Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mistisme Dan Maqashidul Mukallaf; Santet dan Ilmu Hitam

gfash

Dalam dunia mistis, baik perdukunan, sihir maupun ruqyah, niat mempunyai posisi sangat penting. Niat sangat berpengaruh terhadap “terkabulnya” mantra atau doa. Semakin seseorang menguatkan niat, semakin besar peluang pengaruh mantra. Mengenai dukun yang minta bantuan kepada jin ini, Allah swt berfirman:
{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ، يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ}

Apakah akan Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Syaitan-syaitan tersebut menyampaikan berita yang mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta” (QS asy-Syu’araa’:221-223).
{وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Padahal sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS al-Baqarah:102).

 

Seorang dukun berniat untuk “nyantet” seseorang, ia akan melakukan kontrak “bisnis” dengan jin. Jin baru akan menerima kontraknya manakala seorang dukun telah memenuhi semua syarat yang diajukan. Biasanya syaratnya melakukan berbagai ritual yang menyalahi syariat dan berbau syirik. Semakin aneh sebuah ritual dan semakin menghinakan syariat, maka semakin besar kontrak bisnisnya kepada jin.

 

Kadang ritualnya berupa mantra yang berasal dari bahasa tertentu (Jawa, bahasa Indonesia  dll), atau dari potongan ayat suci al-Quran yang disambung-sambung, atau bacaan satu ayat yang harus dibaca ribuan kali dalam rentang waktu yang sangat singkat sehingga menjadi bacaannya tidak jelas. Atau bisa juga berupa rajah rajah yang diambil dari buku primbon, kitab mujarrabat atau syamsul maarif al-kubra. Dukun sambil berazam (berniat) agar dengan mantra tadi, keinginannya bisa terkabulkan. Setelah itu jin jin akan melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan oleh tukang dukun.

 

Perintahnya bisa macam macam, misalnya saja, menyantet seseorang untuk membuat orang sakit atau mati. Jin akan seger melakukan apa yag diminta oleh tukang sihir. Mislnya saja jin diperintahkan membawa paku atau beling untuk dimasukkan ke dalam perut seseorang.
Jin akan membawa paku dan beling itu, namun paku dan beling oleh jin akan dirubah terlebih dahulu menjadi paku dan beling “ghaib”. Jadi, ia berubah menjadi paku dan beli yang sifatnya inmateri. Dengan wujud yang sudah berubah itu, ia bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Jadi yang ada dalam tubuh itu bukan lagi paku dan beling yang sifatnya materi lagi, namun sudah berubah menjadi paku dan beling inmateri.

 

Inilah mengapa orang yang terkena santet ketika dibawa ke rumah sakit, namun tidak terlihat penyakitnya. Padahal sudah dironsen, tetap saja tidak ditemukan jenis penyakit. Oleh dokter ia dianggap sehat dan tidak terkena penyakit apapun. Padahal secara nyata pasien merasa sakit.

 

Bagaimana paku dan beling tadi masuk ke dalam tubuh manusia? Setelah ia dirubah menjadi paku dan beling yang sifatnya inmateri, ia akan dibawa masuk ke dalam tubuh manusia melalui pori-pori, terutama pori pori ujung jempol kaki atau dari pori pori rambut kepala. Lalu jin akan mengikuti aliran darah menuju tempat tujuan.

Mengenai aliran darah sebagai tempat dan jalannya jin, Rasulullah saw bersabda:

قَالَ  رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

 
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي‎ ‎مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى‎ ‎الدَّمِ

“Sesungguhnya syaitan berjalan dalam tubuh manusia di tempat peredaran darah.” (HR. Al Bukhari: 7171 dan Muslim: 2175 dari hadits Shafiyyah RA)

 

Kenapa jin bisa masuk lewat pori pori? Karena jin sangat halus bahkan lebih halus dari angin. Dari sini tidak terlalu sulit baginya untuk masuk dan bersemayam dalam tubuh manusia. Paku dan beling tadi tidak ditaruh dan ditinggal jin, namun jin tetap menunggui dan menjaganya. Jadi jin tadi ikut tinggal dalam tubuh manusia.

 

Apakah manusia bisa mati karena santet? Tergantung kekuatan manusianya dan juga kontrak jin dengan dukun. Kekuatan manusia maksudnya adalah kekuatan spiritual (keimanan). Semakin tebal iman seseorang, semakin tawakal dan percaya hanya pada Allah, semakin sulit jin menembus tubuh manusia. Kekuatan iman tadi menjadi “cahaya ghaib” yang akan melindungi seseorang dari serangan jin. Sebaliknya semakin lemah seseorang dan semakin penuh hati manusia dengan sikap iri, dengki, hasad dan sejenisnya, semakin mudah jin akan masuk ke dalam tubuhnya.

 

Untuk kontrak dukun dengan jin, ada yg sifatnya kontrak “instan”. Artinya santet ditujukan langsung untuk membunuh korban. Jadi, begitu santet masuk, korban langsung dimatikan. Ada pula yang tujuannya sekadar untuk membuat sakit dan sengsara korban saja. Korban bisa terkena penyakit menahun. Penyakit yang tidak sembuh-sembuh meski di bawa ke berbagai rumah sakit.

Pra dukun itu, kelak akan dibangkitkan di hari kiamat bersama dengan jin-jin yang telah membantunya. Mereka semuanya akan dimasukkan ke dalam neraka. Firman Allah:
{وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ، وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا، قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ}

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Dia berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah teman-teman dekat mereka dari golongan manusia (para dukun dan tukang sihir): “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan/manfaat dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka itulah tempat tinggal kalian, sedang kalian kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’aam:128).

 
{وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ}

…Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Padahal sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”(QS al-Baqarah:102)”

 

 

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa apa yang dilakukan dukun bergantung oleh kekuatan niatnya. Hanya saja karena niat yang ada dalam hatinya adalah niat buruk, amalnya juga buruk dan bertentangan dengan syariat maka niat dan amal perbuatannya dianggap batil.

 

Bagaimana santet bisa diobati? Di sini ada dua cara:
1. Dengan kekuatan jin. Atau dukun lawan dukun. Di sini yang terjadi adalah pertempuran antara jin bayaran dukun santet dengan jin bayaran dukun yang akan menyembuhkan orang yang terkena santet. Jadi para dalang adalah sesama dukun dan sarana dan tentaranya adalah para jin.

Apakah bisa sembuh? Tergantung kekuatan jinnya masing masing. Jika jin penyantet yang lebih kuat maka pasien tetap sakit. Namun jika jin bayaran dari dukun penyembuh lebih kuat, maka pasien bisa saja sembuh.

 

Ciri ciri dukun, meski ia mengaku sebagai seorang kyai adalah dalam proses pengobatan ia mengajukan syarat semacam pantangan kepada pasien. Misal, Anda bisa sembuh dengan syarat harus menanam pohon jeruk nipis di belakang rumah. Sekali kali pohonnya jangan dicabut karena jika dicabut maka pasien akan sakit lagi. Atau, Anda jangan makan buah pisang rojo. Jika pantangan ini dilanggar maka Anda akan sakit lagi atau bahkan akan mati.

 

Dalam mengobati pasien, niat dukun juga sangat berperan. Ini bisa dilihat dari konsentrasi dia dalam berkomat kamit membaca mantra. Pengobatan semacam ini disebut dengan ruqyah. Hanya saja karena niat, mantra dan pijakan bukan dari syariat maka ia disebut dengan ruqyah ghair syariyyah. Dalilnya sebagai berkut:

Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”(QS al-Baqarah:102)
{إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا، إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ}

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh (yang nyata) bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanyalah (ingin) mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Faathir:6).

Nabi Musa bertanya: Patutkah kamu berkata demikian terhadap sesuatu kebenaran ketika datangnya kepada kamu? Adakah bawaanku ini sihir? Sedang ahli-ahli sihir itu sudah tetap tidak akan beruntung. (QS: Yunus:  77

Apakah niat yang dilakukan dibolehkan? Meski tujuannya untuk menyembuhkan pasien, tapi karena niat dan amalannya bertentangan dengan syariat, maka niat dan amal perbuatannya batil.

 

2) Pengobatan dengan ruqyah syar’iyyah.
Pengobatan dengan ruqyah syar’iyyah adalah pengobatan dengan niat karena Allah, doa yang dibaca sesuai dengan syariat dan amal perbuatan yang dilakukan juga sesuai dengan syariat. Mengenai ruqyah ini, hadisnya sebagai berkut:
عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قـال : كُنَّا نَرْقِي فِى الْجَـاهِلِيَّةِ، فَقُلْنـَا يـَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى بِذلِكَ ؟  فَقَالَ : أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَـأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكـاً (رواه مسلم)

Dari sahabat ‘Auf bin Malik ra dia berkata : Kami dahulu meruqyah di masa Jahiliyyah, maka kami bertanya : “Ya RosuluLLah, bagaimana menurut pendapatmu ?” Beliau menjawab : “Tunjukkan padaku Ruqyah (mantera) kalian itu. Tidak mengapa mantera itu selama tidak mengandung kesyirikan” (HR. Muslim).

 
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Isra’ 17:82)

 

Pengobatan ruqyah ini kekuatan niat sangat besar. Pertama niat bagi peruqyah untuk menyembuhkan paisien. Kedua niat yang diruqyah (pasien) bahwa ia mau diruqyah.

 

Sehebat apapun peruqyah kalau pasien dari sisi niat sudah tidak mau diruqyah, maka ruqyahnya percuma. Jika toh ia sembuh maka tatkala peruqyah pergi, jin akan kembali datang. Ia akan sakit lagi. Sebaliknya jika pasien sudah niat ingin diruqyah tapi tidak ada yang meruqyah atau dia tidak meruqyah dirinya sendiri, ini juga susah. Intinya dalam dua kondisi di atas kekuatan niat sangat besar.

 

Setelah berniat baru peruqyah akan membacakan ayat ayat al-Quran. Dengan bacaan ini, jin ygada dalam tubuh pasien akan kesakitan. Semakin dibaca maka jin semakin merasa tersiksa. Pada ahirnuya ia dan barang bawaannya yang berupa paku dan beling akan keluar. Umumnya ia keluar lewat mulut dengan memuntahkan sesuatu. Paku, beling dan jin keluar dalam wujud muntahan. Kadang baku dan beling setelah sampai luar mulut berubah jadi wujud materi lagi yaitu paku dan beling yang sesungguhnya.

 

Jika kita sekadar baca Quran di samping pasien yang terkena santet, namun niat kita sekadar untuk ngaji saja, dan bukan untuk menyembuhkan pasien, kemungkinan besar pasien tetap akan sakit. Jin tidak begitu terganggu dengan bacaan Quran tadi.

 

Jadi posisi niat memang luar biasa. Niat sangat menentukan dalam berbagai amalan di dunia mistis. Niat ini dalam ushul fikih diaebut dengan istilah maqashidul mukallaf.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

14 + 13 =

*