Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Menanti Peran Muhammadiyah Di Kerajaan Mataram Islam

gfsah

Muhammadiyah berdiri di kauman, kawasan yang sangat erat kaitannya dengan keraton Yogyakarta. Berdirinya Muhammadiyah juga banyak didukung oleh Sultan. Artinya sejak awal hubungan antara Muhammadiyah dengan kerajaan Mataram sangat baik. Bahkan K.H Ahmad Dahlan pernah menjadi  khatib Amin di Masjid Gedhe.  Hubungan seperti ini akan sangat baik jika terus diputuk hingga saat ini.

 

 

Memang benar bahwa di dalam keraton masih banyak TBC-nya. Justru ini menjadi ladang dakwah yang baik. Tentu berdakwah di Keraton tidak langsung dengan memberantas TBC itu. Apalagi banyak simbul keraton yang sangat berkaitan dengan TBC. Pendekatan dakwah bisa melalui pendekatan budaya dengan menekankan pada ibadah dan akhlak. Pelan-pelan kemudian masuk ke dalam ranah tauhid ini.

 

 

Jika dari awal dikedepankan aspek tauhid, kemungkinan besar akan mental. Dakwah bisa dilakukan dengan cara melakukan pengajian selapannan atau dengan cara lain yang dianggap efektif. Jika bisa kontinyu, akan sangat mewarnai kehidupan keberagamaan dalam keraton Yogyakarta.

 

 

Bisa saja sesekali disinggung mengenai kajian sejarah terkait dengan fungsi para sultan terdahulu yang mengukir sejarah keemasan kerajaan Islam. Bagaimana Islam waktu itu bisa mewarnai kehidupan bermasyarakat sehingga mampu mewujudkan peradaban Islam yang gemilang. Intinya, fungsi sultan sangat sesuai dengan gelar sebagai panotogomo itu. Siapa tau dengan ini, bisa membuka wacana untuk kemudian keraton Yogya bisa menonjolkan identitas sebagai kesultanan Islam dan pada akhirnya nanti dapat menerapkan Islam secara kaffah.

 

 

Saat ini, saya tidak tau sejauh mana hubungan Muhammadiyah dengan keraton Yogya. Kesan sementara, Muhammadiyah seperti “membiarkan” keraton dan tidak ada upaya untuk mencoba berdakwah ke dalam lingkup keraton. Padahal keraton adalah simbul pemerintahan Islam.

 

Muhamamdiyah masuk ke keraton tidak akan dicurigai mempunyai intrik politik. Tidak mungkin Muhammadiyah berambisi menjadi raja. Bukankah raja sudah ada aturan yang jelas? Jadi Muhamamadiyah murni untuk berdakwah saja.

 

 

Sekarang satu dari simbul kerajaan itu sudah hilang. Gelar khalifatullah yang merupakan simbul Islam telah dihapus. Jangan sampai simbul keislaman dari kerajaan Mataram ini semakin pudar dan hilang. Harus ada yang mengawal agar keberagamaan dan keislaman di keraton Yogya tetap eksis. Di sini Muhammadiyah harus berperan..  Bukankah Yogya itu merupakan ibu kotanya Muhammadiyah? Jika bukan Muhammadiyah, lalu siapa lagi? Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

seven − 7 =

*