Monday, August 20, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mepertanyakan Gerakan Tajdidi Muhammadiyah

Ust Ghafar Ismail:

Karenanya saat ini ada 3 corak di indonesia dlm berislam ala sunni (bila menggunakan istilah ahlus sunnah wal jamaah)

1. Corak madhabi. Corak ini kelanjutan dan perkembangan fase no 2 yaitu madhab. Hanya corak madhabi ini saat ini telah berkembang lbh progressif meski cara beragamanya tetap hrs bermadhab dan melalui sanad dari gurunya. Ini mayoritas ada di asia tenggara. Di bbrp negera seperti mesir, maroko dan lainnya juga ada, cuma ada perbedaan gaya dan warna dlm mesikapi madhab.

2. Corak salafi. Corak yg kedua ini juga sunni, krn pokok2 agama dan sumber referensinya sama dg madhabi. Bedanya mereka dlm berislam kembali kpd al Quran dan sunnah dalm manhaj salaf. Artinya mereka tdk melalui madhab, meskipun dlm fikih mereka lbh dakat atau mengikuti madhab hambali. Krn hambali ahli mayoritas pendapatnya tekstual. Ini berkembang di arab sauda dan sebagian kecil berbegai negara.

3. Corak tajdidi, sy baru menemukan dlm muhammadiyah. Mungkin ada yg lain. Ini model yg has. Selama ini orang tdk faham dan menasukkan muhammadiyah dlm salafi wahabi. Padahal tdk. Ada kesamaan tadi juga ada berbagai perbedaan.

Salafi dan muhammadiyah memang memiliki jargon yg sama yaitu kembali kpd al quran dan hadis tapi corak pemahamannya berbeda. Contoh:

1. Salafi berorientasi masa lalu tapi muhammadiyaj masa depan

2. Salafi anti madhab tapi muhammadiyah menjadikkan pengalaman dan pertimbangan dlm menentukan hukum dan pemikiran. Krn mereka adalah ulama yg sangat hebat di jamannya. Maka seluruh pemikiran muhammadiyah hrs berlandaskan alquran hadis dan membaca dan mempertimbangkan keilmuan seluruh ulama sekiligus memanfaatkan pengetahuan modern.

3. Salafi memahami teks scr testual dan menolak pengetahuan modern dan filsafat, muhammadiyah menggunakan dlm pemikirannya

4. Salafi memahami persoalan ibadah dan muamalah sama, hrs tekstual, tapi muhammadiyah memahami persoalan muamalah berbeda.

Point nya: sebenarnya antara madhabi, salafi dan tajdidi ini memiliki titik temu dan irisan di samping memiliki perbedaan corak dan gaya pemikiran. Maka dialog untuk mengakui persamaan dan memahami perbedaan adalah pilihan yg tepat untuk menuju persatuan.

Wallahu a’lam.

Jawab (Wahyudi Abdurrahim) :

Salafi (Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab) dan sunni (imam madzhab fikih, imam Asyari dan imam maturidi) punya perbedaan siknifikan dalam pemahaman akidah. Dalam banyak tulisannya, Ibnu Taimiyaj sering memberikan kritikan kepada kelompok Asyariyah. Bahkan kaum salafi itu justru sering menganggap bahwa asyari sesat.

Terkait dengan ayat sifat, Ibnu Taimiyah tidak konsisten. Terkadang mujassimah dengan istbt, namun kadang tidak dengan tafwidh. Di sini, Ibnu Taimiyah beda dengan Asyari yang dari awal menggunakan tafwidh atau takwil.

Terkait pandangam alam raya, utamanya afalullah, pendapat Ibnu Taimiyah justru sama dengan aliran Karamiyah dan Abu barakat, salah seorang filsuf Yahudi. In dilihat dari pendapat Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa ada konsep al hawadis la awwala laha. Juga konsep al hulul fil hawadis, atau pandangan bahwa alam raya itu qadim min haitsu al-jinsi dan hadis min haitsu annau. Pendapat seperti ini, tidak ada di kalangan 4 imam madzhab fikih, para ulama hadis, atau pendapat imam Asyari dan Imam Maturidi.

Belum lagi jika kita menengok pedapat tri tauhid seperti yang disampaikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Pendapat ini sama sekali tidak ada dalam pandangan imam madzhab fikih, asyariyah atau maturidiyah. Jadi memasukkan dan menyamakan ” salafiyah” ke ahli sunnah nampaknya terlalu berlebihan.

Ibnu Taimiyah bermadhzab Hambali

Terkait fikih, Ibnu Taimiyah menganut madzhab Hambali. Hal ini bisa dilihat dari buku fikihlia at fenomenal dalam madzhab Hambali, yaitu kitab al-Muharra fil Madzhab Hambali. Bias juga dilihat dari berbagai karya beliau seperti majmu fatawa dan lainnya. Atau kitab ushul fikih almuswaddah, yang merupakan kitab ushul karya kakek, ayah dan Ibnu Taimiyah sendiri. Ibnu Taimiyah belajar fikih madzhab Hambali, terutama dari ayahnya.

Memang tidak semua pendapat hambali dirajihkan. Kadang ada pendapat di luar madzhab Hambali, seperti talak sekali ucap tiga kali, yang dianggap hanya jatuh talak sekali. Fatwa ini sesungguhnya diambil dari syiah jakfariyah. Namun secara umum, beliau lebih sering merajihkan pendapat madzhab hambali. Bahkan menulis buku khusus fikih hambali, seperti yang saya sampaikan di atas.

Apakah hambali tekstual?

Jawawnya adalah tidak. Hal ini bisa dilacak dari karya-karya madzhab Hambali dan juga ushul dari madzhab Hambali. Terkait uhusl fikih Hambali, dapat dirinci sebagai berikut:

Quran

Sunnah

Ijmak

Kiyas

Istishab

Maslahah mursalah

Sad dzariah

Mazhab Hambali cukup luas dalam memandang kiyas. Bisa dilihat sistem istinbat ahkamnya ibnu Qudamah dapam kitab al-Mugni atau kitab al-Muharrar fil Fiqhi al-Hambali karya Ibnu Taimiyah atau lainnya.

Terkait maslahat, Hambali sangat luas dalam memandang maslahat. Maslahat mursalah merupakan salah satu ushul hambali yang luar biasa. Hal ini bias dilihat dari kitab I’lamul Muwaqqiin karya Ibnul Qayyim, murid daarnu Taimiyah. Bahkan secara sharih, dalam kitab tersebut Ibnul Qayyim mengatakan bahwa hukum syariat semuanya maslahat. Jila tidak ada maslahat, maka ia bukan bagian dari hukum syariat. Oleh karenanya banyak yang menganggap kitab Ibnul Qayyim tersebut sebagai kitab yang terkait dengan kajian ilmu maqashid. Hal ini karena irisan yang sangat kuat antara maslahat mursalah dengan maqashid syariah.

Jargon Kembali ke Quran Sunnah

Meski beliau punya jargon kembali kepada quran sunnah, namun realitanya tetap Ibnu Taimiyah secara fikih tetap perpegang pada fikih hambali. Ibnu Taimiyah tidak menjadi imam madzhab secara independen. Jadi, kembali kepada Quran sunnah ternyata juga kembali kepada Imam madzhab.

Tidak mendirikan madzhab baru

Terkait pengikut madzhab yg konsisten dengan madzhab imamnya dan tidak mendirikan madzhab baru, karena membentuk madzhab baru tidaklah mudah. Banyak syarat intelektual yang harus dipenuhi, terutama dengan penguasaan berbagai cabang ilmu sekaligus.

Pendiri madzhab haru mampu merumuskan ushul fikih sendiri, sebelum menelurkan ribuan furu fikih. Ushul fikih ini merupakan rumusan jtihad komperhensif dan hanya dapat dikerjakan oleh ulama jenius.

Terkait hawasyi, syarah, muktasar dalam kitab kuning, bahwa dalam melakukan syarah kitab madzhab, tetap dilakukan banyak pembaruan dan memasukkan persoalan baru. Membuat syarah bukan perkara mudah dan bukan ebarti ia jumud. Justru ia harus jeli dalam melakukan istikhraj atau ijtihad baru ketika berhadapan dengan persoalan yang belum ada di kitab sebelumnya. Kelebihan syarah ini adalah bahwa ijtihad yang dilakukan, tetap terpaku pada rel dan lingkup madzhab sehingga dapat dilakukan pertanggungjawaban ilmiah terkait konsistensi furu dengan ushulnya. Hal ini bias dibuktikan misalnya kitab karya Imam Syafiiyah seperti al-Um dengan kirab Majmu karya Imam Nawawi atau mugni Muhtaj karya Imam Syarbini. Jadi syarah itu bukan kejumudan, namun justru upaya tajdid dan pembaruan namun tetap dalam ruang lingkup madzhab.

Madzhab baik fikih atau kalam, selalu ada rumusan mendetail terkait dengan ushul madzhab, masail, qawaid dan furu. Jika dijabarkan, ushul madzhab dengan cakupan seperti yang saya sebutkan tadi, menjadi sebuah bangunan pemikiran yang sangat luas. Ushulnya saja, bias berjilid-jilid. Belum lagi dengan furu fikih yang junmlahnya ribuan. Di tambah lagi dengan kaedah ushul dan kaedah fikih. Itu merupakan bangunan intelektual yang sangat kuat dan kokoh. Tidak mudah membentuk bangunan pemikiran yang rapi, sistematis dan kokoh seperti ini.

Bahasannya pun sangat lengkap. Missal dalam fikih, terkait dengan ibadah, muamalat, jinayat, siyasah, peradilan dan lain sebagainya. Semua itu menjadi bab yang sangat tebal hingga puluhan jilid.

Persoalan kontemporer jika kita lihat, kenyataannya banyak berpijak dari persoapan furu yg sudah ditulis para ulama itu. Missal dalam perbankan, masih digunakan system mudarabah, murabahah, musyarakah, musaqah dan lain sebagainya. Semuanya lengkap dalam kitab madzhab.

Ushul madzhab bukan saja dalam fikih, namun juga dalam ilmu kalam. Dalam madzhab Asyari misalnya, terdapat ushul madzhab, masail, furu dan qawaid kalamiyah. Bahasan terkait hal ini sangat luas dan ditulis hingga berjilid-jilid buku hingga menjadi sepemikiran flsafat atau kalam yang sangat kokoh.

Apakah Muhammadiyah sebagai gerakan tajdidiyah memiliki ushul (ushul fikih atau kalam) komperhensif sebagaimana yang telah diletakkan oleh Imam Madzhab? Apakah Muhammadiyah punya kajian ushul fikih dan kalam yang mencakup masail, furu, dan qawaid yang ditulis secara komperhensif?

Apakah Muhammadiyah mempunyai kitab furu fikih secara lengkap yang bermula dari fikih ibadah, muamalah, jinayat, qadha, siyasah/imamah dan seterusnya sehingga setidaknya dapat dijadikan sebagai diktat bagi para santri di pontrenMu?

Bagaimana pula dengan akidah dan kalam? Apakah Muhammadiyah juga mempunyai ushul masail, furu, dan qawai secara komperhensi sehingga setidaknya dapat dijadikan sebagai diktat bagi para santri di pontrenMu?

Jika kita perhatikan, baik ulama besar klasik atau kontemporer, hampir semua berangkat dari kajian madzhab, sebelum kemudian mendirikan ushulul madzhab secara independen. Imam Syafii misalnya, sebelumnya mengikuti madzhab imam Malik. Imam Ibnu Hambali sebelumnya mengikuti Imam Syafii. Daud az-Zahiri sebelumnya mengikuti madzhab syafii. Dan demikian seterusnya. Dari madzhab, pijakan ushul itu dimulai, sebelum kemudian merumuskan ushul sendiri secara independen. Qaradhawi, Syaih Ali Jumah, Ali Syariati, Imam Syaukani, Asshanani, mereka semua berangkat dari madzhab.

Terkait tajdid sosial, sejak lebih dari 1000 tahun lalu, al-Azhar sudah melakukan tajdid sosial. Al azhar bukan sekadar universitas, namun juga masjid (talaqi) dan gerakan sosial. Banyak sekolahan, rumah sakit, panti, media dan lainnya yang dibangun oleh lembaga azhar.

Ada pula gerakan yang tidak secar langsung terikat dengan azhar secara structural. namun pendiri dan pelakunya, semuanya orang Azhar. Gerakan itu di Mesir adalah jam’iyah syariyyah. Mereka banyak mendirikan rumah sakit, panti asuhan dan sekolahan, terutama untuk membantu orang miskin. Bahkan orang asing penuntut ilmu yang sakit, sering mendapatkan diskon atau bahkan digratiskan.

Azhar secara ilmu kalam ikut madzhab Asyari, secara fikih madzhabi atau mengikuti empat. Meski demeikian, secara intelektual dapat melakukan tajdid yang luar biasa. Secara social juga bergerak luar biasa. Berbagai persoalan kontemporer dapat disikapi secara apik dan menjadi rujukan dunia. Karya ulama azhar yang madzhabi itu, banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Secara kalam dan filsafat pun juga demikian. Para ulama azhar banyak melakukan counter terhadap filsafat Barat yang dianggap menyimpang. Para ulama azhar tetap konsisten dengan kalam madzhab Asyarinya. Bahkan al-Azhar telah menelurkan Banyak kajian keislaman untuk mencounter pemikiran radikal atau liberal seperti buku: الرد على خوارج العصر yang ditulis menjadi buku sebanyak 5 jilid.

Azhar juga mendirikan fatwa internasional yang terdiri dari 10 bahasa. Belum lagi pengiriman para ulama dan dai ke berbagai Negara yang disebut dengan qafilatu al-Azhar. Atau fatwa elektronik yang menerima fatwa daeri berbagai bahasa dunia. Atau fatwa perempuan yang para muftinya seluruhnya perempuan. Dan semua itu tetap berpijak dengan madzhab kalam asyari / maturidi dan fikih madzhabi.

Syaih azhar mencounter pemikiran fenomenologi materialism Hasan hanafi dengan ilmu kalam asyari. Salim Abu Ashi mencounter kajian hermeneutika al-Quran dengan kalam asyari dan ushul fikih. Sederhananya, meski madzhabi, azhar tetap mampu melakukan gerakan tajdid pemikiran dan social yang luar biasa.

Ust Ghafar Ismail

Pemetaan corak pemikiran fiqih pada aliran ahlus sunnah wal jamaah pada 3: madhabiyah, salafiyah dan tajdidiyah ini memang sangat baru dan tdk ditemukan dlm kitab manapun kecuali tulisan Prof. Aliyasa Abu Bakar.

Saya berpikir tulisan beliau bisa dijadikan titik awal untuk memposisikan corak fikih muhammadiyah. Namun sy melihat ada kegamangan dan minimnya literatur untuk ini:

1. Pemataan ini berasumsi bahwa ahlus sunnah wal jamaah adalah aliran yg “paling besar dan diterima”, dan ini bukan monopoli asyari dan madhabi, sehingga paham yg merujuk kpd al quran dan sunnah dg paham salaf pun masuk di dalamnya. Hal ini karena hadis yg menunjuk pd pecahnya umat mebjadi 73 dan 1 masuk surga dinyatakan dlm 2 istilah; al jamaah dan ma ana alaihi wa ashabi.

2. Ada irisan pertemuan pokok ajaran antara madhabi dan salafi selain perbedaan furuiyah, yaitu pengakuan yg sama terhadap sumber utama al Quran dan hadis; tdk adanya imamah kecuali lgsg kpd Nabi, penghargaan pd sahabat dan salafus salih, dll.

Dari titik inilah seharusnya bisa diminimalisir hambatan psikologis dan ketegangan antara madhabi dan salafi. Ini poin awal.

Poin kedua, memposisikan corak fiqih muhammadiyah dg tajdidi msh memiliki banyak keraguan:

1. Apakah madhabi yg ada saat ini tidsk tajdidi? Lalu apa ciri dan barometer tajdidi sehingga diletakkan pd muhammadiyah

2. Apakah memang muhammadiyah sdh memiliki manhaj yg baku dan standar yg bisa disebut tajdidi yg dijadikan sbg metode dlm istimbat dan ijtihad pd setiap persoalan yg dihadapi muhammadiyah

3. Apakah selama ini produk fikih muh sdh mengacu pd manhaj tajdidi tsb.

Msh banyak pertanyaan, keraguan, kebimbingan dan kegelisahan tuk secara yakin menempatkan corak muhammadiyah pd fikih tajdidi yg terlepas atau paling tidak berbeda dg madhabi dan salafi.

Sy butuh bantun seluruh ustadz terutama ust wahyudi tuk mencoba mengurai kegamangan di atas.

Jawab:

1. Madzhabi baik kalam atau fikih adalah bangunan pemikiran komperhensif dan terorganisir secara kultur pemikiran dan bukan terikat model organisasi modern.

Karena ikatannya kultur pemikiran, bangunan berupa pemikiran juga. Syaih Ali Jumah, Ramadhan al-Buti, Wahbah Zuhaili, Habib Ali al-Jufri, Imam nawawi al banani adalah para ulama madzhabi. Ikatan mereka bukan pada kesatuan ormas, tapi kesatuan pijakan pemikiran.

Tiap ulama bebas dalam berijtihad. Yang terpenting adalah bahwa ushulul madzhabnya sama. Bisa jadi erdapat perbedaan sedikit dalam persoalan furu. Namun karena ushulnya sama, maka ia dianggap masih dalam ruang lingkup satu madzhab

Ijtihadnya pun sifatnya perorangan dan tdk diikat oleh keputusan ormas.

Kelebihannya adalah bahwa mereka dapat berfikir bebas dan menulis kapan saja dan di mana saja. Mereka dapat menuangkan berbagai pemikiran madzhab tanpa menunggu rapat dan keputusan organisasi. Untuk menelurkan pemikiran, tidak harus menunggu munyawarah nasional. Para ulama itu dapat berselancar secara bebas dalam dnia pemikiran madzhab.

Maka ijtihad mereka sangat produktif dari berbagai aspek pemikiran, kalam, filsafat, fikih, politik atau lainnya. Termasuk juga mereka produktif dalam mencari solusi alternative atas persoalan umat saat ini. Bukunya pun banyakd an diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Para ulama itu punya pijakan dan pondasi sama yaitu ushul fikih dan ushul kalam madzhabi.

Kembali Ke Quran dan Sunnah

Adapun ahli sunnah, tidak terkait hanya dengan jargon kembali ke quran sunnah

Jika ini patokannya, maka seluruh kelompok islam termasuk syiah, khawarij, karamiyah, muktazilah dan lainnya juga mempunyai jargon yang sama. Bahkan kelompok pertama dalam Islam yang punya jargon ini justru kalangan khawarij.

Ketika mereka berhadapan dengan Imam Ali, mereka mengangkat mushaf sambil berkata, “Yang berhak menghakimi hanya.

لا حكم الا لله

Memahami ahli sunnah, harus merujuk pada realiras sejarah, melihat akar persoalan, dan detail-detail perdebatan filosofis dari berbagai persoalan. Istilah ahli sunnah muncul di panggung sejarah, sebagai pembelaan terhadap paham jahmiyyah, khawarij dan muktazilah. Istilah ahlu sunnah pun, secara “baku” muncul pasca imam Abu Hasan al Asyari dan Imam Maturidi. Sebelum mereka, lebih sering menggunakan istilah ahlul hadis dan bukan ahli sunnah.

Yang harus digaris bawahi adalah bahwa ada perbedaan antara madzhab kalam dan fikih. Bisa saja secara fikih syafii, namun secara kalam bermadzhab mumtazilah seperti Qadhi Abdul Jabbar dan Husain al Basri yang mengikuti kalam muktazilah dan fikih Syafii.

Kalam mempunyai ushul. Di bawahnya ada masail terkait dengan persoalan berikut:

1. Ketuhanan

2. Kenabian

3. Alam raya

4. Ahirat

5. Pandangan terhadap kelompok lain di luar mereka.

Dari masail tersebut akan muncul qawaid kalam, kaedah dan furu kalam. Ini bisa dibaca misalnya dari kitab al-Ibkar karya imam Amidi, Nihayatul Iqdam fi ilmi al-kalam karya syahrstani, Al Arbain karya imam Razi dan lain sebagainya. Merekaini bermadzhab kalam ahli sunnah. Atau al mughni dan syarah ushulul khamsah karya Qadhi Abdul Jabbar sebagai representasi kalam muktazilah.

Sesungguhnya perbedaan kalam, terletak dari perbedaan k t (ushul, masail, furu, qawaid). Mereka saling serang secara ilmiah dengan melihat sisi-sisi kelemahan kelompok lain seperti Imam Ghazali yang menulis kitab tahafut al falasifah yang mencounter pemikiran para filsuf. Atau imam Amidi mengcounter kalangan ateis (dahriyun), Syahrstani memberikan counter orang Kristen dan Yahud dan begitu seterusnya.

Meski mereka beda generasi, mereka tetap diangap satu madzhab. Mereka punya pihakan ushul yang sama. Pun mereka produktif tidak menunggu musyawarah nasional layaknya organisasi modern.

Bagaimana dg ibnu Taimiyah?

Kenyataannya, terkait ushul, masail, fueru dan qawaid ibnu taimiyah, Ibnu Taimiyah berbeda dengan kalangan asyari dan maturidi. Bahkan Ibnu Taimiyah berbeda dengan imam ibnu hambal.

Jadi jargon back to quran sunnah saja tidak cukup menganggap seseorang bagian dari ahli sunnah.

Bagaimana dg kalam Muhammadiyah?

Apakah punya ushul, masail, furi dan qawaid sehingga pengikutnya bisa bersepancar secara bebas dalam membangun oemikiran islam modern?

Madzhabi baik kalam atau fikij dg bangunan pemikiran yg saya sampaikan di atas, swsungguhnya sangat tajdidi. Di atas sudah saya sampaikan para ulama besar yang bergerak di bidang fikih maupun kalam/filsafat. Mereka tetap berangkat dari ushul madzhabnya masing2.

Bahkan karya karya besar mrk diterjemahoan ke dalam berbagai bahasa dunia tanpa diminta. Ini adalah bukti pengakuan dunia atas pemikiran cemerlang mrk itu.

Muhammadiyah sebagai gerakan “tajdidi”, apakah berapa buku kalam, fikih, pemikiran islamkah yg sudah diprodumsi dan diterjemahkan ke dalam bjs dunia?

Ust Ghafar Ismail: 👍🏼👍🏼 sy sedang berpikir dan semoga rumusan lanjutan tuk mengurai corak muhammadiyah. Krn semakin jauh dan luas persepsi dimunculkan, gambaran corak kok semakin kabur.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open