Tuesday, October 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mengapa Muhammadiyah Menggunakan Tafwith atau Takwil Dan Bukan Itsbat layaknya Wahabi?

Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, ketika menghadapi ayat sifat melakukan tafwith atau takwil sebagaimana teks HPT berikut ini:

جِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِىُّ صَلَّى االله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الْقُرْآنُ وَمَا تَوَاتَرَ الْخَبَرُ عَنهُ تَوَاتُرًا صَحِيحًا مُسْتَوْفِيًا لِشُرُوْطِهِ وَإِنَّمَا يَجِبُ الإِعْتِقَادُ عَلَى مَا هُوَ صَرِيْحٌ فِى ذَالِكَ فَقَطْ وَلاَ تَجُوْزُ الزِّيَادَةُ عَلَى مَاهُوَ قَطْعِىٌّ بِظَنِّىٍّ لِقَوْلِهِ تَعَالَ: إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا (يُونُس: 36 .( وَشَرْطُ صِحَّةِ الإِعْتِقَادِ فِى ذَالِكَ أَنْ لاَ يَكُونُ فِيهِ شَيئٌ يَمَسُّ التَّنْـزِيْهَ وَعُلُوَّ الْمَقَامِ الْاِلهِىِّ عَنْ مُشَابَحَةِ الْمَخْلُوْقِينَ فَاِنْ وَرَدَ مَا يُوْهِمُ ظَاهِرُهُ ذَالِكَ فِى الْمُتَوَاتِرِ وَجَبَ الإِعْرَاضُ عَنْهُ بِالتَّسْلِيْمِ لِلّهِ فِى العِلْمِ بِمَعْنَاهُ مَعَ الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ الظَّاهِرَ غَيْرُ المُرَادِ أَوْ بِتَأْوِيلٍ تَقُومُ عَلَيهِ القَرَائِنُ الْمَقْبُوْلَةُ.

PERHATIAN Kita wajib percaya akan hal yang di bawa oleh Nabi s.a.w. yakni AlQur’an dan berita dari Nabi s.a.w yang mutawattir dan memenuhi syaratsyaratnya. Dan yang wajib kita percayai hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan tidak boleh menambah – nambah keterangan yang sudah tegas – tegas itu dengan keterangan berdasarkan pertimbangan (perkiraan), karena firman Allah: “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (Surat Yunus:36). Adapun syarat yang benar tentang kepercayaan, dalam hal ini ialah jangan ada sesuatu yang mengurangi keangungan dan keluhuran Tuhan, dengan mempersamakan-Nya dengan makhluk. Sehingga andaikata terdapat kalimat-kalimat yang kesan pertama mengarah kepada arti yang demikian, meskipun berdasarkan berita yang mutawattir (menyakinkan), maka wajiblah orang mengabaikan makna yang tersurat dan menyerahkan tafsir arti yang sebenarnya kepad Allah dengan kepercayaan bahwa yang terkesan pertama pada pikiran bukanlah yang dimaksudkan, atau dengan takwil yang berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima.

Muhammadiyah tidak mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah, Imam Muhammad Ibnu Abdul Wahab, Syaih Bin Baz, Syaih Utsaimin dan ulama wahabi lainnya, namun lebih memilih dan merajihkan pendapat dari kalangan Asyariyah dan Maturidiyah dari kalangan ahli sunnah.

Mengapa yang dirajihkan Muhamadiyah adalah tafwidh atau takwil dan bukan itsbat? Ada beberapa alasan, di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Menghindari sikap membendakan dan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Jika kita tidak melakukan tafwidt atau takwil, dan memahami ayat mutasyabihat baik dari al-Quran atau hadis sebagai makna hakekat, maka kita akan terjerumus pada sikap membendakan Allah dan menyamakan Allah seperti makhluk-Nya. Contoh sebagai berikut:
Rasulullah saw bersabda:

عن أبي هُرَيْرَةَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمَّا خَلَقَهُ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ النَّفَرِ وَهُمْ نَفَرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ جُلُوسٌ فَاسْتَمِعْ مَا يُجِيبُونَكَ فَإِنَّهَا تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ ذُرِّيَّتِكَ قَالَ فَذَهَبَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ قَالَ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ وَطُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ بَعْدَهُ حَتَّى الْآنَ

“Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallohu saw: Allah menciptakan Adam dalam bentuknya-Nya, tingginya emam puluh hasta. Maka ketika Allah telah menciptakannya Allah berfirman: “Pergilah dan ucapkan salam kepada mereka- yaitu sekelompok malaikat yang sedang duduk- dan dengarlah apa jawab mereka kepadamu, sesungguhnya itu adalah salam (penghormatan) mu dan keturunanmu. Maka pergilah Adam dan mengucapkan (salam kepada malaikat) : Assalamu’alaikum. Mereka menjawab: “Assalamu ‘alaika warohmatulloh” maka malaikat menambah dalam jawaban: “warahmatulloh”, Bersabda Rasulullah : Semua orang yang masuk surga berada dalam bentuk Adam, tingginya enampuluh hasta, dan terus-menerus anak adam berkurang tingginya hingga saat ini.” (H.R. Muslim)

Bagaimana memahami hadis tadi,’ menciptakan Adam dalam bentuknya-Nya’?
Jika kita mekanai hadis di atas seperti ada adanya, maka kita akan menyatakan bahwa Allah berbentuk persisis seperti nabi Adam yang tingginya enam puluh hasta. Tinggi, rupa, warna kulit dan lain sebagainya sama dengan Adam.

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy” [Thaha: 5]

Allah duduk di singgasana layaknya raja. Jika hadis di atas terkait rupa Allah yang seperti nabi Adam lalu digabungkan dengan ayat tadi, maka kita akan menganggap bahwa Allah yang serupa Adam, duduk di singgasana.

Allah juga berfirman:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاء إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

Jika digabungkan 3 nas di atas dengan memahami makna hakekat, seperti yang disampaikan oleh Syaih Utsaimin, maka semakinlah kita menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Allah serupa adam, duduk di singgasana dan berada di atas langit. Lalu Allah akan turun setiap malam ke dunia seperti hadis berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758)

Dan kelak di hari kiamat, akan berjalan dengan barisan malaikat seperti ayat berikut:

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
Artinya: dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (Al-Fajr: 22)

Padahal Allah tidak serupa dengan apapun juga.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11).

Maka untuk menghindari dari sikap menyamakan Allah dengan makhluk, Muhammadiyah mengambil jalan tafwith atau takwil. Jadi tafwith atau takwil adalah cara paling baik dan pas dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat. kita akan terhindar dari membendakan Allah, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

kedua, menghindari benturan antar teks. Misal, satu ayat mengatakan:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy” [Thaha: 5]

namun di sisi lain, Allah juga berfirman:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

4. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al-Hadid: 4)

(16). وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖوَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (Qaf: 16)

Jika menggunakan makna zhahir seperti yang disampaikan oleh Syaih Ibnu Taimiyah, syaih Utsaimin atau syaih bin Baz, maka kita akan kerepotan dalam memaknai ayat tadi. Satu sisi menganggap bahwa Allah di atas ars, di sisi lain Allah bersama setiap hambanya di mana saja berada. Artinya bahwa Allah ada di muka bumi. Lalu ayat lain menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat nadi.

Ibnu Taimiyah sendiri, yang sedari awal menolak takwil, menghadapi ayat ini, seperti yang tertulis dalam majmu fatawanya, terpaksa harus melakukan takwil dengan memaknai dekat dengan keagungan dan ilmu Allah yang selalu meliputi hamba-Nya. Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sesiapa yang mengatakan bahwa Allah berada di bumi, maka ia telah kafir. Pernyataan Ibnu Taimiyah ini juga dinukil oleh Syaih Utsaimin dalam fatawanya.

Terkait Adam yang seperti Allah, Syaih Bin Baz pun terpaksa melakukan takwil. Menurutnya, bukan bearti Allah seperti Adam, namun Adam diciptakan dengan sifat-sifat yang menyerupai Allah seperti adam bisa melihat, mendengar, berbicara dan lain sebagainya. Inilah penolakan tafwith atau takwil itu, dan memilih itsbat atau memaknai teks sesuai zhahir ayat.

Ini artinya bahwa kalangan wahabi yang merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, tidak ada konsistensi dalam menafsirkan ayat mutasyabihat. Ia akan memaknai ayat apa adanya atau melakukan takwil, sesuai dengan seleranya yang dapat mendukung pendapatnya saja. Sikap inkonsistensi ini, di dunia ilmiah jelas tertolak. Dan Muhammaidiyah seperti yang tertuang dalam Himpunan Putusan Tarjih, merajihkan tafwith atau takwil, mengikuti ulama Asyari dan Maturidi, bukan itsbat atau makna zhahir seperti Ibnu Taimiyah dan ulama Wahabi karena lebih selamat bagi akidah seorang muslim. Wallahu a’lam

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open