Thursday, December 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mengapa Banyak Wanita Di Neraka?

Ust tanya, mengapa perempuan banyak masuk neraka? Terimakasih

 

Jawab:

Terdapat dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء

Artinya:  “Aku diperlihatkan di surga. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Sesungguhnya banyak sebab mengapa perempuan lebih banyak masuk neraka, daibandingkan dengan laki-laki. Salah satunya adalah sikap perempuan yang mudah melupakan dan inkar terhadap perbuatan baik suami. Satu saja perbuatan suami yang tidak berkenan di hati istri, bisa menghapuskan seluruh kebaikan suami. Istri akan mengumpat suami, memarahinya dan menganggapnya tidak pernah berbuat baik apapun. Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad saw berikut ini.

أُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ ،  قَالُوا :  بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ :  بِكُفْرِهِنَّ ،  قِيلَ : يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ ، قَالَ :  يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya: “Saya diperlihatkan neraka. Saya tidak pernah melihat pemandangan seperti hari ini yang sangat mengerikan. Dan saya melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita. Mereka bertanya, ‘Kenapa wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, ‘Dikarenakan kekufurannya.’ Lalu ada yang berkata, ‘Apakah kufur kepada Allah?’ Beliau menjawab, ‘Kufur terhadap pasangannya, maksudnya adalah mengingkari kebaikannya. Jika Anda berbuat baik kepada salah seorang wanita sepanjang tahun, kemudian dia melihat Anda (sedikit ) kejelekan, maka dia akan mengatakan, ‘Saya tidak melihat kebaikan sedikitpun dari Anda.” (HR. Bukhari)

 

Padahal suami adalah kepala rumah tangga yang harus ditaati. Suami yang mempunyai kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga. Dalam mencari penghidupan, suami sering berada pada posisi yang sangat sulit, namun ia tidak ingin istri dan anak-anak mengetahui kondisinya. Air ata suami, adalah keringatnya. Suami akan tersenyum manakala melihat istri dan anak-anak bisa ikut tersenyum. Terkkait kepemimpinan ini, Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” [An-Nisaa’ : 34]

Terkait posisi suami dari istri, Rasulullah saw bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, hormatilah suami. Jangan mudah kufur atas apa yang diberikan suami, Jangan mudah mengumpatnya, menghina dan merendahkannya. Karena sura istri, bergantung kepada ridha suami, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut ini:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi)

Renungkan juga sabda Rasulullah saw berikut ini:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Wallahu a’lam

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open