Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menjawab Keraguan Atas Keoutentikan al-Quran

 fdafgBelakangan ini banyak yang meragukan tentang validitas dan keoutentikan al-Quran. Mereka banyak menggunakan-hadis-hadis lemah bahkan maudu untuk membenarkan mengenai kebenaran pendaat mereka. Di antaranya adalah bahwa al-Qiran saat ini sudah jauh berbeda dengan al-Quran pada masa Nabi, banyak ayat terbuat, terjadi perbedaan mushaf di antara para sahabat dan berbagai tudingan miring lainnya.

 

Sebenarnya persoalan di atas bukanlah sesuatu yang baru dalam khazanah pemikiran Islam. Dalam kitab-kitab kuning juga banyak dikaji secara ilmiah dan disebutkan letak kelemahan mereka, seperti juga yang ditulis ole imam Suyuti dalam kitab al-Itqan fi Ulumil Quran.

 

Sarjana Islam kontemporer juga banyak punya andil untuk menanggapi tudingan miring orientalis tentang al-Quran, seperti buku tentang Sejarah al-Qurannya karya Mustafa Azami,  atau Manaahilul Irfan fi Ulumil Quran karya Azarqani dan Mabahits fi Ulumil Quran karya Subhi Shalih.

Ada beberapa catatan yang perlu kita perhatikan:

  1. 1.    Para ulama sudah sepakat bahwa seluruh ayat al-Quran harus mutawatir. Jika tidak mutawatir, maka tidak diakui sebagai al-Quran.
  2. 2.    Riwayat tentang kekurangan al-Quran, banyak yang dhaif bahkan maudu’. Jadi perlu dicermati lebih dalam.
  3. 3.    Katakanlah riwayatnya shahih, namun ia tidak sampai derajat mutawatir. Karena Quran harus mutawatir, jadi hadisnya tetap saja tertolak.
  4. 4.    Nabi Muhammad ketika menyampaikan wahyu, tidak hanya memerintahkan kepada para sahabat untuk menghafalnya, namun juga menuliskannya. Bahkan Rasul saw. memberitahu kepada sahabat, “Tulis ayat ini di surat ini, setelah ayat ini” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud). Dari sini maka ada yang terkenal dengan istilah “Kuttabul wahyi” (para penulis wahyu) yang jumlahnya cukup banyak. Ada yang menghitung 13, 22, ada jugayang mengatakan ada 23.  Di antara mereka itu adalah Zaid bin Tsabit, Ibnu Masud, Ubay bin Kaab, Muaz bin Jabal, Abu Zaid, Abu Darda, Saad, Ubadah bin Shamid, Salim Maula Abi Huzaifah, Utsman bin Affan, Amim Aaddari, Abu Ubaidah, Uqbah bin Amir, Majma bin Jariyah dan lain sebagainya.
  5. 5.    Mushaf milik Ibnu Masud adalah mushaf pribadi. Konon ada yang kurang lengkap. Juga ada catatan keterangan dari beliau sendiri. Sekali lagi, karena ia mushaf pribadi. Sementara mushaf yang bersama Abu Bakar adalah mushaf hasil kodivikasi para sahabat dengan tim independen yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit sehingga validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.
  6. 6.    Pada bulan Ramadhan, ahir tahun sebelum Rasulullah saw.  wafat, Rasul saw. melakukan “tadarus” al-Quran dengan malaikat Jibril dua kali. Tadarus terakhir ini sering disebut dengan istilah “Al-irdah al-Akhirah”. Waktu itu disaksikan oleh sahabat Zaid bin Tsabit. Tidak heran jika Abu Bakar menunjuk Zaid sebagai ketua tim kodovokasi, karena ia yang terakhir menyaksikan tadarus terakhir  Rasulullah saw.
  7. 7.    Tentang mushaf Syiah, banyak para ulamanya yang mengatakan bahwa al-Quran saat ini sudah lengkap sesuai seperti zaman Nabi Muhammad saw., seperti fatawanya imam Khamaini sendiri, juga pendapat Ali bin Ibrahim al-Qummi, Syaih Ali al-kurani dan lains ebagainya.
  8. 8.    Allah menjaga al-Quran, bisa saja menjaga waktu Quran turun, atau menjaga hingga hri kiyamat. Yang pasti, seluruh ayat-ayat al-Quran di seluruh dunia dari dulu hingga sekarang, hanya ada satu versi saja. Tidak pernah ada versi lain al-Quran selain yang kita pegang saat ini.

 

Kesimpulannya, bahwa al-Quran yang berada di tangan kita saat ini adalah al-Quran persis seperti yang turun pada masa Rasulullah saw. Kita tidak perlku ragu dan gamang dengan berbagai pandangan miring yangs elama ini dihembuskan untuk menanamkan sikap keraguan kita terhadap mushaf al-Quran. Sampai kapanpun, al-Quran adalah kitab sucia umat Islam yang paling sempurna. Wallau a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

six + two =

*