Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Nazar

1_a-melatih-anak-berpikir-lateral-200x122
Secara bahasa, nazar bisa diartikan melihat, menunggu, bertemu, berfikir dan merenung
Dalam ilmu kalam, nazar biasa diartikan dengan berfikir dan merenung
(Bukan melamun lhoo…)
Menurut Qadhi Abu Bakar nazar adalah proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan atau mendapatkan prasangka yang dekat dengan pengetahuan/ilmu.
Nazar dibagi dua, ayitu
1. Nazar dimana sarana menuju obyek pemikiran benar, maka nazarnya benar. Sederhananya, metodologi yang dipakai dalam proses berfikir untuk mendapatkan ilmu tertentu, benar.
2. Nazar dimana sarana menuju obyek pemikiran adalah salah. Maka nazarnya salah
jika metodologi untuk mendapatkan obyek ilmu tertentu salah, maka nazarnya pun jadi salah
Contoh: membuat secangkir kopi, sejatinya dengan air mendidih, lalu dituangkan kopi, maka jadilah kopi. Tapi jika yangtiuangkan adalah susu, maka akan menjadi air susu, bukan air kopi.

Syarat nazar secara umum adalah akal dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi proses berfikir (nazar).
Namun apakah akal itu?
Menurut para filsuf, akal adalah esensi yang lepas dari. Ia juga tidak ada hubungannya dengan materi. Dengan makna ini, kadang para filsuf menyebut Tuhan dengan akal. Mereka juga menyebut akal terhdaap sesuatu yang bersumber dari akal pertama (Tuhan). Segala konsepsi yang lepas dari materi dan tidak ada hubungannya dengan materi juga disebut akal.

Menurut para filsuf, akal kadang diartikan sebagai potensi (quwah) yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan tertentu. Mereka menyebutnya dengan akal nazari (akal sebagai proses berfikir). Kadang diartikan sebagai potensi seseorang untuk dapat mengerjakan pebuatan yang bersifat particular (juz’iy).

Kalau akal dianggap sebagai quwah, apa bedanya dengan ruh (spirit)?

Akal (quwah) lebih pas diartikan potensi
Karena spirit itu lebih kepada kehendak atau dorongan

istilah quwah disini adalah istilah para pakar mantik (logika). Ada istilah bilquwah, ada juga istilah filfi’li.
Bilquwah adalah potensi, sementara bilfi’li adalah mengeluarkan potensi ke dalam alam nyata.
Contoh: manusia punya potensi makan (waktu itu dia tidak sedang makan, makanya disebut dengan bilquwah).
Manusia sedang makan (waktu itu dia sedang makan. Karena sedang makan, maka ia sekarang disebut akilun bil fi’li. Kalau sebelumnya, akilun bil quwah).
Contoh pekerjaan partikular: makan, minum, bekerja dll.
Potensi seseorang untuk dapat melakukan perbuatan tsb disebut akal amali

Kadang diartikan sebagai potensi seorang anak untuk mendapatkan ilmu. Contoh: untuk dapat menulis. Jika dia belum bisa menulis, maka disebut akal alheoulany. Jika sudah dapat menulis namun belum dapat menyusun struktur kalimat, sehingga belum dapat mengungkapkan apa yang ada dalam otak dia, maka disebut akal bilmilkah. Jika sudah bisa, maka disebut akal bil fi’li

Aka kadang diartikan sebagai potensi mendapatkan ilmu tanpa proses blajar. Ini disebut sebagai akal suci.

Tradisi Masyarakat secara umum menggunakan istilah akal bagi mereka yang sehat secara rahani
Akal juga dianggap sebagai tempat manusia menerima beban syariah. Terjadi perbedaan pendapat dikalanganMutakalimun tentang arti akal. Pendapat ini bersandar dari anggapan mereka tentang baik buruk yang dapat diketahui melalui akal.

Muktazilah menganggap bahwa akal adalah sesuatu yang dapat mengetahui bahwa yang buruk adalah buruk, dan yang baik adalah baik
Sebagian muktazilah mendefinisikan akal sebagai sesuatu yang dapat membedakan terbaik dari dua kebaikan dan terburuk dari dua keburukan. Lagi-lagi, ini karena prinsip mereka yang menyatakan bahwa baik buruk dapat diketahui dengan akal.

Menurut khawarij, akal adalah sesuatu yang dapat memikirkan perintah Allah dan larangannya
Pendapat ini lemah, karena mendefinisikan akal, dengan kata-kata akal (memikirkan). Juga menafikan akal bagi orang yang belum menerima dakwah Islam. Atau anak kecil yang belum baligh

Menurut Abu Ishaq yang bermazhab Asyariy, akal adalah ilmu.
Pendapat ini juga lemah.
Jika yang dimaksud ilmu di sini adalah semua ilmu, maka orang yang hanya menguasai sebagian ilmu tidak dapat disebut sbagai orang yang berakal.
Jika yang dimaksudkan sebagian dari ilmu, maka definisinya tidak jami’ mani’.

Ada juga yang menyatakan bahwa akal adalah insting untuk dapat mencapai pada pengetahuan
Jika yang dimaksud selain ilmu, maka pendapat ini jugaa susah diterima karena tidak ada yang dapat mencapai pengetahuan tertentu selain ilmu.
Jika yang dimaksudkan insting adalah ilmu, maka ia mempunyai kelemahan seperti pendapat sebelumnya. Pendapat ini juga lemah

Imam Haramain memilih pendapat ini. Ia juga menambahkan bahwa akal ada. Sesuatu yang ada, bisa qadim atau hadis. Mustahil akal itu qadim. Karena yang qadim hanya Allah dan sifatnya. Jadi akal hadis.

Ada juga dari ulama Asyari yang menyatakan bahwa akal adalah sebagian dari ilmu daruri. Qadim adalah sesuatu yang ada tanpa dicipta. Hadis adalah sesuatu yang ada karena dicipta
Sementara akal tidak. Karena di antar ciri jauhar adalah bahwa ia dapat tersusun. Akal juga bukan al-jauhar (atom). Jika akal adalah jauhar, semestinya semua jauhar jugaa akal. Dan ini tidak terjadi.
Contoh: jika akal jauhar, bearti kayu, air, batu adalah akal. Karena benda-benda tersebut tersusun dari jauhar.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

5 × four =

*