Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menyikapi Ayat Mutasyabihat; Tafwith

Seri Syarah HPT Bab Iman.

Artikel ke-51
الإِيْمَانُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا للهِ رَبِّنَا ( 4) وَهُوَ الْإِلَهُ الْحَقُّ الَّذِى خَلَقَ كل شّيْئٍ وَهُوَ الواَجِبُ الوُجُوْدِ ( 5) وَ اْلأَوَّلُ بِلاَ بِدَايَةٍ وَاْلآخِرُ بِلاَ نِهَايَةٍ ( 6) ولاَ ( يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ ( 7) الاَحَدُ فِىأُلُوْهِيَّتِهِ وَصِفاَتِهِ وَ اَفْعَالِهِ ( 8
( اَلْحَىُّ القَيُّوْمُ ( 9)السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ( 10 ) وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( 11 إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ ( 12 ) وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَايَفْعَلُوْنَ ( 13 ) اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ ( 14 ).( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ( 15
4
IMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA MULIA
Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita (4). Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (5). Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan (6). Tiada sesuatu yang menyamai-Nya (7). Yang Esa tentang ketuhanan-Nya (8). Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (9). Yang mendengar dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11). Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka
jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).

 

 

Sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun. Namun kenyataannya, dalam al-Quran terdapat ayat-ayat sifat atau sering disebut sebagai ayat mutasyabihat. Namun bagaimanakah menyikapi ayat-ayat mutasyabihat tersebut? Terkait hal ini, di kalangan para ulama terbagi menjadi tiga golongan, pertama mufawidhun (tafwith), kedua mutsbitun (itsbat) dan ketiga mutawwilun (takwil).

 

Tafwith adalah membaca nas yang terkait dengansifat Allah, lalu menyerahkan maknanya kepada Allah semata. Mereka tidak mau memperdalam ataupun mempedebatkan makna-makna di balik nas. Bagi mereka, manusia adalah terbatas sementara Allah tiada batas. Jika seluruh tenaga dan otak manusia digunakan untuk mencari tentang sifat Allah yang sesungguhnya, maka manusia selamanya tidak akan pernah mampu. Manusia berada dalam kelemahan yang nyata.

Imam Razi dalam kitab Asasuttaqdis menyatakan, “Barangsiapa yang ingin mengkaji persozlan ketuahan, maka ia harus membuat fitrah sendiri dalam dirinya.Beliau melanjutkan, “jika kita melihat angkasa luar yang luar biasa dan juga bentangan bumi beserta isinya, benda-benda itu mempunyai aturan main sendiri. Jika kemudian seseorang berpindah untuk berfikir tentang Tuhan, ia harus menciptakan fitrah dan akal baru yang berbeda dengan fitrah dan akal yang selama ini digunakan untuk melihat benda-benda yang sifatnya materi.

Pernyataan di atas senada dengan apa yang diungkapkan oleh Imam haramain dalam kitab an-Nizhamiyyah sebagai berikut:

Dalam kitab an-Nizhamiyyah, imam haramain mengatakan sebagai berikut, “mereka menggambarkan tuhan seperti materi dan apa-apa yang tergambarkan dalam otak manusia.  Atau apa-apa yang terdetik dalam hati dan jiwa manusia. Padahal Tuhan sama sekali tidak seperti itu. Jika tuhan digambarkan seperti uraian tadi, lantas apa bedanya mereka menyembah Tuhan dengan menyembah berhala?

Beliau melanjutkan, “Jika semua manusia, dari dulu hingga sekarnag dikumpulkan untuk mengetahui tentang ruh, padahal ruh masih makhluk Allah, semua manusia itu tidak akan sanggup untuk mengetahuinya. Padahal ruh itu masuk akal, hanya ia sifatnya abstrak dan tidak materi. Oleh karena itu, allah berfirman:

{ ويسألونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم الا قليلا }
Artinya : “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah,Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit” (QS. Al-Isra: 85)

Beliau juga menyatakan sebagai berikut:

Manusia jika ingin menggambarkan dunia baik darat maupun laut dalam otaknya, yang tergambar hanya sebagian kecils aja. Manusia jika ingin menggambarkan tentang kehidupan dirinya dari awal, ia juga akan tergambarkan sedikit saja”.

Yang ingindisampaikan oleh Imam Haramain bahwa orak manusia, umumnya hanya mampu merekam sesuatu yang sifatnya nampak. Itu pun, manusia lemah untuk membuat gambaran utuh. Alam raya yang cukup luas, dapat dia bayangkan dalam memori otaknya. Namun, apa yang tergambar, tentu sangat kecil dan banyak kekurangan. Ini artinya bahwa orak manusia penuh dengankelemahan dan keterbatasan.

Pernyataan di atas juga diamini oleh Imam Amidi, salah seorang intelektual pakar ilmu kalam yang bermadzhab Asyari. Dalam kitab Ghayatul Maram, beliau menyatakan sebagai beriku:

“Allah tidak bisa dikiyaskan dengan sesuatu yang nampak. Jika ada yang menyamakan, itu sekadar khayalan dalam otaknya belaka. Karena ia menyamakan sesuatu yang gaib, atas sesuatu yang nampak. Ia menyamakan sesuatu yang sifatnya inmateri dengan sesuatu yang materi.

Menurut Imam Amidi, bahwa sebuah kebodohan jika manusia melakukan penyamaan antara sesuatu yang tak nampak dengan sesuatu yang nampak.  Karena sesuatu yang abstrak dan tak nampak, lalu dibayangkan dalam otak manusia, yang muncul adalah gambar khayalan belaka. Hanya orang cerdas yang tidakmau melakukan penyamaan seperti ini. Terkait hal ini, belianu menyatakan, “Orang cerdas, adalah orang yang tidak menggunakan khayalan dan meninggalkan sesuatu yang tidak ada bukti untuk mengetahui ketuhanan”.

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − 19 =

*