sekali tidak memikirkan mengenai dampak negatif yang ditimbulkan. Bahkan pembakaran itu menjadi bencana nasional yang sudah memakan banyak korban. Penduduk yang tidak tau apa-apa terpaksa harus menahan sakit dan menutup hidung karena terkena asap hutan.

 

Dalam Islam, kepemilikan barang tidak kemudian membebaskan orang untuk melakukan segala sesuatu atas harta miliknya. Pemilik mutlak harta sesungguhnya adalah Allah. Manusia sekadar diberi titipan untuk digunakan secara maksimal dan sesuai dengan jalan yang telah digariskan Allah dalam kitab suci.

 

Meski barang menjadi milik pribadi, namun jika dalam penggunaan dapat menimbulkan mudarat bagi orang lain, maka tindakannya tersebut dianggap sebagai sebuah prilaku kriminal. Ia layak diberi hukuman setimpal. Dalam fikih Islam, seperti yang sering dicontohkan dalam kitab kuning seperti kitab al-Iqna karya Abu Suja, bahwa jika ada orang melubangi tanah miliknya, lalu ada orang yang jatuh karenanya, maka ia harus diberi hukuman. Meski lubang di tanah miliknya, namun karena ulahnya telah membuat mudarat bagi orang lain, maka ia harus dihukum.  Hukuman seperti ini dalam ushul fikih sesuai dengan kaedah:

لا ضرار ولا ضرار

Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” 

Kaedah ini diambil dari hadis Rasulullah saw yang bunyinya senada yaitu:
عَنْ أَبيِ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ سِنَانِ اْلخُدْرِي رَضِيَ الله ُعَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ”

Dari Abu S’aid, Sa’d bin Sinan al-Khudry RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” 

 

Pembakaran hutan itu bukan sekadar membuat mudarat bagi satu orang. Ia bahkan telah membuat mudarat bagi banyak orang, merusak ekosistem, membuat berbagai aktivitas ekonomi terbengkalai, sekolahan libur dan lain sebagainya. Dari sini bearti mereka telah banyak melanggar kaedah maqasid syariah, seperti hifzhu annafsi (menjaga jiwa), hifzul mal  (menjaga harta), dan hifz aql (menjaga akal).

 

Melanggar salah satu dari dharuriyatul khamsah saja, hukumannya sangat berat, seperti hukuman mati bagi pelaku pembunuhan. Di sini ia sudah melanggar tiga dari 5 hal. Jika demikian, maka ia sudah masuk dalam golongan para pembuat onar dan bencana di muka bumi.

 

Apa hukuman bagi pelaku perusakan di muka bumi ini? Mari ktia lihat ayar berikut:
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Maidah: 33)

 

Syaikh As Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat adalah orang yang keluar dan melakukan teror di jalanan dengan melakukan perampasan atau pembunuhan. (Manhajus Salikin, hal. 243). Memang mereka terkesan tidak merampok dan membunuh. Namun jika dilihat dari pelanggaran 3 hal di atas, mereka justru lebih kejam dari perampok dan pembunuh.

 

Dianggap merampok karena perbuatan mereka ini mengakibatkan terkendalanya berbagai aktivitas ekonomi. Tentu ini menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Dikatakan membunuh karena akibat ulah mereka ini, banyak nyawa yang terancam. Bahkan ada yang nyata masuk rumah sakit sampai meninggal dunia.

 

Belum lagi dari pelanggara-pelanggaran tambahan lainnya. Maka sudah sangat layak jaka pelaku pembakar hutan itu digolongkan sebagai orang yang membuat kerusakan di muka bumi dan membuat onar di masyarakat. Ia telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Tidak ada hukum lain yang lebih layak bagi pelaku kejahatan seperti ini selain dihukum mati, bahkan juga disalib.

 

Sayangnya negeri ini tidak menerapkan syariat Islam. Meski sudah jelas-jelas bahwa mereka adalah pelaku kriminal, namun banyak yang tidak mendapatkan hukuman setimpal. Mereka yang terkena jerat hukum pun, masih tidak imbang dengan dampak yang ditimbulkan di masyarakat.

 

 

Anehnya lagi, meskipun pembakaran hutan telah melakukan kejahatan kemanusaan dan melanggar prinsip-prinsip dasar syariah, namun para ulama dan ormas Islam terkesan “diam” dan menganggapnya sebagai persoalan biasa. Tidak ada tekanan dari ormas Islam dan ulama kepada pemerintah untuk bertindak tegas bagi para pelaku tindak kriminal. Padahal ini sangat erat kaitannya dengan prinsip dasar hukum Islam.

 

Nampaknya masih perlu pemahaman bagi umat Islam terkait pemahaman hukum Islam ini. Hukum Islam sesungguhnya bukan sekadar terkait dengan ibadah saja, hudud dan qishas saja. Hal-hal yang berkaitan dengan maslahat manusia, apalagi sampai membahayakan eksistensi jiwa manusia adalah prinsip dasar hukum Islam . Wallahu alam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 − three =

*