Saturday, January 23, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Membudayakan Halaqah Ilmiyah di Muhammadiyah

fdsa

 

Jika kita masuk ke ke dalam masjid al-Azhar Cairo, kita akan melihat bayak ruangan dalam masjid. Ruangan-ruangan itu menjadi kelas-kelas untuk proses belajar mengajar. Berbagai keilmuan Islam di ajarkan di sana, mulai dari hadis, tafsir, ulumul Quran, ilmu kalam, mantiq, fikih, ushul fikih dan lain sebagainya. Jadwalnya pun cukup padat, yaitu dari bakda subuh hingga bakda shalat isya. Kapan pun kita masuk ke dalam masjid, maka kita akan mendapai halaqah ilmiyah ada di sana.

 

Para pengampu halaqah ilmiyah itu adalah para profesor di al-Azhar. Santri yang belajar di sana berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka berlomba-lomba untuk menggali ilmu agama. Mereka belajar dengan tekun dan khusyu. Yang ada di benak mereka hanya satu, mendapatkan ilmu dari para guru sebanyak mungkin.

 

Sebaliknya, para profesor itu juga mengajar dengan penuh ikhlas. Mereka memperlakukan para santri seperti mereka memperlakukan kepada anak-anak mereka sendiri. Para guru itu mengajar, menerangkan dan berdialog dengan para santri dengan semangat keilmuan yang tinggi.

 

Suasana di sana sungguh mengagungkan. Suasana keilmuan yang sangat terasa. Setiap santri yang masuk ke dalam masjid, sudah membawa buku diktat yang akan diajarkan oleh para guru. sementara itu, di sekeliling masjid, terdapat ratusam toko buku yang menjual buku-buku keislaman dengan harga yang cukup terjangkau.

 

Biasanya para santri akan memilih bidang keilmuan sesuai yang mereka minati. Karena jadwal pengajaran sudah jelas, jadi para santri sangat mudah untuk mengatur waktu mereka supaya materi yang diinginkan tidak berbenturan dengan jadwal yang lainnya.

 

Sebagian guru, ada yang melakukan pengajaran secara intensif. Mereka mengatur jadwal tertentu, menerima murid dengan jumlah tertentu dan mengkhatamkan kitab dalam waktu yang telah ditentukan. Meski sistem pengajaran tidak formal, namun di akhir pengajaran ada ujian. Bagi yang lulus, berhak untuk mendapatkan ijazah (sanad ilmu) dari para guru.

 

Dengan semangat keilmuan yang luar biasa itu, tidak heran jika al-Azhar melahirkan banyak ulama besar berkelas internasional. Sebut saja misalnya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Muhamamd Abduh, Abdul Halim Mahmud, Dr. Ramadhan Al-Buthi, Dr.  Hasan Syafi dan lain sebagainya. Deretan ulama tadi telah menuliskan puluhan buku yang memberikan sumbangan besar dalam khazanah pemikiran Islam kontemporer. Para ulama itu, telah mengusulkan berbagai solusi alternatif terhadap persoalan umat Islam di seluruh dunia.

 

Azhar tidak kekurangan ulama. Di sini gudangnya para kyai. Pakar tafsir, pakar ushul fikih, pakar hadis, pakar fikih perbandinga, pakar sejarah Islam, filsafat, kalam dan lain sebagainya ada di sini. Bukan hanya ada di universitas yang merupakan institusi resmi dan formal, namun juga ada di masjid Azhar. Siapapun bisa menimba ilmu di masjid ini tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

 

Alangkah indahnya jika Muhammadiyah sebagai organisasi keislaman mempunyai pusat keilmuan seperti al-Azhar. Alangkah indahnya jika Muhammadiyah mempunyai lumbung pengkaderan ulama seperti yang ada di lembaga al-Azhar. Alangkah indahnya jika Muhammadiyah mempunyai satu proyek percontohan; universitas Islam sebagai lembaga formal dan masjid sebagai lembaga non formal untuk mencetak para ulama.

 

Muhammadiyah adalah organisasi Ilsam, bukan organisasi sosial kemasyarakatan biasa. Kata-kata Islam yang ada di belakang Muhammadiyah, membuat organisasi ini mempunyai tanggungjawab keilmuan keislaman besar. Banyak persoalan umat yang harus diselesaikan oleh Muhammadiyah. Persoalan yang membutuhkan solusi dari ulama yang mempunyai pemahaman mendalam terhadap kitab suci al-Quran sekaligus memahami realitas dan kebutuhan umat.

 

Negeri ini sangat sekuler. Tontonan TV banyak yang merusak moral. Sistem ekonomi liberal, demokrasi,  tatanan masyarakat yang sangat hidones, individuakisme yang sudah menjadi budaya, korupsi dan masih banyak lagi persoalan umat.

 

Dari sisi lain, sistem keilmuan juga sekuler. Tidak hanya keilmuan pada umumnya, namun juga keilmuan yang diajarkan di bangku sekolahan. Materi-materi yang diberikan kepada siswa lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Siswa rusak. Free seks menjadi budaya. Narkoba menyebar ke mana-mana sampai ke tingkat Sekolah Dasar. Benar-benar kerusakan luar biasa.

 

Muhammadiyah butuh ulama yang bisa memberikan jawaban atas segala persoalan umat itu. Memang benar bahwa kita butuh aksi, bukan hanya teori. Namun aksi tanpa didasari oleh ilmu pengetahuan yang memadai bisa berjalan tanpa arah yang jelas. Butuh ulama yang mampu menelurkan solusi persoalan umat sesuai dengan ijtihad mereka dari al-Quran dan sunnah nabi.

 

Sangat ironis jika sebuah organisasi Islam mengeluh kekurangan ulama. Sangat menyedihkan jika organisasi lslam  terbesar ke dua di Indonesia, krisis kader ulama. Sangat memilukan jika organisasi Islam ini, sangat sulit mencari dai untuk sekadar bisa menghidupkan pengajian ranting.

 

Jika halaqah ilmiyah redup, jangan disalahkan ketika ada kader yang loncat ke tempat lain. Mereka butuh ilmu. Mereka ingin mencari materi-materi keislaman. Namun di Muhammadiyah sendiri kering. Pada akhirnya, mereka terpuaskan dengan halaqah ilmiyah di rumah orang lain. Wallahu a’lam

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

15 − 13 =

*