Tuesday, May 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menghadang Badai Globalisasi

amerika-18

 

 

 

Sebagian orang melihat bahwa globalisasi tidak lebih dari istilah modern yang digaungkan oleh Barat demi kepentingan Barat. Globalisasi hamper sama dengan hegemoni serta eksploitasi barat kepada Negara-negara lemah. Jadi, globalisasi adalah istilah imperalisme modern.

 

Jika ditengok lebih mendalam, globalisasi memiliki karakteristik seperti halnya imperalisme klasik. Namun dengan nama berbeda yang kiranya lebih dapat diterima oleh masyarakat kontemporer. Globalisasi sering dibarengi dengan berbagai jargon membius, seperti keadilan, demokratisasi, kebebasan, kedamaian dunia, keamanan, hak asasi manusia, anti teroris dan lain sebagainya.

 

Salah satu karakteristik globalisasi adalah bahwa antar peadaban dan budaya dunia tidak ada lagi jurang pemisah. Namun kemudian semacam ada pemaksaan peradaban barat untuk dipertontonklan dan dijadikansebagai contoh kehidupan bagi peradaban bangsa lain. Apalagi barat juga menghegemoni kehidupan global,  baik secara politik, ekonomi, komunikasi, pemikiran, eksploitasi atas kekayaan bangsa lain, melumpuhkan kekuatan mereka, menghapuskan identitas suatu bangsa dan karakteristik peradaban,  merubah pasar dalam negeri menjadi pasar konsumtif dengan kompetisi tak seimbang antara industri dalam negeri dengan industri asing yang mempromosikan hasil produksinya untuk mengeruk keuntungan berlipat ganda.

 

Sayang, hal ini benar-benar terlihat di depan mata kita berupa sirkulasi tradisi dan mode pakaian ala Barat dan restoran Barat yang dijadikan model percontohan restoran dalam negeri dengan tetap menggunakan nilai dan norma Barat. Barangkali ini ada korelasinya dengan sirkulasi feminin, melemahnya nilai religius, merenggangnya tali kekeluargaan, meluasnya narkotika dan organisasi kriminal, ditambah lagi dengan runtuhnya lembaga pemerintahan serta kapital dalam negeri yang banyak dilarikan keluar.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa peradaban Barat  bertumpu diatas  percetakan, kristenisasi dan persenjataan yang memiliki tiga cabang utama: pertama komunikasi, kedua kristenisasi dan ketiga militer. Bagian satu dan dua adalah batu loncatan untuk mempermudah meuju bagian ketiga.

Mereka belajar dari sejarah, untuk itu mereka lebih mengedepankan jalan halus, bukan dengan kekuatan militer mengingat cara ini lebih dapat meminimalisasi penghinaan atas bangsa lain, kasat mata, lebih dapat diterima dan lebih menjamin dalam melumpuhkan kekuatan lawan.

Jika metode klasik berupaya memaksa kehendak orang lain secara paksa, maka metode yang layak untuk zaman modern ini adalah membawa mereka sesuai dengan apa yang kita kehendaki, namun mereka dapat mengikutinya secara sukarela. Berhasil tidaknya metode ini tergantung bagaimana ia mengemasnya, bagaimana sistem pemasarannya, dan berapa besar imbalan yang akan ia berikan kepada siapa saja yang mau membantunya?

 

Universalisme Islam dan globalisasi Barat

 

Perlu diperhatikan bahwa ada perbedaan mendasar antara universalisme syari’ah Islam yang mengadung ajaran cinta dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia dengan globalisasi dalam artian hegemoni dan eksploitasi bangsa lain demi keuntungan kapitalisme tirani, atau bahkan demi eksploiter kapitalisme yang mencari keuntungan melalui darah dan harta orang lain.

Universalisme Islam yang akan membentuk dunia menjadi satu desa besar, menjamin sikap bebas memilih dan belas kasih kepada umat manusia, menghindari sikap  tirani serta menjamin hak dan kewajiban di bawah naungan keadilan dan kasih sayang. Jangan sampai kita mencampur adukkan dengan globalisasi Barat yang mengalihkan dunia menjadi satu hutan besar dimana yang kuat akan memakan yang lemah. Mereka tidak merasa ada yang mengawasi sehingga hidup bebas tanpa ada beban.

Sebenarnya tidak menjadi persoalan bagi para jurkam yang menyeru ke arah universalisme dengan risalah peradaban yang adil, namun yang menjadi persoalan adalah dogma yang dikandung dalam globalisasi ekstrim yang menyembunyikan sikap hegemonik, tirani, egois dan merendahkan martabat bangsa lain sebagaimana yang digembar gemborkan para jurkam kapitalis tanpa landasan agama ataupun norma. Permasalahannya bukan terletak pada arah universalitasnya, namun lebih pada interaksi dengan manusia sebagai satu bangsa. Namun terdapat persoalan terselubung, yaitu proyek subyektifitas yang membawa globalisasi kearah ini, karena ia melihat orang lain tidak lebih dari pion diatas papan catur. Mereka mengatur jalan hidup sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini tidak akan membangun dunia atau pun menegakkan agama namun hanya akan membebani dunia dengan kesengsaraan.

Sebagai seorang muslim kita mengemban proyek peradaban rabbany yang membawa keadilan. Sudah sepatutnya kita berdakwah ke seluruh penjuru dunia selama mereka tidak memerangi agama kita dan tidak menghalangi dakwah Islam kepada orang lain.

Para da’i tidak perlu kawatir untuk berkeliling menyebarkan dakwah Islam keseluruh penjuru dunia, melapangkan jalan kebenaran serta menyebarkan Islam secara terang-terangan  dengan berpegang pada semboyan,”Tidak ada paksaan dalam agama” (Q.S. Al Baqarah:256) dibawah naungan Tuhan yang menjamin hak dan kewajiban bagi umat manusia untuk membentuk dunia yang berlandaskan kasih sayang. Tugas kita adalah menyelamatkan mereka yang hidup penuh dengan kezaliman, egoisme, dan ketamakan kemudian kita naikkan ke atas perahu Islam yang dapat menembus badai kejahatan sehingga kita sampai di pantai kesuksesan kelak diakhirat.

Globalisasi -dalam artian atheis (sekuler)- hanya akan membawa kegagalan dan keruntuhan. Kezaliman selamanya tidak akan pernah abadi. Banyak kita dapati kisah-kisah dalam al quran yang menceritakan peradaban besar lantas jatuh secara mengenaskan. Firman Allah,”

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum “Aad? (6) (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi (7) Dan kaum Tsamut yang memotong batu-batu yang besar di lembah (8) Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak) (9)Yyang berbuat sewenag-wenang dalam negeri (10) Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu (11) Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (12) Sesungguhya Tuhanmu benar-benar mengawasi(13) (Q.S. Al Fajr :6-14)

Dan (telah kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan Rasu-Rasul. Kami tenggelamkan mereka dan kami jadikan (cerita) mereka itu pelajara bagi manusia. Dan kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih (37) Dan (kami binasakan) kaum Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak lagi generasi-generasi diantara kaum-kaum tersebut. (38) (Q.S. Al Furqaan:37-38)

Dan (juga) kaum Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehacuran mereka dari puing-puing tempat tinggal mereka. Dan syitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan merka, lalu mereka menghalangi mereka dari jalan Allah sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam (38) Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong (di muka) bumi, dan tiadaklah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). (39) Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang kami benamkan kedalam bumi, dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (40) (Q.S. Al Ankabuut:38-40

Kehancuran peradaba dapat kita saksikan dari warisan filsafat dan alur pemikiran suatu bagsa. Kata orang bijak,”Orang pertama yang menyebabkan kehancuran imperial besar adalah orang pertama pula yang menyumbangkan metode dan hasil karyanya.” Ia lah yang membangkitkan semangat suatu bangsa untuk mengeksploitasi bangsa lain serta bersikap egois. Dulu Napoleon berkata,”Imperial selalu runtuh akibat penyakit mematikan”. Ia sudah tidak kuasa dalam menangani berbagai problematika yang muncul dimasyarakat.

Namun bagaimanakah sikap yang layak dijalankan bagi seorang muslim, menolakkah atau mengadapinya secara selektif?

Jelas untuk memilih jalan yang pertama rasanya sangat sulit. Ada beberapa hal yang perlu untuk dijadikan pertimbangan:

  1. Fenomena globalisasi di dunia internasional melalui berbagai chanel terbuka, baik berupa telekomunikasi, turis dan hubungan langsung antar bangsa sehingga tidak memungkinkan kita menutup atau pun menghalangi jalan menuju kearah sana.
  2. Saat ini tidak mungkin suatu bangsa hidup mengisolasi dari dunia internasional, mengingat kehidupan suatu bangsa tertumpu pada pertukaran barang dan kerjasama internasional.
  3. Negara-negara Islam dan Arab relatif masih baru dalam mengembangkan sisterm sosial-ekonomi sehingga membutuhkan teknik dan pengalaman bangsa lain.
  4. Lemahnya koordinasi antara negara Islam dan Arab.

Jelas kita tidak mungkin melepaskan diri dari fenomena globalisasi sehingga tidak ada jalan lain selain menghadapinya secara selektif, dalam artian kita mesti memilah mana yang baik dan mana yang jelek. Jika ada sesuatu yang baik, tidak apa-apa untuk kita manfaatkan, begitu juga sebalikknya jika ada yang jelek dan merusak mesti kita jauhi bahkan kita harus siap untuk menghadapinya.

Memang ada hal-hal yang positif dari globalisasi, diantaranya adalah: kemajuan teknologi informasi sehingga antar individu dapat berhubungan dengan mudah. Mengapa umat Islam tidak memanfaatkan tegnologi ini? Kita dapat membentuk universitas terbuka untuk menyebarkan ilmu agama dan eksakta sehingga kebodohan di dunia Islam dapat dihapuskan serta kemajuan yang kita impikan dapat diraih.

Hal positif lain adalah, arus informasi yang  membanjiri dunia internasional tanpa mengenal teritorial suatu negara, ekonomi maupun militer. Tentu saja arus informasi ini sangat beranfaat untuk bekal pembangunan dalam semua segmen kehidupan.

Mengapa kita tidak memanfaatkan arus informasi untuk mengembangkan kemampuan kita demi masa depan yang lebih baik? Mengapa kita tidak menghimbau kepada generasi muda untuk memanfaatkan semua ini sehingga mereka lebih dapat aktif serta siap untuk menghadapi berbagai tantangan?

Namun yang lebih penting dari ini semua adalah, bagaimana membangkitkan sikap perlawanan dari umat Islam untuk menghadapi badai globaosasi ini dengan keimanan dan semangat jihad, sehingga kita dapat menjaga identitas kita sebagai orang Islam serta mampu menggerakkan kembali roda peradaban yang telah berhenti.

Banyak faktor yang dimiliki umat Islam -dengan izin Allah- sehingga tetap dapat berdiri kokoh dalam mengadapi berbagai cobaan. Bahkan kita dapat mengalahkannya sehingga keamana dan kedamaian dapat tercapai.

Mengenai hal ini tentunya tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, namun saya akan menyebutkan satu saja yang terbaik dan sangat berharga, yaitu kebangkitan Islam saat ini yang hampir-hampir menyelimuti seluruh dunia.

Tentunya mengarahkan kebangkitan Islam dan menghilangkan berbagai hambatan yang berasal dari dalam umat Islam serta menyatukan umat adalah benteng utama dalam menghadapi badai globalisasi.

Musuh-musuh kita sangat menyadari hal ini. Untuk menggagalkan dan menghancurkannya, mereka membuat makar siang malam. Mereka tidak menutup sumber utama kebangkitan Islam, dalam hal ini mereka sudah sangat putus asa. Maka jalan lain yang mereka tempuh adalah dengan mengadu domba antar umat Islam, menyebarkan fitnah, menanamkan sikap permusuhan antar sesama pemimpin negara Islam sehingga energi umat Islam habis hanya untuk mengurusi persoalan yang mereka tebarkan.

 

Sampai kapan generasi muda kita menjadi korban?

 

Sampai kapan generasi muda kita menjadi korban? Sebuah pertanyaan yang sering dilemparkan oleh para tokoh intelektual muslim. Mereka merasa prihatin melihat kelemahan umat Islam sehingga umat Islam hanya dijadikan barang mainan di dunia internasional. Sementara dari dalam, umat Islam terpecah belah.

Inilah yang mendorong intelektual muslim untuk mengadakan rekonstruksi pemikiran klasik dengan mengkaji ulang hasil pemikiran sajarawan muslim masa lalu, aktifitas mereka dan metode pembaruan dalam semua segi.

Ada beberapa persoalan penting yang perlu direnungkan untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya, diantaranya adalah:

-Interaksi tokoh politik dengan para aktifis keagamaan, interaksi dengan sesama muslim yang memiliki aliran pemikiran yang berbeda-beda dan interaksi dengan mereka yang berada diluar agama (non muslim) yang mempunyai arah pemikiran kebangsaan dan kenegaraan.

Pertama: interaksi dengan tokoh politik

Sejak masa imperalisme Barat, syari’ah Islam tercabut dari dunia Islam. Negara menggunakan sistem sekuler yang memisahkan urusan politik dengan agama. Benar bahwa imperalisme Barat telah hengkang dari dunia Islam, namun mereka meninggalkan pengaruh negatif. Saat ini, kebangkitan Islam menggema di seluruh dunia. Umat Islam kembali mempunyai obsesi untuk menerapkan syari’ah Islam secara komperhensif di seluruh segmen kehidupan serta berupaya untuk segera menghapuskan pengaruh negatif warisan imperalis Barat.

Hanya saja masih ada pemimpin politik yang merasa gerah dengan proyek ini sehingga timbul permusuhan antara aktifis Islam dengan mereka. Sementara para aktifis Islam terkadang kurang mampu untuk bersikap bijak sehingga antar keduanya timbul perasaan saling memusuhi. Kesempatan ini digunakan sebaik mungkin oleh musuh-musuh Islam untuk semakin memperlebar jurang perbedaan sehingga kebangkitan Islam dapat dipadamkan.

Yang menyedihkan adalah para tokoh politik sering terkecoh dengan fitnah yang ditebarkan mereka sehingga pergulatan dengan aktifis Islam semakin parah. Tentu saja yang rugi adalah umat Islam sendiri. Belakangan ini dari golongan intelektual muncul kesadaran untuk mencarikan jalan damai.

Ada hal menarik yang terjadi didunia Barat dimana interaksi antara aktifis Islam dengan para tokoh politik sangat harmonis, sementara yang terjadi di dunia Islam sebaliknya.

Di Barat, antara tokoh politik dengan aktifis Islam memiliki sifat saling pengertian, semetara di dunia Islam yang timbul justru sifat saling curiga. Ini perlu kita renungkan untuk kemudian kita mencari solusi terbaik dalam mengatasi berbagai persoala kita saat ini.

Di dunia Barat, baik tokoh politik maupun aktifis Islam sama-sama mengakui keberadaan suatu negara -baik pemerintah tirani atau pun adil – yang mempunyai instutusi tertentu. Merubah institusi negara dibolehkan dengan menggunakan cara yang telah ditentukan. Mereka menyadari batas-batas hukum yang mengatur interaksi antar keduanya.

Para aktifis Islam pun menyadari bahwa mereka tinggal disebuah negara yang terikat dengan institusi, meskipun terkadang institusi ini melanggar haknya atau bertentangan dengan hukum Islam yang ia yakini. Namun demikian mereka tetap tunduk pada ketentuan hukum secara suka rela. Negara juga menyadari bahwa ia terikat dengan institusi tertentu yang tidak boleh dilanggar. Dengan ini dapat terhindari perbuatan sewenang-wenang terhadap warga negara. Selama keduanya berjalan sesuai dengan garis hukum yang telah ditentukan, hak dan kewajiban warga negara dapat terjaga dengan baik.

Sifat saling pengertian antara keduanya telah mentradisi dalam masyarakat ini. Namun di dunia Islam justru sebaliknya, pelanggaran hukum telah melebihi batas-batas rasional dan irasional sehingga hubungan antar keduaya selalu memanas.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan oleh para aktifis Islam dari berbagai arah pemikiran adalah bekerja sesuai dengan keberadaan mereka di negara tersebut serta menghormati hukum yang berlaku. Untuk itu ia harus menyusun suatu rancangan disesuaikan denga situasi dan kondisi setempat serta berusaha menggunakan kesempatan sebaik mungkin.

Selama ini para aktifis Islam dalam berdakwah berangkat dari metode dan rujukan yang ia yakini. Ia tidak peduli apakah metodologi ini sesuai dengan manyarakat ataukah tidak. Inilah yang menimbulkan pergulatan, bahkan terjadi pertumpahan darah antar keduanya.

Tentu saja konsekwensi terhadap institusi yang berlaku pada suatu negara sebagaimana saya usulkan diatas tidak berarti bahwa pelanggaran  hak dan pergulatan antara aktifis Islam dengan tokoh politik akan segera berakhir. Namun setidaknya hal ini akan mengurangi ketegangan, dan juga dapat menghalangi mereka yang ingin memperlebar jurang perselisihan antara keduanya.

Hal ini tentunya akan lebih menguntungkan para aktifis Islam karena mereka akan lebih matang dalam berfikir, disamping hal ini juga akan mempersempit perselisihan. Dalam satu waktu, juga tidak mengurangi konsekwensi kita dalam menjalankan kewajiban. Kemampuan adalah syarat menadasar dalam setiap beban (taklif)

Menganalisa hasil dari perkataan dan perbuatan adalah tujuan yang diakui syari’ah. Hal ini berlandaskan pada kaidah “mewujudkan satu dari dua kebaikan atau menghalangi satu dari dua kerusakan”. Ini akan berakomodasi pada berbagai kondisi dan ijtihad, serta dapat merubah aktifitas dakwah secara keseluruhan. Tentu saja hal ini membutuhkan lebih banyak study mendetail sehingga analisa tersebut dapat direalisasikan. Dan ini harus disesuaikan dengan tempat dan waktu karena fatwa dapat berubah sesuai dengan tempat dan waktu serta situasi dan kondisi.

Para aktifis Islam sebaiknya juga memprioritaskan pergerakan dakwah pada pencegahan ketegangan dengan pemerintah. Saya tidak rela jika perpecahan antara keduanya digunakan sebaik mungkin oleh musuh-musuh Islam untuk menambah ketegangan sehingga umat akan terpecah belah. Kita hanya akan membuang-buang tenaga dengan percuma, sementara itu musuh-musuh Islam merasa menang tanpa harus bertempur melawan umat Islam.

Kedua: interaksi dengan orang lain:

Kedua: Interaksi dengan saudara seagama.

Ada perbedaan pendapat mengenai dibolehkannya atau tidak untuk menjalin hubungan damai dengan bangsa Yahudi dan hukum mengadakan pendekatan dengan golongan Rafidah dan Batiniyah dengan mengunakan kaidah dharurat serta maslahah. Ada yang membolehkan, melarang dan ada pula yang berupaya menjaga jarak. Sebagian ulama yang membolehkan mengatakan bahwa hal ini boleh asal sesuai dengan landasan syari’ah yaitu dharurat atau maslahah.   Namun ada juga yang masih ragu-ragu, apakah mau menerima ataukah menolak, hanya saja semuanya tetap berupaya menjaga identitasnya masing-masing.

Namun demikian, ketika mereka berinteraksi dengan sesama muslim, kondisinya tidak semulus ini -meskipun masih berada dalam ruang lingkup ahli sunnah- tetap saja dihadapkan pada berbagai persoalan. Biasanya orang yang paling keras adalah mereka yang menganggap bahwa orang yang menerapkan hukum konvensional dianggap kafir. Ini memang kelemahan masyarakat kita yang agak susah untuk diobati. Jika saja mereka lebih kritis dan mau merekonstrusi dari dasar pijakan mereka serta lebih toleran dengan sesama muslim dengan bersama-sama merasakan senasib seperjuangan dalam menyeru pada penerapan syari’ah Islam, tentu hal ini akan lebih baik. Jika kita bersikeras bahwa penerapan hukum konvensional adalah kafir dan syirik, padahal tidak ada perbuatan dosa yang lebih besar  dan layak dihilangkan selain syirik.

Tapi memang inilah yang terjadi, mereka sangat keras dengan saudara mereka sesama muslim, menyalahkan pandangan mereka dengan menakwilkan ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits  tidak pada tempatnya.

Barangkali solusi terbaik adalah dengan menghidupkan kembali Fiqih perbedaan sebagaimana telah dijalankan oleh generasi salaf secara mendetail, merapikan arah pergerakan, mengedepankan sesuatu yang sangat urgen, tidak mengingkari keberadaan ijtihad, berpegang teguh pada nas-nas muhkamah dan tsawabit seta menghormati perbedaan pendapat dalam nas-nas dhoniyat dan mutasyabihat. Allah SWT membagi aktifitas dakwah sebagaimana Ia membagi rezeki kepada seorang hamba, artinya ada pembagian tugas, sebagian bekerja dibidang ilmu dan amal dan sebagian bekerja di bidang yang lain. dengan pembagian tugas seperti ini bearti terjadi pemerataan dalam menjalankan fardu kifayah oleh seluruh umat. Sudah selayaknya para aktifis dakwah menjauhi sesuatu yang dapat menimbulkan kelemahan dan perpecahan. Jika ada persoalan yang sensitif lebih baik diam, kita juga boleh bercanda. Tentu saja semua itu disesuaikan dengan tempat dan waktu serta situasi dan kondisi. Kita dibolehkan melaksanakan sesuatu yang mafdul (kurang utama) dari perkara yang fadil (utama) demi persatuan umat sebagaimana pernah dijalankan oleh para Salafu Assholeh. Dalam hal ini, kami tidak akan bicara panjang lebar karena telah kami tulis dalam pembahasan terpisah. Apa yang saya sebutkan secara global disini saya kira cukup. Diharapkan para santri mau merenungi hal ini, apalagi kita sedang membicarakan mengenai fitnah globalisasi dan gelombang globalisasi yang  sedang menghatam dunia Islam.

Perbedaan ijtihad adalah sunahtullah di masyarakat serta sesuatu yang pasti terjadi dalam sepanjang sejarah manusia. Tidak perlu kita mencela perbedaan pendapat kecuali dalam dua hal:

  1. Perbedaan dalam landasan dasar (al usul) dan nas-nas qot’iyat, seperti perbedaan asal usul agama serta ajaran Islam yang bersifat qot’i lainnya sebagaimana ditentukan syari’ah. Hal petama dianggap telah keluar dari Islam dan kedua dianggap telah keluar dari golongan ahlu sunnah wal jama’ah serta dimasukkan kedalam aliran sesat.
  2. Fanatisme tercela yang mengakibatkan perpecahan yang akan menghacurkan hubungan persaudaraan antara sesama mukmin sehingga umat Islam akan terkotak-kotak dimana satu sama lain saling mencaci maki. Hal ini akan menghalangi kerjasama antar mereka dalam waktu-waktu yang sangat mendesak untuk saling kerjasama.

Perbedaan yang dapat diterima adalah perbedaan yang masih berada dalam ruang lingkup agama Islam bahkan yang masih berada dalam qot’iyat, tsawabit, dan ijma’ ulama. Fanatisme yang terikat dengan permasalahan furu’iyah dan bahkan hasil ijtihad terentu bukanlah metode ahli sunnah. Untuk menghadapi globalisasi dibutuhkan persatuan seluruh umat Islam kedalam satu barisan karena musuh kita -dan pembicaraan kita masih berkisar mengenai globalisai dan ancamannya di dunia Islam- bukanlah jenis pergulatan  yang masih berada dalam ruang lingkup Islam, namun pergulatan melawan Islam itu sendiri. Artinya apakah kita menerima Islam, ataukah akan kita ganti dengan ideologi Barat sekuler.

Jika ini yang kita kerjakan, serta lebih mengkonsentrasikan pada pergulatan melawan musuh-musuh Islam, maka kemungkinan besar kemenangna akan berada di tangan para aktifis Islam. Jika kita melihat hukum konvensional, maka akan kita temui bahwa ketika negara dalam bahaya atau terjadi sesuatu yang dapat mengancam warga negara maka semua kekuatan politik baik pemerintah maupun oposisi akan bersatu untuk menghadapi ancaman ini. Kepentingan negara lebih utama daripada kepentingan partai, dan fanatisme golongan pun dapat dihindari. Seluruh lapisan masyarakat saling bahu membahu untuk menghadang bencana ini.

Perbedaan ijtihad, figih dan politik tidaklah menjadi persoalan asalkan tidak menghalangi mereka dalam menjalin kerjasama serta mengadakan koordinasi antar mereka. Hal ini tentunya dibutuhkan sebuah organisasi dalam artian yang lebih luas dan komprehensif, karena perbedaan seperti ini tidak akan membawa ancaman dan perpecahan.

Namun jika perbedaan akan mengakibatkan pada perpecahan serta dapat dijadikan ajang untuk memfitnah saudara kita sesama muslim dengan mengedepankan masalah furu’iyah ketimbang masalah usuliyah, juziyat ketimbang kuliyat dan tenggelam dalam perbedaan furu’iyat yang hanya membuang-buang energi, tentunya ini adalah perbedaan yang dicela oleh nas serta hanya akan membawa madharat bagi mereka. Peristiwa seperti ini hanya akan memecah belah umat dan akan menimbulkan kegagalan.

Ketiga: Interaksi dengan non muslim

Kita akan membicarakan mengenai interaksi dengan mereka yang berada diluar Islam yang mempunyai arah pemikiran kenegaraan dan kebangsaan. Bolehkah umat Islam mengadakan kerjasama dan aliansi dengan mereka untuk menghadapi persoalan penting, atau untuk menghadapi musuh yang sama yang mengancam segenap lapisan masyarakat berpijak dari nas Al Quran yang bersifat umum mengenai kerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta mengedepankan kepentingan rakyat sesuai dengan syar’iah?

Kita dihadapkan pada pertanyaan serius yang perlu untuk direntungkan khususnya pada situasi kita saat ini agar lebih dapat aktif dalam pergerakan Islam kontemporer.

Memang ada beberapa nas yang melarang kita untuk membentuk suatu aliansi, namun ada juga nas yang membolehkannya.

-diriwayatkan dari imam Muslim dari Jabir bin math’am dari sabda Nabi SAW,”tidak ada aliansi dalam Islam, barang siapa yang membentuk aliansi pada masa jahiliyah, maka Islam tidak akan menambah aliansi itu kecuali semakin keras”.

-diriwayatkan dari imam Ahmad dari sabda Nabi SAW,”Wahai manusia, barang siapa membentuk aliansi pada masa jahiliyah, maka sesungguhnya Islam tidak akan menambah aliansi itu kecuali semakin keras”.

-diriwayatkan dari imam Bukhari dari Asim Al Ahwal ia berkata,”Kutanyakan kepada Anas bin Malik,”telah sampai kepadamu berita bahwa Nabi bersabda,”Tidak ada aliansi dalam Islam . Anas berkata,”Nabi telah menyatukan (membentuk aliansi) antara suku Quraish dengan kaum Ansor di rumahnya. Imam Bukhari sendiri dalam shahihnya menuliskan bab tersendiri mengenai aliansi ( bab: persaudaraan dan aliansi)

Aliansi yang dilarang oleh para ulama adalah aliansi yang tidak sesuai dengan syari’ah Islam, seperti aliansi pada masa jahiliyah dimana ia akan memberikan pertolongan kepada temannya meskipun ia berbuat zalim. Adapun membentuk sebuah aliansi (kerjasama) untuk menolong orang yang terdhalimi, untuk menegakkan agama Islam, kerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan maka aliansi seperti ini boleh-boleh saja dan hukumnya masih tetap berlaku, dalam artian belum dihapus (manshukh)

Dari sini kita mendapat gambaran bahwa membentuk aliasi (kerjasama) dengan orang sekuler boleh-boleh saja demi mendapatkan kemashlahatan dan untuk mencegah kerusakan.

Adapun tujuan pembentukan aliansi adalah untuk mewujutkan sesuatu yang sesuai dengan syari’at demi kemaslahatan bersama seperti: menggugurkan institusi pengecualian bagi orang yang berbuat kezaliman, membela mereka yang melakukan tindak kriminal dan melepaskan musuh yang telah menodahi negara Islam tanpa ada konsekwensi tertentu dari para ulama. Hukum asli dari aliansi adalah boleh, baru kemudian kita melihat situasi yang mendorong kita untuk membentuk aliansi tersebut, juga kemashlahatan dan kerusakan yang akan ditimbulkannya.   Inilah yang akan menentukan fatwa mengenai dibolehkannya membentuk aliansi atau tidak.

  1. Adapun aliansi yang tidak diperbolehkan oleh syari’ah adalah aliansi yang akan menghalangi para da’i untuk menegakkan kebenaran agama Islam. Jelas bentuk aliansi seperti ini dilarang sebagaimana banyak ditemukan dalam nas juziyat serta kaidah umum, kecuali memang kondisinya mendesak.

 

Koalisi dengan kekuatan politik tertentu untuk menegakkan demokrasi

Stetemen diats akan mendorong kita pada pertanyaan selanjutnya: apakah para aktifis Islam dibolehkan untuk mengadakan koalisi dengan setiap partai politik untuk menghapuskan ketidak adilan dengan ideologi alternatif  demokrasi, artinya keputusan kita serahkan kepada rakyat?

Jawaban dari pertanyaan diatas akan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan realitas sosial, demokrasi dan aktifitas Islam.

Jika masyarkat masih komitmen dengan ajaran Islam dalam artian masih konsekwen terhadap penerapan syari’ah Islam sedangkan demokrasi yang kita lontarkan tidak membohongi suara rakyat serta sesuai dengan pilihan mereka maka koalisi seperti ini hukumnya boleh.

Jika masyarakat telah jauh dari agama, dan sistem pemerintahannya juga sekuler atau alternatif demokrasi hanya sekedar simbol saja, namun menipu kehendak rakyat maka hukumnya haram.  Menerima koalisi seperti ini berati menambah kezaliman dan telah menyimpang dari syari’ah. Dalam kondisi seperti ini para aktifis Islam lebih baik mengisolasi diri dari kancah politik dan mengoriantasikan pergerakan pada kegiatan masjid serta berupaya memperbaiki kondisi masyarakat.

Yang perlu diperhatikan adalah adanya komparasi antara realitas dengan ideologi alternatif. Jika realitas yang kita hadapi sangat hegemonis, diktator, megekang kebebasan, dan selalu bergumul dengan darah, harta dan kehormatan, atau ideologi alternatif -kondisinya juga jelek- namun tidak samapai pada tingkat sistem yang sedang berlaku, maka -meskipun ini bukan sistem Islam namun bertujuan untuk mewujutkan suatu masyarakat yang bebas berpendapat, menjamin kebebasan politik sehingga para aktifis Islam dapat lebih bergerak dalam kondisi seperti ini padahal sebelumnya dakwah Islam dilarang, rakyat boleh hidup sesuai dengan syari’ah Islam padahal sebelumnya mejalankan syari’ah Islam dianggap telah melakukan tindak kriminal sehingga para aktifis Islam selau mendapatkan fitnahan dan hukuman-, apakah tindakan seperti ini dilarang dengan alasan bahwa ia menolak semua sistem kecuali bersumber dari ajaran Islam?

Benar bahwa para aktifis Islam menghendaki ideologi Islam, namun apakah karena kita menghadapi persoalan yang sulit sehingga kita meninggalkan untuk menjalankan perkara yang lebih mudah?

Yang sedang kita hadapi bukanlah antara Islam dengan alternatif demokrasi, -jika saja pergulatan antara Islam dan demokrasi, tentunya persoalan kita sudah berahir- akan tetapi yang sedang kita hadapi adalah antara realitas yang congkak dan zalim, dengan ideologi alternatif yang menjamin kebebasan dan garansi-garansinya. Ketika terjadi pertentangan antara dua realita, yang pertama membolehkan segala macam perbuatan haram, dakwah kepada Allah dianggap sebagai tindak kriminalitas dan orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan diancam dan dianiaya sementara realita kedua lebih menjamin hak dan kebebasan, maka yang akan dipilih tentu realitas kedua.

Kondisi ini sama persis seperti kejadian hijrah ke Etiopia (Habasyah). Faktor utama dari peristiwa hijrah adalah karena raja Etiopia tidak menzalimi seseorang, meskipun antara realita di mekkkah dan di Etiopia ada kesamaan yaitu kafir. Pada waktu itu Habasyah bukanlah negara Islam, tetapi Habasyah -bahkan meskipun sang raja telah memeluk agama Islam- tidak dapat digolongkan kedalam Darul Islam. Raja Najasyi tidak mampu memerintah sesuai dengan al-Qur’an, juga tidak mampu menegakkan syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat. Waktu itu kondisinya memang tidak memungkinkan. Meskipun demikian Allah tetap mengampuninya karena ia tetap beriman. Nabi juga memerintahkan para sahabat untuk melakukan shalat ghaib atas kematian sang raja. Namun yang membedakan antar keduanya adalah; penduduk kafir mekkah menganiaya orang-orang mukmin, sedangkan di Etiopia adalah sebuah negara yang aman dan tidak terjadi kezaliman terhadap siapapun. Maka orang-orang mu’min yang lemah berduyun-duyun hijrah ke Habasyah.

Mereka berpijak dari kaidah usul yang mengatakan bahwa prinsip syariah adalah mewujudkan kemaslahatan serta menyempurnakannya, menggugurkan kerusakan dan meminimalisasikannya, menjauhi sesuatu yang dapat mendatangkan kerugian  untuk mendapatkan kemaslahatan, sesuatu yang mudah tidak terhapus oleh sesuatu yang sulit dan sesuatu yang tidak bisa diperoleh seluruhnya tidak boleh ditinggalkan semuanya.

Jika ditanyakan: “Apakah cara ini tidak tergolong kedalam tindakan kemaksiatan dan fasik kepada Allah?

Maka kami jawab: “Tidak, Karena dengan cara tersebut kita menolak kemunkaran lebih besar yang mendapat kemurkaan Allah SWT. Terkadang mendukung terjadinya maksiat diperbolehkan, bukan karena maksiatan itu sendiri, akan tetapi karena dengan dukungan tersebut akan menolak terjadinya maksiat yang lebih besar. Sebagaimana kita membayar tebusan kepada orang-orang kafir untuk membebaskan tawanan orang-orang mukmin. Mengenai hal ini para ulama terdahulu telah memeberikan kejelasan.

Al-‘Iz bin Abd al-Salam bekata dalam kitabnya Qawaidul ahkam:

“Jika kefasikan para penguasa bertingkat-tingkat, maka kita dahulukan pemimpin yang paling kecil kefasikannya. Seperti jika seorang penguasa fasik karena melakukan pembunuhan, dan penguasa fasik yang kedua karena berbuat zina, kemudian pemimpin fasik yang ketiga karena gila harta, maka kita mendahulukan pemimpin yang gila harta dari pemimpin yang melakukan pembunuhan  dan berzina.

Jika kondisi tidak memungkinkan, maka kita dahulukan penguasa yang gila wanita dari pada penguasa yang pembunuh.  Hal ini juga berlaku dalam masalah dosa yang besar dan yang lebih besar, dosa kecil dan yang lebih kecil sesuai dengan tingkatannya masing-masing.”(Qowaidul ahkam fimashalihil anam Karya ‘Iz bin Abd al-Salam, 1/86)

Dalam kesempatan lain, ia mengatakan: “Jika dikatakan, apakah boleh berperang dengan salah satu dari mereka untuk mewujudkan kekuasaan dan kelanjutan prilakunya dengan membantunya melakukan kemaksiatan?!, Maka kami katakan: Boleh, demi menolak satu dari dua kerusakan yang mungkin terjadi serta untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Disisni muncul satu keanehan, satu sisi kita menolong seoarang zalim supaya  merusak harta agar tidak melakukan perbuatan zina, padahal merusak harta adalah maksiat, begitu juga kita menolong orang lain untuk melakukan zina demi menolak terjadinya pembunuhan, padahal zina tersebut juga maksiat.

Membantu seseorang untuk melakukan kemaksiatan kadang dibolehkan, bukan karena kemaksiatan itu sendiri, akan tetapi karena cara ini dapat menghasilkan kemashlahatan yang sudah jelas. Seperti kita menebus dengan harta untuk melepaskan tawanan perang kaum muslimin dari tangan orang kafir.( qawaid al ahkam li ‘izidin ibni abdu salam)

Dalam bab lain dikatakan:

“Terkadang dibolehkan membantu seseorang melakukan perbuatan dosa, kezaliman, kefasikan dan kemaksiatan. Bukan karena maksiatnya, akan tetapi karena cara itu adalah jalan menuju kemaslahatan. Sebagai contoh; uang yang digunakan untuk menebus para tawanan. Harta tersebut haram bagi yang menerima, namun diperbolehkan bagi yang membayar. Contoh lainnya, jika ada seorang zalim yang ingin membunuh seseorang, karena ingin merampas hartanya, maka orang tersebut diharuskan menyerahkan hartanya untuk menyelamatkan jiwanya. Contoh lain, jika ada seseorang memaksa perempuan untuk berzina, dan ia akan dilepaskan dengan syarat membayar tebusan dengan hartanya atau dengan harta orang lain, maka ia diharuskan menebusnya.

Ini bukan bearti membantu melakukan perbuatan dosa, kezaliman, kefasikan dan kemaksiatan, tetapi membantu dalam mencegah kerusakan yang lebih besar.  Maka membantu melakukan perbuatan dosa, kezaliman, kefasikan dan kemaksiatan bukanlah tujuan utama tapi ia hanya sebagai pertimbangan saja. (Ibid,juz 1, hal 129).

Yang dikatakan Izz Bin Abd al-salam (rahimahullahu) ini sesuai dengan nas (naql) dan logika. Terkadang para aktifis Islam mengalami satu keadaan yang menuntut mereka untuk mengambil langkah-langkah seperti ini, baik para aktifis Islam itu mengetahui hukumnya atau tidak. Karena hanya jalan inilah yang dapat ditempuh. Dan jika mereka tidak melakukannya, berarti sama saja dengan bunuh diri atau  gila!!!

Apa pendapat Anda, jika suatu negara ditimpa musibah, seperti agresi pasukan Irak ke bumi Kuwait, atau penyerangan Yahudi terhadap salah satu negara Islam dan tidak ada jalan lain untuk melawannya kecuali dengan kerja sama dengan seluruh golongan dengan aliran yang berbeda-beda, baik atheis atau Islam, untuk menanggulangi kerusakan yang akan diakibatkan. Kemudian mereka sepakat untuk menyerahkan segala permasalahan -setelah evakuasi- kepada pendapat mayoritas. Dan tidak ada alternatif lain kecuali dengan bergabungnya berbagai golongan tersebut.  Jika kita tidak melaksanakan cara ini, maka Yahudi akan menguasai seluruh negara, padahal mereka adalah bangsa yang sangat bengis.“Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (al-Mumtahanah: 2)

Apakah dalam kondisi seperti ini kita akan membiarkan bangsa yahudi atau para agresor menyerang negara dan rakyat, karena perbedaan idiologi dalam satu negara?  Ataukah mereka menerima solusi temporal ini, yang mana jika aliran Islam mampu berinteraksi secara baik, dengan cara ini memungkinkan untuk dapat menegakkan agama Islam. Jika mereka tidak mampu berinteraksi dengan baik, setidaknya alternatif yang diajukan walau bagaimanapun jeleknya, namun tidak akan mencapai sepersepuluh dari kerusakan yang mungkin ditimbulkan oleh tentara musuh atau Yahudi!

Dari stetemen diatas dapat kita simpulkan bahwa hukum koalisi aktifis Islam dengan golongan selainnya untuk mewujudkan demokrasi sebagai alternatif sebagai berikut:

Jika para aktifis Islam yakin mampu menegakkan agama, atau meminimalisasi kerusakan, atau menghilangkan beberapa kezaliman, serta mampu mewujudkan kondisi yang kondusif untuk berdakwah, maka hal terebut masih bisa di tolerir (boleh).

Adapun jika para aktifis Islam yakin bahwa ia tidak sanggup melakukannya, baik karena demokrasi yang diusulkan hanya sekedar sandiwara, sementara pemerintah dipegang oleh syetan-syetan, atau karena atheisme dan paham barat telah merajalela di tengah-tengah komunitas umat, atau kerusakan yang terjadi dalam masyarakat telah mencapai titik kulminasi sehingga untuk mengharapkan mereka kembali kepada Islam teramat sulit, atau ideologi alternatif kualitasnya sama dengan sistem yang ada atau bahkan lebih parah dari kebatilan yang ada, dalam kondisi seperti ini lebih baik para aktifis Islam tidak ikut koalisi dan tetap bersabar dengan perintah Allah, sesuai dengan firman-Nya:

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kamipun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kamipun menunggu (pula).”( QS. Hud: 121-122)

Akan tetapi pertimbangan diatas mempunyai beberapa pandangan, karena ini termasuk pembahasan Fiqih yang rumit dan pelik. Banyak terjadi kesalahan dalam memahami masalah ini, karena ada hal yang tertutupi oleh nas kuliyat.  Siapa tahu bahwa masalah ini menyebabkan terbengkalainya kemaslahatan umat! Berapa banyak orang yang membuka pintu ini justru menyebabkan masuknya perkara lain yang berasal dari luar agama Islam. sehingga risalah yang agung ini justru jatuh karena berbagai tambahan. Oleh karena itu nasehat saya ini mempunyai dua dimensi:

Dimensi pertama  ditujukan kepada para aktifis Islam -yaitu mereka yang memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk berijtihad- karena hal ini termasuk persoalan rumit dan ruwet, sering terjadi kesalahan-kesalahan. Untuk itu selayaknya dalam mengambil keputusan jangan terburu-buru sebelum dimusyawarahkan dan meminta nasihat dari para ilmuan dan tokoh intelektual.

Mereka harus menyadari bahwa mereka sedang mengatasi masalah yang mungkin mengancam masa depan Islam dan umatnya. Pengambilan keputusan yang benar dapat membawa umat Islam kepada kemajuan pesat. Begitupun sebaliknya pengambilan keputusan yang salah dapat membawa kepada keterbelakangan Islam!

Demikian juga, mereka harus bersabar atas kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh saudara mereka sesama muslim. Barangkali mereka kurang memahami pertimbangan pengambilan keputusan serta tidak mengetahui masalah ini secara terperinci sehingga mereka menghukuminya dari  kejauhan, padahal seandainya ia diberi kesempatan yang sama sepeti yang diberikan kepada saudara mereka, niscaya mereka akan mempunyai sikap yang lain. Selayaknya mereka menyadari bahwa faktor pendorong ijtihad ini adalah rasa cinta terhadap Islam. Ia selayaknya mengampuni atas prasangka mereka karena menganggapnya telah melampaui batas-batas ketuhanan. Barangkali Allah mengampuni sikap mereka karena maksud dan motivasi yang baik.

Dan dimensi yang kedua ditujukan kepada mereka yang mengaku sebagai aktifis Islam kontemporer -yang sering menemui kesulitan dalam berbagai kesempatan- untuk memahami sikap yang diambil oleh sebagian para pemimpin, bertolak dari kaidah usul“Menimbang antara kemaslahatan dan kerusakan.”  Jika hal ini tidak kita laksanakan, maka bisa menimbulkan konflik, pertentangan, fitnah dan meragukan kapabilitas para pemimpin sehingga dapat menghancurkan aktifitas Islam secara keseluruhan.

Sifat saling percaya harus tunbuh dari para aktifis Islam dan para pemimpin sehingga ketika menghadapi berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan rasa kekeluargaan. Dengan ini diharapkan, para aktifis Islam   memahami sikap yang diambil pemerintah berdasarkan pada pertimbangan tertentu, sehingga  membutuhkan penjelasan dan perincian. Hanya saja para pemipin terkadang tidak mampu  untuk memaparkannya kepada masayarakat. Maka, orang yang memiliki kelebihan dan kedekatanya dengan Allah, adalah mereka yang mau bertanggung jawab atas segala perbuatan dan sikapnya serta memberika solusi terhadap berbagai problema yang muncul.

Saat itu pula, mereka dapat melakukan intropeksi, tetap memelihara agar selalu sesuai dengan jalan Allah, dan memberi nasehat kepada para pemimpin dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Jika di satu sisi para pemimpin konsekwen dalam mencari kebenaran dan mau bermusyawarah dengan tokoh intelektual,  dan di sisi lain  dalam menghadapi berbagai permasalahan yang meragukan ia bersikap baik sangka, maka hal ini memungkinkan mereka untuk berjalanan jauh dari badai fitnah, serta dapat saling kerjasama satu dengan lainnya.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

15 + 6 =

*