Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Mencari Harta Benda Hukumnya Wajib

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa Islam memberikan tempat yang tinggi terhadap harta benda. Islam memberikan perlindungan penuh terhadap harta benda yang dititipkan Allah kepada manusia. Pelanggaran apapun yang menyebabkan harta orang lain rusak atau binasa, maka orang bersangkutan akan mendapatkan hukuman, baik dengan cara mengganti, kurungan, potong tangan atau bahkan hukuman salib. Fariasi hukuman seseorang akibat melakukan pelanggaran terhadap harta kepemilikan orang lain, bergantung pada jenis pelanggaran.

Berbagai hukuman tadi, memberikan indikasi kepada kita bahwa harta memang sangat penting dan mempunyai posisi istimewa dalam Islam. Bukan saja terkait dengan kepemilikan, Islam juga menghimbau umatnya untuk mencari dan harta dengan memberikan berbagai rambu-rambu tertentu sehingga harta yang ia dapatkan benar-benar harta yang halal lagi baik.

Mencari harta, bukanlah sesuatu yang dicela dalam Islam. Banyak sekali ayat al-Quran dan hadis nabi yang menerangkan mengenai perintah Allah tersebut kepada manusia. Perhatikan beberapa ayat berikut ini:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah”. [Al Jumu’ah : 10]

usai shalat jumat, allah tidak memerintahkan insan mukmin untuk duduk di masjid dan berdzikir atau memabca al-Quran, namun Allah memerintahkan kepada orang-orang Islam untuk bertebaran ke muka bumi. Bukan untuk bermain, namun untuk mencari rezki dan menggali harta. Jadi mencari harta adalah perintah dan merupakan sebuah kewajiban.

Perintah artinya bahwa setiap insan muslim harus menalankan apa yang diperintahkan Allah tersebut. Jika ia mampu mencari harta, namun kemudian berpangku tangan dan tidak ada usaha untuk mencarinya, maka ia telah berdosa. Ia telah mengabaikan perintah Allah dalam al-Quran.
Kaedah ushul:
الامر يفيد الوجوب الا اذا صرفته قرينة تدل علي خلافه

Kata perintah, dalam ushul fikih bermakna wajib dan harus dijalankan. Kecuali njika dalam kata perintah itu, terdapat indikasi yang memalingkan makna ayat terhadap arti lainnya.

Perhatikan kata perintah pada ayat lain berikut ini:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
“(Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah kalian dari rezkinya”.

ayat di atas menggunakan lafal فَانْتَشِرُوا yang maknanya bertebaran. Karena konteksnya adalah jamaah kaum muslimin yang sangat banyak, selepas shalat jumat. Dari sini, mereka semua diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi, mencari titik-titik luang yang dapat menjadi sarana untukmencari harta.

Sementara di ayat ini, menggunakan lafal فَامْشُوا yang maknanya berjalanlah kaian semua. Menurut tafsir Ibnu Katsirt bahwa maknanya, Allah memerintahkan kepada manusia, untuk berjalan-jalan, kemana saja tanpa diikat oleh lafat tertentu. Berjalan bisa ke pasar, kantor, sawah, dan lain sebagainya guna mencari rizki Allah. Oleh karenanya, di akhir ayat disebutkan lafal وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ. Artinya, bahwa kita bukan sekadar berjalan untuk bertamasya, namun untuk mencari rezki yang telah disediakan Allah bagi umat manusia.

Perintahh mencari harta, bukan saja diotujukankepada manusia biasa. Para nabi pun, meski kedudukan mereka sangat istimewa di hadapan Allah, namun Allah tidak memberikan rezki begitu saja. Allah tetap memerintahkan mereka untuk bekerja mencari nafkah.

Allah langsung memberikan contoh ril, bagaimana para nabi sebagai manusia termulya dan terdekat dengan Allah, juga mencari bekerja untuk mencari nafkah. Perhatikan firman Allah berikut ini:

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلاً يَاجِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertashbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan”. [Saba` : 10-11].

Menurut Ibnu Katsir bahwa Allah Ta’ala ayat tersebut memberikan berita kepada kita mengenai kenikmatan yang diberikanNya kepada hamba dan RasulNya, Daud as. Beliau diberi kenikmatan berupa kenabian dan kerajaan yang kokoh, tentara berjumlah besar dengan peralatan yang lengkap. Nabi daud juga suara yang indah sehingga jika dia bertashbih, maka bertashbihlah bersamanya gunung-gunung yang kokoh, berhentilah burung-burung yang beterbangan untuk mendengarkan dan turut serta bertashbih dengan berbagai ragam bahasa. [Tafsir Ibnu Katsir III/578-579, Cet. Darus Salam]

Kita lihat ayat di atas:

وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ
dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya.
Itu artinya bahwa Allah memerintahkan nabi Daud untuk bekerja keras membuat baju besi. Ini bukan perkara mudah, namun butuh konsentrasi, kepiawaian, ketrampilan dan tenaga berat. Untuk menguatkan ayat di atas, perhatikan hadis Nabi berikut ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَة َو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: كَانَ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ لاَيَأْكُلُ اِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Adalah Nabi Daud tidak makan, melainkan dari hasil usahanya sendiri”. (HR Bukhari).

Perhatikan hadis-hadis nabi berikut ini:
وَعَنْ اَبِى عَبْدِاللهِ الزُّبَيْرِبنِ العَوَّامِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ :لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.
Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. (HR Bukhari).

وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ:لأَنْ يَحْتَطِبَ اَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ اَحَدًا فَيُعْطِيَهُ اَو يَمْنَعَهُ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak”. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa-i)

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَوْ اَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ, تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.
Dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
.

5-عَنْ اَبِى هُرَيْرَة وَ عَنْ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: كَانَ زَكَرِيَّا عَلَيْهِ السَّلامُ نَجَّارًا.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nabi Zakaria Alaihissalam adalah seorang tukang kayu”. [HR Muslim dan Ahmad).

عَنِ المِقْدَامِ بنِ مَعْدِيكَرِبَِ عَنْ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ:مَا اَكَلَ اَحَدٌطَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ, وَاِنَّ نَبِيَّّ اللهِ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ.

Dari Miqdam bin Ma’dikariba Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, ia berkata: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”. (HR Bukhari)

Hadis-hadis di atas menujukkan mengenai kemuliaan manusia yang makan dengan tangannya sendiri. Ihadis itu juga menunjukkan mengenai perintah Nabi Muhammad saw kepada umatnyauntuk selalu bekerja keras mencari karunia Allah di muka bumi. Rasul tidak menunjukkan jenis profesi apa yang harus dilakukan, namun memberikan keleluasaan kepada kita agar mencari harta sebisa mungkin dengan cara apapun sesui dengan kadar dan kemampuan kita masing-masing. Wallahu a’lam

————————————————————–
Wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung.
SMS konfirmasi transfer: +201120004899
web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open