Friday, July 28, 2017
Artikel Terbaru
 border=

Menurut Ahli Sunnah, Al-Quran, Makhluk Atau Bukan?

al

 

Pertama: Al-Quran adalah kalamullah yang azal. Sebelum budaya Arab ada, al-Quran dengan lafal dan makna sudah ada. Bahkan sebelum alam raya ini ada, al-Quran sudah ada. Model dialog pada ayat al-Quran yang terkadang memberikan jawaban atas peristiwa tertentu itu, sesungguhnya sudah ada sebelum orang itu bertanya. Artinya bahwa peristiwa tertentu itu, bukan menjadi sebab terbentuknya ayat al-Quran. Sekali lagi, ini karena sifat al-Quran yang azal baik dari sisi lafal maupun maknanya. Dalam kitab Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyah berkta, “Istidlal dengan al-Quran sangat bergantung pada keyakinan seseorang bahwa lafal al-Quran berasal dari Allah, kemudian ia paham mengenai apa yang dimaksud dari lafal tersebut”.

Bukti bahwa al-Quran adalah kalamullah yang azal, di antaranya sebagai berikut:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Quran pada lailatul qadar“. QS. al-Qadar: 1)

 

Menurut Ibnu Abbas bahwa ayat al-Quran turun secara keseluruhan di langit pertama pada malam lailatul qadr. Kemudian ayat al-Quran turun secara periodik kepada nabi Muhammad selama 23 tahun. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa al-Quran pertama kali turun di Baitul Izza, lalu turun ke bumi secara bertahab.

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”(At-Taubah: 6).

 

Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa al-Quran adalah kalamullah. Kalamullah bearti sifat allah. Allah sendiri qadim, maka sifat Allah juga harus qadim. Karena al-Quran adalah sifat Allah bearti ia qadim. Jika ia qadim, bearti keberadaan al-Quran bersama dengan keberadaan Allah. Artinya al-Quran yang berbahasa Arab, baik lafal dan maknanya, sudah ada sejak azal. Ia ada sebelum bahasa Arab dan kondisi sosial budaya politik bangsa Arab ada. Bahkan al-Quran sudah ada sebelum alam raya seisinya itu ada.

 

Selain itu, ayat di atas, Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Wahyu artinya firman Allah. Jika ia firman Allah, bearti ia bukan makhluk. Jika ia bukan makhluk bearti ia qadim. Jika ia qadim, bearti ia telah ada jauh sebelum langit dan bumi ini diciptakan. Ia ada bersama denga Allah Sang Pencipta.

 

 

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (Al-Baqarah: 185).

 

Ayat di atas menggunakan kata أُنْزِلَ yang artinya “diturunkan” itu artinya al-Quran sudah ada sebelum bangsa Arab itu ada. Jadi, Allah tinggal menurunkan al-Quran sesuai dengan tempat dan waktu yang Ia kehendaki.

 

Kedua: Tuhan tidak menciptakan manusia, kemudian tidak membiarkan manusia menempuh jalan hidup sesuai dengan kehendaknya. Namun Tuhan memberikan petunjuk kepadanya, menerangkan mengenai kebaikan dan kebatilan. Tuhan memerintahkan manusia untuk tunduk kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tuhan kemudian menurunkan kitab suci kepada umat manusia.

Kitab suci tersebut mau tidak mau harus menggunakan bahasa, sementara bahasa manusia terbatas (mutanâhîy) dan cukup beragam. Manusia sendiri terbatas (mutanâhîy) dan hanya mampu memahami sesuatu yang terbatas. Maka kemudian Tuhan menggunakan bahasa manusia. Tuhan kemudian memilih bahasa sesuai dengan bangsa yang bersangkutan. Dengan demikian, apa yang dikehendaki Tuhan dalam kitab suci akan dapat dipahami manusia. Jika kitab suci diturunkan dengan bahasa Tuhan, tentu terjadi keterputusan pemahaman, karena manusia tidak mampu memahami bahasa Tuhan yang tidak terbatas. Maka kitab suci yang sejatinya sebagai petunjuk bagi manusia menjadi tidak berguna. Untuk itulah, mengapa Tuhan menurunkan kitab suci sesuai dengan bahasa bangsanya masing-masing.  Firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”. (QS. Ibrâhîm: 4)

Al-Qur’an adalah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., dengan bahasa Arab dan merupakan mukjizat meski hanya satu ayat. Meski demikian, bukan berarti al-Qur’an dikhususkan bagi bangsa Arab, karena secara tegas Tuhan mengatakan bahwa al-Qur’an untuk semua alam, sebagaimana firman-Nya:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqân (yaitu al-Qur’an) kepada [2]hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. Al-Fulrqân:1).

Kalam adalah lafazh yang tersusun yang dapat dipahami sesuai dengan makna terapan bahasa[3]. Bahasa juga selalu mengalami dialektika dengan alam sehingga bahasa akan selalu berubah sesuai dengan ruang dan waktu. Dilihat dari definisi mengenai kalam, sejarah perkembangan bahasa dan bahasa sebagai sesuatu yang terbatas (mutanâhîy) dapat diambil kesimpulan bahwa bahasa al-Quran adalah makhluk (ciptaan). Karena bahasa al-Qur’an tidak lepas dari bahasa yang biasa digunakan umat manusia.

 

Sederhananya, kita mesti membedakan antara bahasa al-Qur’an dan spirit atau jauharatu’l Qur’an atau rûhu’l Qur’an sebagai kalam nafsiy. Rûhu’l Qur’an adalah kalam Tuhan yang azal karena berkaitan dengan sifat Tuhan. Tuhan sendiri azal maka secara otomatis seluruh sifat Tuhan, termasuk juga kalam Tuhan harus azal.  Segala yang azal memiliki sifat tidak terbatas (lâ mutanâhîy). Karena rûhu’l Qur’an  adalah sifat Tuhan, maka ia juga tidak terbatas. Tidak heran jika kemudian upaya manusia untuk menggali apa yang terkandung dalam al-Qur’an tiada pernah sampai pada titik akhir. Manusia akan selalu menemukan hal baru dalam al-Qur’an. Singkat kata bahwa al-Qur’an dengan bahasa yang terbatas dan makhluk, namun mengandung pengetahuan yang tidak terbatas karena ia adalah kalamullah yang bukan makhluk. Wallahu a’lam

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>