Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menurut Madzhab Syafii, Tumakninah Itu Rukun Shalat

tips khusyu

 

Menurut madzhab Syafii, tumakninah merupakan rukun shalat. Hal ini salah satunya diungkapkan oleh Abu Syujak dalam matan al-Iqna. Berikut petikannya:

 

وأركان الصلاة ثمانية عشر ركنا النية والقيام مع القدرة وتكبيرة الإحرام وقراءة الفاتحة وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها والركوع والطمأنينة فيه والرفع واعتدال والطمأنينة فيه والسجود والطمأنينة فيه والجلوس بين السجدتين والطمأنينة فيه والجلوس الأخير والتشهد فيه والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيه والتسليمة الأولى ونية الخروج من الصلاة وترتيب الأركان على ما ذكرناه

 

Rukun shalat ada 18, yaitu niat, berdiri jika mampu, takbiratul ihram, membaca surat al-Fatihah dan bismillahirrahmanirrahim merupakan bagian dari surat al Fatihah, ruku, tumakninah waktu ruku, bangkit dari ruku, iktidal, tumakninah dalam beriktidal, sujud, tumakninah dalam sujud, duduk diantara dua sujud, tumakinah, duduk tasyahud akhir, membaca shalawat kepada nabi, salam pertama, niat untuk keluar dari shalat dan tartib (berurutan).

 

 

Tumakninah sebagai rukun shalat disimpulkan dari hadis Nabi berkut:

 

فسلم عليه، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: (وعليك السلام، ارجع فصل فإنك لم تصل). فرجع فصلى ثم جاء فسلم، فقال: (وعليك السلام، فارجع فصل، فإنك لم تصل). فقال في الثانية، أو في التي بعدها: علمني يا رسول الله، فقال: (إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر، ثم اقرأ بما تيسر معك من القرآن، ثم اركع حتى تطمئن راكعاً، ثم ارفع حتى تستوي قائماً، ثم اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم ارفع حتى تطمئن جالساً، ثم اسجد حتى تطمئن ساجداً، ثم ارفع حتى تطمئن جالساً، ثم افعل ذلك في صلاتك كلها).

 

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– bahwasanya seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedang duduk di sudut masjid. Laki-laki itu mengerjakan shalat, lalu (setelah shalat) dia mendatangi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sambil mengucapkan salam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata kepadanya, “Wa ‘alaika as- salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!” Laki-laki itu pun kembali dan mengulangi shalatnya. Setelah shalat, dia datang lagi sambil mengucapkan salam. Beliau bersabda, “Wa ‘alaika as-salam. Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat!” Laki-laki itu berkata pada kali yang kedua atau yang setelahnya,“Beri tahu aku shalat (yang benar), wahai Rasulullah!” Beliau pun bersabda, “Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudu, lalu menghadaplah ke arah Kiblat, kemudian bertakbirlah. Setelah itu bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Quran, kemudian rukuklah hingga kamu tukmaninah. Setelah itu bangkitlah hingga kamu berdiri tegak, lalu sujud hingga kamu tukmaninah. Setelah itu angkatlah kepalamu dari sujud hingga kamu duduk dengan tukmaninah, kemudian sujud hingga kamu tukmaninah dalam sujudmu, lalu angkat kepalamu dari sujud hingga kamu duduk dengan tukmaninah. Lakukanlah semua itu pada semua shalatmu!” (HR. al-Bukhari)

 

Menurut Ibnu Hajar al-Haitzami yang bermadzhab Syafii dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, “Standar dari tumakninah adalah tubuh sudah sampai posisi dengan tenang”.

 

 

Tumakninah sendiri arti bahasanya adalah tenang. Jadi tumakninah dalam shalat adalah tenang sejenak. Batas minimal sikap tenang ini, adalah batas doa yang harus dibaca pada waktu itu. Dalam kitab majmu, menurut imam Nawawi yang bermadzhab Syafii bahwa minimal tumakninah seukuran dengan bacaan subhanallah.  Tentu juga bacaan subhanallah yang standar, bukan yang super cepat.

 

Rukun merupakan perbuatan yang harus dilakukan. Jika ia ditinggalkan, maka hukum suatu perbuatan tidak sah. Karena tumakninah merupakan rukun shalat, maka jika ia ditinggalkan shalatnya tidak sah.

 

Tumakninah, selain sebagai rukun shalat, juga merupakan sarana agar shalat kita bisa khusyu.  Khusyu menurut sebagian ulama artinya memahami dan menghayati makna bacaan shalat, dengan jiwa tunduk kepada Allah.

 

Dalam al-Quran, orang-orang yang beruntung disebutkan, di antaranya adalah mereka yang khusyu shalatnya. Firman Allah:

 

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

 

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya,” (QS. al Mu’minun(23):2)

 

Beberapa waktu lalu, kita mendengar shalat tarawih “supersonik”. Satu rekaat selesai dalam hitungan 20 detik saja. Pertanyaannya, mungkinkah mereka bisa memenuhi rukun shalat yang harus tumakninah? Jika tidak, menurut madzhab Syafii, shalat mereka tidak sah. Juga, apakah shalatnya bisa khuayu? Jika tidak, bearti mereka telah kehilangan keutamaan dari shalat. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two + seventeen =

*