Tuesday, November 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menurut HPT, Al-Kaun Sebagai Bukti Keberadaan Allah

 

 

Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini:

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Yang harus digarisbawahi adalah kata مَعْرِفَةِ  dari kalimat ungkapanberikut ini:

وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا

Dam bahwa an-Nazhar atas alam raya untuk mengetahui Allah hukumnya wajib sesuai syariat.

 

 

Di atas disebutkan lafal al-Kaun dan Allah. Al-Kaun adalah segala sesuatu selain Allah. Ia sifatnya mumkin wujud, artinya keberadaannya, sangat bergantung kepada keberadaan wajibul wujud. Ia bukan ma’lul yang bersifat aksiomatis. Namun ia ada dari ketiadaan dan akan sirna. Ia adalah makhluk ciptaan Allah.

 

Segala sesuatu selain Allah, selain disebut sebagai makhluk, oleh para ulama kalam sering disebut dengan al-ma’lum atau al-maujud. Sebagian ulama kalam menamakan al-maujud dengan al-jauhar atau esensi.

 

Al-jauhar atau esensi, dibagi menjadi dua, yaitu jauhar al-katsif (al ajsam/benda) dan jauhar al-latif/benda halus), Jauhar katsif maksudnya adalah makhluk Allah yang sifatnya fisik dan nampak. Ia dapat dilihat, diraba atau dirasakan. Ia terdiri dari kumpulan atom. Contoh seperti kayu, batu, air, besi, manusia, bintangan dan lain sebagainya.

Yang kedua adalah jauhar al-latif atau esensi lembut, yaitu makhluk Allah yang wujudnya tank nampak oleh mata. Ia terdiri ada, namun abstak.Contoh jauhar latif adalah para malaikat, jin, dan ruh

Terkait benda, menurut ulama kalam, ia tersusun dari atom-atom. Setiap atom, mempunyai sifat atom yang disebut dengan al-a’rath. benda-benda yang Nampak di hadapan kita, seperti panjang, lebar, tinggi, warna. bau, rasa dan seterusnya, sesungguhnya adalah a’rath itu. Ia ada bersama dengan keberadaan atom. ia tidak independen.

 

Pertanyaannya, apakah al-a’rd tadi menyatu dengan jauhar, dengan kata lain bahwa antara jauhar dan a’rath adalah satu kesatuan yang tak terpisah? Atau ia sifatnya independen, hanya ia melekat pada jauhar? Menurut madzhab Muktazilah, bahwa antara jauhar dan ard merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kita akan mengetahui jauhar, dari a’rat. Selain itu, hal itu karena jauhar adalah sesuatu yang sangat kecil dan tidak nampak oleh mata. Ketika kita melihat sifat benda, secara otomatis kita menyaksikan susunan atom. Tidak dapat dipisahkan antara sifat benda dengan benda itu sendiri.

 

Berbeda dengan madzhab Asyari yang memisahkan antara sifat benda dengan benda. Benda adalah sesuatu yang independen, dan sifa yang melekat pada dirinya juga sesuatu yang independen. Hanya saja, sifat tadi, selalu melekat pada benda. Keberadaannya selalu ada jika ada benda. Jika benda sirna, otomatis sifat benda itu sirna. Dan ia sifatnya temporal. Artinya, setiap saat sifat benda itu selalu berudah.

 

Bagi ulama kalam, kajian tentang jauhar (atom ) dan sifat sifat atom (ja-a’radh) ini sangat penting. bagi ulama kalam ,setiap benda jika dipotong secara terus menerus, maka akan sampai kepada potongan yang paling kecil dan tidak dapat dipotong lagi. ia adalah atom. Ulama kalam sering menyebutnya dengan istilah jauhar fard.

 

Dalam buku-buku ilmu kalam, bahasan jauhar fard ini  sangat penting. Bahkan bisa dikatakan bahwa ia menjadi bahasan kunci. Tujuan utama dari bahasan jauhar fard itu adalah untuk membuktikan keberadaan Allah. Jauhar fard ini, ciptaan Allah dan muncul dari ketiadaan. Jadi ia menjadi argument terkuat para ulama kalam untuk melawan argument illat ma’lul para filsuf.

 

Bagi ulama filsuf, bahasan atom tiodak penting karena alam raya muncul akibat pancaran Allah. Ia ada secara aksiomatis dengan adanya Allah. Ia muncul secara al-faid atau emanasi. Ia ada dari akal pertama yang otomatis memunculkan akal kedua.

 

Jauhar fard itu, oleh HPT Muhammadiyah dinamakan dengan al-Kaun. Karena al-Kaun adalah makhluk ciptaan Allah. Al-Kaun merupakan perwujudan dan kumpulan dari atom-atom yang ada di jagat raya. Muhammadiyah memilih argument al-Kaun untuk membuktikan keberadaan Allah. Wallahu a’lam.

 

 

===================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open