Sunday, December 21, 2014
Artikel Terbaru

Pembagian Dilâlah Menurut Ulama Mutakallimûn

kaligrafi 1Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Hanafiyah membagi dilâlah menjadi empat, yaitu ‘ibâratu al-nash, isyâratu al-nash, dilâlah al-nash dan dilâlatu’l iqtidhâ’. Sementara ulama mutakallimûn menambahkan dilâlah lain yang mereka sebut sebagai mafhûm mukhâlafah. Sebagian ulama ushul menyebutnya dengan istilah dalîlu’l khitâb”.

Di kalangan mutakallimûn, dilâlah dibagi menjadi dua, yaitu dilâlatu’l manthûq dan dilâlatu’l mafhûm. Mantûq adalah makna yang ditunjukkan lafazh ketika diucapkan.[2] Dengan demikian, dilâlah manthûq dapat berupa dilâlah muthâbiqiyyah, dilâlah tadhâmuniyyah atau dilâlah iltizâmiyyah.

Contoh:

وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ

Artinya: “Anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri”. (QS: Al-Nisâ’: 23).

 

Ayat di atas menunjukkan bahwa menikahi anak dari istri yang sudah dicampuri hukumnya haram. Dilâlah dalam ayat tersebut disebut sebagai dilâlah manthûq.

Sedangkan dilâlah mafhûm adalah petunjuk lafazh terhadap ketetapan hukum yang tidak disebutkan dan tidak diucapkan dalam ungkapan kalimat.

Contoh:

فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا

Artinya: “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka”. (QS. Al-Isra: 23).

 

Ayat tersebut tidak hanya melarang anak untuk mengatakan “ah” dan membentak kepada orang tua, namun juga melarang segala sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan yang dapat menyakiti hati keduanya. Petunjuk makna (dilâlah) tidak terucapkan dari ayat tersebut, namun dapat diketahui dari pemahaman kita terhadap redaksi ayat. Inilah yang disebut dengan dilâlatu’l mafhûm.

Sebagaimana dikatakan oleh imam Haramain bahwa ketetapan hukum yang dapat diambil dari lafazh dapat dibagi menjadi dua:

Pertama: ketetapan hukum yang langsung dapat dipahami dari redaksi nash ketika diucapkan. Inilah yang disebut dengan manthûq.

Kedua: makna yang dapat dipahami dari ungkapan lafazh meski tidak terucapkan. Inilah yang disebut dengan mafhûm.[3]

 



[1] Disebut dengan mutakallimûn karena metodologi yang digunakan mirip dengan para ulama mutakallimûn, yaitu dengan sistem jadal (dialektika). Sebagian ulama menyebutnya dengan metodologi Syafi’iyah, karena imam Syafi’i dianggap sebagai orang pertama yang meletakkan metodologi tersebut. Hanya saja, sebagian ulama menentang menisbatkan mutakallimun pada imam Syafi’i. Lebih lengkapnya, lihat, Dr. Mas’ud bin Musa Falusi, Madrasah al-Mutakallimîn wa Manhajuhâ fi Dirâsati Ushuli’l fiqh, Maktabah al-Rusy, Riyad, cet I, 2004, hal. 102 et eqq

[2] Dr. Hamdi Shubhi Thaha, Buhûtsun ushûliyyah, fî’l Manthûq wa’l Mafhûm, wa’l Amr wa al-Nahy wa’l ‘Umûm wa’l Khushûsh, tanpa tahun dan penerbit, hal. 13

[3] Muhammad Udaib Shalih, Tafsîru al-Nushûsh fî’l Fiqhi’l Islâmiy, jilid I, Maktabah Islâmiy, Beirut, cet. III, 1983, hal. 591

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *