Sunday, July 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Muktazilah

gfsah

 

Muktazilah adalah nama partai yang muncul di dunia Islam pada awal abad II H. Mereka dalam mengkaji aqidah Islam menggunakan metodologi akal murni. Mereka adalah pengikut Washil bn Athâ’ yang dirajihkan sebagai pendiri partai tersebut.[1]

 

Para sarjana muslim berbeda pendapat seputar asal mula dinamakan sebagai Muktazilah. Pertama: kata Muktazilah dinisbatkan kepada pengikut Washil bin Atha’ dari partai Ahlu Sunnah. Nama tersebut sebagai identitas bahwa mereka telah memisahkan diri dari partai Ahlu Sunnah, meninggalkan guru-guru awal mereka dan dianggap telah mengisolasi diri (i’tizâl) atau menyalahi fatwa mengenai ketetapan hukum bagi pelaku dosa besar. Dari sini nama Muktazilah adalah bagian dari nama celaan dan tuduhan secara jelas dari partai lawan karena tudingan telah menyalahi ketentuan partai.

 

Menurut Syahrstaniy, bahwa awal dinamakan sebagai Muktazilah adalah karena datang seorang santri dalam majelisnya Hasan Bashriy. Santri itupun kemudian bertanya: “Wahai imâmuddin, pada zaman kita ini bermunculan berbagai golongan yang mengafirkan pelaku dosa besar, karena bagi mereka dosa besar adalah kafir dan telah keluar dari millah. Mereka itu adalah aliran Khawârij. Juga terdapat golongan yang mengabaikan terhadap pelaku dosa besar. Golongan ini menganggap bahwa dosa besar tidak memiliki implikasi negatif terhadap iman seseorang. Amal perbuatan, dalam golongan ini bukan bagian dari iman. Maka perbuatan maksiat tidak akan mengganggu eksistensi iman seseorang, sebagaimana taat juga tidak akan berpengaruh terhadapeksistensi kekafiran seseorang. Mereka itu adalah murjiatu’l ‘ummah. Lalu menurut pendapat guru, bagaimana kita menghukumi pelaku dosa besar?” Hasan Bashriy terdiam. Sebelum ia memberikan jawaban, Washil bin Atha’ berkata: “Saya tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar mukmin secara mutlak, namun ia berada diantara dua tempat (manzilatun baina manzilataini). Mereka itu tidak mukmin dan juga tidak kafir”. Kemudian ia berdiri dan memisahkan diri ke serambi masjid serta tetap berpegang terhadap pendapatnya. Hasam Bashriy kemudian berkata: “Washil telah memisahkan diri”. Ia beserta orang yang mengikutinya selanjutnya disebut dengan Muktazilah.

 

Ada juga yang mengatalan bahwa pendiri Muktazilah bukan Washil bin Atha’, namun Amru bin Ubaid. Hal ini sebagaimana yang diungkapan al-Muqriziy, bahwa Amru bin Ubaid dan sahabat-sahabatnya telah memisahkan diri dari halaqahnya Hasan Bashriy. Dari situ maka merka disebut dengan Muktazilah. [2]

 

Kedua: kata Muktazilah biasa dipakai untuk mengidentifikasi seseorang yang bersifat zuhud. Dengan kata lain bahwa lafazh i’tizâl merupakan bagian dari sifat zuhud tadi. Konon para pendahulu Muktazilah terkenal sangat zuhud dan selalu konsisten dalam beribadah. Mereka  juga sering mengasingkan diri dari dunia ramai. Kehidupan mereka sangat sederhana. Diriwayatkan bahwa Washil bin Atha’ ketika malam tiba, ia mempersiapkan diri untuk shalat malam, sementara pena dan kertas berada disampingnya. Jika ia membaca ayat yang didalamnya mengandung argumentasi yang sesuai dengan pahamnya, ia lalu duduk dan menulisnya. Setelah itu ia kembali melanjutkan shalat. Diriwayatkan juga, bahwa Amru bin Ubaid sering melaksanakan shalat subuh dengan wudhu maghrib. Bahkan ia sering melakukan ibadah haji dengan jalan kaki.

 

Ketiga: Muktazilah adalah partai yang tumbuh murni dari bias politik. Washil bin Atha’ dan Amru bin Ubaid merupakan kepanjangan tangan terhadap partai yang tumbuh pasca tahkîm. Mereka sudah mulai ada sejak awal perang Shifin, bahkan sudah mulai muncul awal perang Jamal antara Aisyah dengan Ali. Muktazilah pada waktu itu adalah golongan netral yang tidak ikut campur dalam perseteruan antara Ali dan Aisyah, atau Ali dan Muawiyah. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak memberikan dukungan politik terhadap kelompok-kelompik yang sedang bertikai.

 

Dari sekian pendapat seputar munculnya partai Muktazilah, yang dianggap paling kuat adalah pendapat pertama. Sebenarnya masih ada beberapa pendapat lagi yang berkaitan dengan asal mula nama partai ini. Namun agar tidak memperpanjang pembahasan, penulis sengaja hanya menyebutkan tiga pendapat saja.[3]

 

 

 

[1]               Dr. Muhammad ‘Immarah,  op. cit., hal. 13

[2]               Dr. Muhammad ‘Immarah,  op. cit., hal. 14-16.

[3]               Dr. Muhammad ‘Immarah,  op. cit., hal. 16-20

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × four =

*