Tuesday, December 18, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Memngapa Tidak Menggunakan Hermeneutika?

 

Terkati dengan sistem pembacaan teks, baik model ijtihad semantik maupun maqashidi, mempunyai karakteristik dan porsi ijtihad masing-masing. Keduanya saling melengkapi dan tidak saling menegasikan. Menggunakan salah satu dari dua model ijtihad tadi, akan mengakibatkan pada kepincangan dalam sistem ijtihad.

 

Belakangan muncul berbagai pemikiran yang menyatakan bahwa pembacaan teks yang ada dalam turas Islam telah ketinggalan jaman. Metodologi maupun tafsir, sangat dipengaruhi oleh sosiosultural pada masanya. Ushul fikih dan turas Islam secara umum, terbentuk sesuai dengan kebutuhan waktu itu.

Kondisi saat ini jelas berbeda dengan sosiokultural pada masa lalu. Oleh karenanya, metodologi pembacaan teks juga harus mengikuti perkembangan zaman. Saat ini muncul pembacaan teks yang lebih modern dan sesuai dengan konteks kekinian, yaitu model pembacaan teks hermeneutika seperti yang muncul di dunia Barat.

 

Hanya saja, pernyataan di atas banyak mengandung kelemahan dan kerancuan. Banyak ha yang menjadikan hermeneutika tidak sesuai dengan pembacaan teks kitab suci. Berikut di antara kelemahan tersebut:

 

  1. Kajian teks hermeneutika muncul di Barat yang sesuai dengan karakter bahasa, struktur kebahasaan dan sosiokultural mereka. Ini berbeda dengan karakter kebahasaan dan sosiokultural pada bahasa Arab. Dengan pertimbangan tersebut maka tidak serta merta system pembacaan teks mereka tersebut dapat diterapkan untuk pembacaan kitab suci al-Quran yang berbahasa Arab.
    Setiap bahasa mempunyai karakter sendiri-sendiri baik dari sisi stuktur, gramatikal, morfologi, sejarah dan lain sebagainya. Kajian kebahasaan harus menyesuaikan sesuai dengan bahasa bersangkutan. Jika kita memaksakan perbedaan tersebut, maka yang terjadi adalah kekacauan dan kerancuan. Makna yang sesungguhnya dicari dari sebuah teks, justru akan rancu. Makna akan kehilangan kontekstualitasnya, bahkan bisa meluluhkan makna sesungguhnya yang diinginkan teks.
  2. Salah satu factor munculnya kajian hermeneutika, karena adanya problem di bible yang sulit untuk dipecahkan. Banyak hal yang terjadi kontradiksi antar teks sehingga mereka harus memecahkan berbagai persoalan tersebut agar bisa kontekstual. Apalagi antar satu bible dengan yang lainnya sering banyak terjadi perbedaan mencolok. Ha yang tidak pernah terjadi dalalam al-Quran sama sekali. Sejak zaman nabi hingga saat ini, tidak pernah ada problem dalam system pembacaan teks. Di manapun berada, al-Quran selalu sama. Terbukti, para ulama dari dulu hingga sekarang, selalu mampu memnggali berbagai makna yang terkandung dalam nas al-Quran, dengantetap berbekal pada metodologi yang muncul dari Rahim umat Islam sendiri. Para ulama kita selalu mendapatkan keserasian dalam kitab suci dan pembaruan pemikiran.
  3. Terkait Bibel ini, terjadi persoalan pada sisi orisinalitasnya. Maka untuk mengkaji mengenai bibe mana yang paling orisinil., perlu kajian sejarah mendalam. Ini terkait dengan variasi Bibel yang sangat banyak di dunia ini. lagi-lagi, ini berbeda dengan al-Quran yang tidak pernag mengalami perubahan. Terjemahan al-Quran sendiri, harus disertai dengan teks Arabnya dan tidak diperkenankan satu mushaf al-Quran diterjemahkan dengan bahasa tepatan secara independen tanpa menyertai teks asli. Ini untuk menjaga orisinalitas al-Quran hingga akhir zaman.
  4. Memang benar bahwa dalam kajian al-Quran ada asbabunnuzul. Hanya saja, ia sekadar sebagai alat bantu untuk memahami kandungan al-Quran dan bukan sebagai sarana untuk mengetahui mengenai sisi orisinalitas al-Quran. Itu karena al-Quran sifatnya azal dan tidak pernah terpengaruh oleh ruang waktu. Al-Quran adalah kalamullah yang merupakan bagian dari sifat Allah yang azal.
  5. Hermeneutika sendiri banyak varian dan aliran. Ada yang bertumpu pada pembaca, teks, atau bahkan konteks. Ini terkait dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang punya otoritas mutlak terhadap kebenaran teks? Pembacakah, teks, sosiokulutral teks, ataukah sejarah dari teksitu sendiri? Lagi-lagi, ini tidak sesuai dengan pembacaan kitab suci al-Quran. Ada kaedah tertentu yang biasa digunakan oleh ulama ushul untuk menentukan mengenai “otoritas kebenaran” itu.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open