Friday, September 22, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menghormati Spesialisasi Ilmu

dfasgh

 

 

Seperti biasanya, pada hari sabtu pagi, saya duduk bersimpuh dihadapan Syaih Hasan Syafi, penasehat Grand Syaih al-Azhar untuk mengikuti halaqah ilmu. Saya dan rekan-rekan lainnya membawa kitab syarhul maqashid, salah sati kitab kalam karya imam Tiftazani yang sangat ternama. Beliau membacakan baris demi baris, lalu menerangkan kandungan kitab secara jelas dan rinci.

 

Tiba suatu bahasan yang terkait dengan fikih. Beliau menerangkan panjang lebar, termasuk dari sisi kebahasaan. Lalu beliau berkata, “Seorang azhari memang harus mengetahui banyak ilmu keislaman. Karena memang ilmu pengetahuan saling terkait. Untuk fikih ini, biar dibicarakan oleh ahli fikih. Kita di sini konsen dengan ilmu kalam.  Kita hormati spesialisasi ilmu pengetahuan.”

 

Jika dilihat dari karya-karya beliau dan juga berbagai seminar yang diikuti oleh beliau, memang beliau hamper tidak pernah menyinggung bidang ilmu lain. Beliau konsen di filsafat, tasawuf dan kalam. Buku-buku karya beliau juga selalu konsen dalam tiga bidang tersebut. Syaikh Hasan Syafi memang spesialisasi di ilmu kalam, filsafat dan tasawuf.

 

Suatu kali, Yususf Qardhadi menulis buku tentang sejarah. Buku itu berjudul “Tarikhuna al-Muftari Alaihi”. Buku tersebut sangat bagus, karena meluruskan sejarah Islam yang selama ini selalu dikesankan dengan darah dan peperangan. Juga mengungkap para khalifah Islam yang mempunyai tingkat keadilan dan punya andil besar dalam pembangunan peradaban Islam.

 

Hanya saja, sebagia pemikir Islam memberikan kritikan terhadap buku tersebut. Di antara alasannya adalah bahwa Qaradhawi bukan pakar sejarah. Beliau memang hebat dalam spesialisasi ilmu-ilmu keislaman, namun tidak untuk sejarah.

 

Di Timur Tengah, kepakaran di bidang tertentu sangat dihormati. Tiap ulama punya “identitas” keilmuan, sehingga ia akan berbicara sesuai dengan spesialisasi ilmunya. Umumnya mereka akan “puasa” untuk tidak berbicara di bidang lain yang memang bukan faknya. Ada rasa hormat kepada ulama lain yang pakar dibidangnya. Selain it, ia juga merasa punya hak untuk berrbicara terkait cabang ilmu yang bukan bidang yang ditekuninya.

 

Spesialisasi ilmu itu tidak ada hubungannya dengan jurusan kuliahnya. Memang idealnya, seseorang pakar di bidang tertentu sesuai kuliah yang ia masuki. Hanya dalam kenyataannya, banyak orang yang “terjerumus” masuk ke jurusan tertentu demi nilai akademik semata, atau karena “kepepet”.

 

Ia lantas mendalami suatu cabang ilmu lain yang tidak sesuai dengan kuliahnya. Ia belajar sendiri, atau berguru dari orang lain yang lebih mumpuni dalam suatu cabang ilmu. Di al-Azhar sendiri ada seorang ulama tafsir, yaitu syaih dr.  Syaih Yusri. Ilmunya beliau dapat dari mulazamah dengan para masyayih azhar, dan bukan dari fakultas kedokteran. Beliau lebih dikenal sebagai spesialis ilmu keislaman dibanding dokternya itu.

 

 

Beda di Mesir, beda di tanah air. Di Indonesia, seorang “ulama” harus tau segalanya dan bisa semua. Ia akan memberikan jawaban atas semua persoalan yang ditujukan kepadanya. Ia menjadi ensiklopedi islam berjalan yang siap memberikan solusi atas persoalan umat.

 

Jawabannya itu muncul, entah karena memang ia pakar segala cabang ilmu, takut dianggap tidak tau, atau minimnya ulama kompeten sehingga ia “dipaksa” memberikan jawaban atas persoalan yang bukan menjadi spesialisasinya akibat krisis ulama. Akibatnya kurang ada rasa hormat atas spesialisasi ilmu pengetahuan ulama lain. Tiap orang merasa bisa dan pakar di berbagai bidang keislaman.

 

Jika ia memang pakar di semua bidang, seperti halnya para ulama terdahulu tidak ada masalah. Yang jadi persoalan adalah bahwa keilmuannya masih mentah, sehingga jawabannya tidak didasari dengan ilmu. Ia merasa telah memberikan solusi, padahal sesungguhnya ia menambah masalah. Ia lebih banyak merusak daripada membangun. “Ulama” seperti ini sesungguhnya yang berbagaya.

 

Para sahabat dulu lebih senang menjawab dengan kata “tidak tau”, namun kita saat ini justru sebaliknya. Kita butuh ulama besar yang benar-benar pakar di bidang ilmu tertentu. Kita butuh ulama yang benar-benar mendalami ilmu, serta hormat terhadap cabang ilmu lain yang memang bukan bidangnya. Dengan demikian, ilmu akan keluar dari orang yang kompeten. Ilmu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ilmu punya sandaran tanggungjawab dihadapan umat manusia dan Allah sang pemberi ilmu. Wallahu a’lam

 

================

 

Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open