Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mengapa Halaqah Ilmiah di Desa Tretep Ini Bisa Istiqamah?

10384814_10204335498281338_4711985395646995525_n

Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa di masjid al-Karim Tretep, desa tempat tinggal saya, halaqah ilmiyah dilakukan setiap bakda Subuh. Pertama kali dilaksanakan tahun 2012 lalu. Sampai sekarang, bearti sudah berjalan selama dua tahun. Halaqah ilmiah libur sejenak di kala musim panen tembakau, karena meski petani tetap shalat berjamaah, namun aktivitas sangat sibuk.

 

Mengapa halaqah ilmiah ini bisa konsisten? Apa rahasianya? Barangkali ada beberapa hal yang perlu dicatat.

  1. Halaqah ilmiah tidak lama.

Halaqah ilmiah itu tidak lama. Ia hanya semacam kultum saja. Waktu yang digunakan berkisar sekitar 20 menit. Sengaja tidak terlalu lama, agar penyampaian tidak membosankan dan juga tidak memberatkan jamaah. Lama penyampaian sesungguhnya tidak penting. Untuk apa materi sampai satu jam, kalau halaqah ilmiah hanya berlangsung satu minggu saja lalu bubar. Rasulullah sendiri bersabda:

 

سُئِلَ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : أيُّ الأعمالِ أحبُّ إلى اللهِ ؟ قال : أدوَمُهاوإن قلَّ 

 

Artinya: Suatu hari Nabi Muhammad saw ditanya, “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah saw bersabda, “Yang paling kontinyu meskipun sedikit. (HR. Bukhari).

  1. Pemateri Tetap

Di masjid al-Karim Tretep, tercatat ada 4 pemateri yang selalu memberikan pengajian secara bergiliran, yaitu ust Sasmito, Ust Khusnan, Ust Junaidi dan ust Shalihin. Mereka menjadi tulangpunggung masjid. Merekalah yang selalu menghidupkan pengajian masjid. Dengan adanya pemateri tetap ini, ada kepastian dalam pengajian. Jika salah satu berhalanga, akan diserahkan kepada yang lain.

 

Adanya empat pemateri ini juga meringankan tugas. Dalam satu minggu, 1 ustadz bearti mengisi selama 2 kali saja. Selebihnya akan diisi oleh pemateri lain. Dengan demikian, pemateri tidak merasa terbebani.

 

  1. Manhaj yang terstruktur

Di sini satu orang pemateri hanya mengisi satu tema saja. Misalnya ust Junaidi hanya mengisi syarah hadis. Ia hanya megang satu kitab untuk dia selesaikan. Satu pertemuan, belum tentu satu bab selesai. Maka materi akan bersambung di pertemuan mendatang.

 

  1. Keishlasan para asatids

Ini adalah faktor terpenting, yaitu keikhlasan ustad dalam menyebarkan ilmunya kepada para jamaah. Di masjid ini, para pemateri benar-benar mendapatkan gaji dari Allah semata. Meski ia sering mengisi pengajian, jamaah sama sekali tidak pernah memberikan imbalan materi. Ustadz ikhlas membimbing jamaah demi tersebarnya ilmu pengetahuan dan hanya berharap ridha Allah.

 

  1. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM)

SDM menjadi faktor penting. Tanpa adanya SDM, halaqah ilmiah ini akan sulit dijalankan. Di desa tretep, meskipun kampung kecil di lereng gunung Slamet dengan ketinggian sekitar 2500 meter, namun SDM cukup memadai. Tidak sedikit pemuda desa yang bisa baca kitab kuning. Jika orang tua tidak menyekolahkan anaknya ke jalur pendidikan formal, biasanya akan dipondokkan. Jadinya, meski tidak berijazah formal, ia tetap bisa membimbing masyarakat.

 

Sekelumit catatan di atas, barangkali bisa menjadi pelajaran bagi daerah lain untuk mengikuti agenda serupa. Makmurkanlah masjid. Jadikan masjid sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi jamaah. Jika kita tidak memulai, siapa lagi?

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open